Selasa, 09 Desember 2014

Wayang Sandosa

                                                             

                    Wayang Sandosa inggih punika salah satunggiling jinis [[wayang]] ingkang dipun gagas dening para Sarjana ASKI Surakarta (Sakmenika ISI). Mujudaken wayang alternatif kanggé jawab kamajenganing jaman lan narik kawigatènipun generasi mudha supados mudheng lan remen dhumateng kasenian wayang.
Wayang Sandosa bènten pergelaranipun kaliyan [[wayang kulit Purwa]]. Wayang Sandosa mboten mawi Kelir limrah nanging nganggé "Layar Lebar" kados déné layar tancep. Dalangipun kathah lan nyolahaken wayang kanthi cara jumeneng lan mlajeng ngiwa nengen. Ingkang angucap sanès dalangipun nanging swanten tokoh wayang dipun Dubbing déning tiyang-tiyang [[Teater]].

Iringan mawi gamelan kanthi garapan énggal. Déné laminipun pertunjukan ngantos 1,5 jam. Wangun wayangipun mèh sami kaliyan wayang kulit purwa, namung wonten sapérangan ingkang dipun kembangaken, utaminipun bab tatahan langkung prasaja tur wiyar, jalaran dipun alap bayangan utawi wewayanganipun.
Dalang Wayang Sandosa wonten wingking layar déné pamirsa wonten sangajenging layar. Wayang Sandosa mawi tèknik tata lampu sakcekapipun kanggé ngasilaken ayang-ayang ingkang dipun pikajengaken. Wayang Sandosa mawi naskah lan sutradara saha penyusun iringan.
Lakon ingkang sampun dipun péntasaken antawisipun "SUKRASRANA", Arjuna Wiwaha, Duryudana Gugur lan sanesipun. Wayang Sandosa sampun nate derek FFI (Festival Film Indonesia) hing Bandung antawis Tahun 1991. Lan péntas perdhana hing pinten-pinten kitha.
 
Nanging sakmenika mboten namung ISI ingkang ngembangaken, wonten Jakarta ugi dipun kembangaken dening exs mahasiswa ISI ingkang wonten [[Jakarta]] ingkang dipun rintis dening [[Dalang muda]] Nanang Hape. Paraga Dalang antawisipun Sri Rahayu Setyowati, Bambang Asmoro, Kiki Dunung, Irwan Riyadi, Sambowo Agus Heriyanto lan sanesipun, ingkang naté pentas wonten Philipina nalika [[Festiva]]l Wayang ASEAN.

Senin, 24 November 2014

MENGENAL RUWATAN

                                      MENGENAL RUWATAN

( Upacara Tradisi Jawa )
Ruwatan Murwakala (Murwatkala)
Ritual tradisional ini dilaksanakan dengan pergelaran Wayang Kulit dengan cerita Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek. Dalam cerita wayang, konon Kala yang putra salah kedaden (berasal dari kama, mani, Bathara Guru yang tumpah ke laut, karena saat orgasme didorong Bathari Uma) dan menjadi raksasa jahat, memang diberi hak memangsa manusia yang termasuk kategori sukerta. Sukerta, atau Sukarta, artinya tindakan yang baik atau dicintai. Sukerta dalam cerita Murwakala adalah anak (atau anak-anak) yang sangat dicintai orangtuanya. Keselamatan dan kebahagiaannya sangat diperhatikan orang-tuanya karena mereka termasuk dalam golongan Sukerta.
Duapuluh lima (25) macam Sukerta, antara lain
1. Ontang-anting : anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung.
2. Unting-unting : anak perempuan tunggal dalam keluarga.
3. Gedhana-gedhini : dua anak dalam keluarga, laki-laki dan perempuan.
4. Uger-uger lawang : dua anak laki-laki dalam keluarga.
5. Kembar sepasang: dua anak perempuan dalam keluarga.
6. Pendhawa : lima anak laki-laki dalam keluarga.
7. Ngayomi : lima anak perempuan dalam keluarga.
8. Julungwangi : anak lahir pada saat matahari terbenam.
9. Pangayam-ayam : anak lahir saat tengah hari.
Termasuk juga dalam daftar Sukerta, mereka yang dianggap melakukan kesalahan karena kejadian berikut.
1. Menjatuhkan dandang, ketika menanak nasi.
2. Mematahkan gandhik, alat pemipis jamu.
Mereka yang masuk dalam daftar Sukerta harus diruwat dengan Ruwatan Murwakala supaya tidak menjadi mangsa Kala. Upacara ini dianggap sangat sakral, sehingga harus dilakukan dengan cermat.
Kisah Murwakala
Syahdan, di suatu sore yang indah, Bathara Guru dan sang istri Dewi Uma melanglang buana di antariksa (sight seeing mengelilingi jagat raya) dengan menunggang Lembu Andini. Pemandangan saat itu sungguh menakjubkan. Segalanya terlihat begitu indah. Bathara Guru pun terkesima melihat kecantikan sang Dewi. Di bawah siraman semburat jingga cahaya surya sore itu, Dewi Uma nampak begitu menawan. Paling tidak dalam pandangan Bathara Guru, sang suami tercinta. Tak pelak lagi, berahi Guru pun bangkit hingga ke ubun-ubun dan serta-merta mengajak sang istri untuk bercinta. Kendati heah heeh, sebagai istri yang sadar lingkungan, Dewi Uma mencoba menolak secara halus karena ini bukanlah saat yang tepat. Apalagi di awang-awang, tempat terbuka seperti itu. Namun apadaya, Bathara Guru yang sudah berada dalam suasana berahi memaksakan kehendaknya. Dengan sedikit menjambak rambut sang istri, terjadilah hubungan cinta tersebut. Menjelang Guru mencapai puncak, Dewi Uma mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukan Guru yang penuh gejolak nafsu. Akibatnya, kamabuah cinta sang Guru tumpah ke dalam lautan, dan menjelma jadi raksasa besar yang dinamakan Kala. Jadi, Kala adalah satu produk yang salah, dan lantaran kesalahan itu, meskipun anak Dewa-Dewi, Kala tumbuh menjadi raksasa sangat jahat, yang selalu ingin memangsa daging manusia.
Bathara Guru ayahnya, yang pembawaannya memang agak grusa-grusu, memberi izin kepadanya untuk memangsa orang-orang sukerta. Akan tetapi, setelah dibicarakan dengan Bathara Narada, patihnya, Guru menyadari bahwa santapan untuk sang Kala akan terlalu banyak. Bathara Guru kemudian menulis sebuah mantra, lafazh, di dada Kala. Ketentuannya, siapa saja yang dapat membaca mantra tersebut oleh Kala harus dianggap sebagai ayahnya (maksudnya ayah si Kala itu, pen.), meskipun orang itu masih kanak-kanak.
Ternyata hanya sedikit orang yang mengetahui dan bisa membaca mantra di dada Kala. Kurban yang menjadi mangsa Kala masih cukup banyak. Tak kurang akal, Bathara Guru menemukan kiatnya. Lalu memutuskan turun ke dunia, menyamar sebagai dalang dengan nama Ki Dalang Kandhabuwana. Kala pun menyerah pada Ki Dalang, dan dia diperintah tinggal di hutan Krendhawahana. Kala setuju dan tunduk, tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diangkat anak oleh Ki Dalang. Mereka itu para sukerta yang telah menjalani Ruwatan Murwakala.

Kala memohon diberkati dengan Santi Puja Mantra, Ki Dalang pun mengabulkan lalu memandikannya dengan air dan bunga-bunga. Sebelum pergi ke hutan, Kala minta bekal sesaji berupa alat-alat pertanian dan hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan sebangsanya. Masih ditambah kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar-bantal dan selimut, yang akan dipakai selama perjalanannya menuju ke hutan. Sepeninggal Kala, Ki Dalang memerintahkan kepada Bima dan Bathara Bayu untuk mengusir semua bala tentara Kala dengan menggunakan pecut dan sapu lidi yang diikat dengan tali perak.
Menutup ritual Ruwatan Murwakala, Ki Dalang memotong rambut para sukerta dan memandikan mereka dengan air yang dicampur beberapa macam bunga.
Hikmah dari Ruwatan Murwakala
1. Menurut kisah, Kala adalah produk dari kama-salah, yaitu mani yang salah. Jadi semacam pemberitahuan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, pada waktu dan tempat yang layak. Dan tidak hanya menonjolkan nafsu badaniah, sehingga akan membuahkan anak yang wataknya kurang baik.
2. Bekal dan sesaji yang diminta Kala itu merupakan barang-barang kebutuhan hidup manusia, yang juga melambangkan cinta kepada Ibu Pertiwi, dengan segala hasil buminya.
Hal-hal penting dalam ritual Ruwatan
1. Dalang yang membawakan lakon Ruwatan Murwakala harus memenuhi kriteria dalang yang bijak, mumpuni dalam seni pedalangan. Secara simbolis, dia akan menjadi ayah angkat para sukerta.
2. Upacaranya harus dilakukan dengan baik, cermat dan benar. Para sukerta dan keluarganya hendaknya bisa terlibat dan menghayati dengan perasaan mendalam. Dengan demikian akan mengerti dan memahami makna kidung, berupa tembang dan mantra suci, yang dibawakan Ki Dalang. Dalam upacara ini, lazimnya para sukerta dan orangtuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Sebelum pergelaran Wayang kulit, para sukerta mohon restu dari orangtuanya masing-masing. Selama pergelaran Wayang kulit yang akan dilanjutkan dengan ritual, pemotongan rambut dan mandi suci, para sukerta mengenakan pakaian kain putih. Secara mistis, putih menunjukkan kesucian.
3. Air suci untuk memandikan para sukerta berasal dari 7 (tujuh) sumber air.
Catatan: Sukerta yang diruwat tidak hanya anak-anak. Dapat juga orang dewasa yang dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian berat, sehingga membuat orang lain menderita. Zaman dulu, yang dianggap kelalaian atau kesalahan berat antara lain
a. Orang yang menggulingkan dandang ketika menanak nasi.
b. Orang yang mematahkan gandhik, batu penggiling jamu.
Kata Kala, harfiah berarti waktu. Ada waktu baik dan ada waktu jelek bagi setiap orang. Bila seseorang menderita karena berbagai alasan, seperti musibah kecelakaan, sakit, berbuat salah dan seterusnya, dikatakan orang itu mengalami waktu jelek atau nahas, naas. Setiap orang akan selalu berusaha membuang sial, menghindari waktu naas, dan berusaha hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan.
Dewasa ini, lebih-lebih dalam periode krisis multidimensi ini, banyak orang dewasa merasa tidak aman. Karena itu semakin banyak saja orang ikut dalam Ruwatan, agar tidak menjadi sasaran Kala dengan membuang nasib jelek atau sial.
Bathara Guru sebagai penguasa Jagat Raya, turun ke dunia menyamar sebagai dalang untuk memberitahu para sukerta dan orang-orang yang lain, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi mangsa Bathara Kala.
Nama Kandhabuwana (kandha artinya mengatakan, memberi nasihat, buwana berarti dunia), menyiratkan siapa yang menuruti nasihat Ki Dalang akan selamat dan bahagia. Itulah latar belakang ritual Ruwatan Murwakala.
Ruwatan Murwakala dapat dilakukan secara pribadi, terutama bagi kalangan mampu, atau secara bersama-sama karena biayanya cukup tinggi. Lazimnya diselenggarakan kalangan yayasan atau paguyuban pencinta budaya Jawa. Di antaranya adalah:
a. Institut Javanologi Panunggalan, Yogyakarta, setiap tahun menyelenggarakan Ruwatan Murwakala. Upacara ini tidak hanya diikuti para sukerta dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara (Eropa, Asia, Amerika, dsb.)
b. Institut Pudya Raja, pimpinan Prof. DR. Ki Wisnoe Wardhana, juga menyelenggarakan upacara ruwatan serupa.
Dari segi bahasa, akar kata sukerta adalah suker, atau kotor. Logikanya, sesuatu yang kotor harus dibersihkan. Dalam artian ini, manusia yang kotor harus disucikan atau diruwat. Ruwat artinya menghapus atau meniadakan kekuasaan, maksudnya menghapus atau membebaskan dari kutukan nasib jelek/sial, musibah dan malapetaka.
Beberapa contoh ritual Ruwatan
Ruwatan di Karaton Surakarta
Pada 17 Januari 1998, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Karaton Surakarta diadakan Ruwatan Murwakala. Sri Sunan Paku Buwana XII sendiri termasuk yang diruwat, bersama dengan 32 putra-putrinya dan 17 putra-putri menantu. Dalam sejarah dinasti Mataram pada abad ke XVII, Sultan Agung juga pernah diruwat ketika masih menjadi Putra Mahkota.
Upacara Ruwatan Murwakala di Karaton Surakarta dimulai jam sembilan pagi. Sebagai lambang kesucian, para sukerta mengenakan pakaian putih seperti Brahmana. Diawali dengan acara sungkeman untuk menghormat Sri Sunan di nDalem Ageng Prabasuyasa, pergelaran wayang kulit Murwakala dengan dalang senior Ki Panut Darmoko dari Nganjuk, Jawa Timur, dilangsungkan di Sasana Handrawina.
Ruwatan berjalan dengan sangat khusyuk. Seluruh keluarga istana telah bersiap diri dalam keadaan suci lahir dan batin. Semua tamu pun diwajibkan mengenakan pakaian kejawen lengkap. Hadirin mengikuti jalannya upacara dengan khidmat dan selama waktu itu tidak diperkenankan makan, minum atau merokok.
Perangkat gamelan Karaton yang bernama Kyai Manis dan Manis Rengga mengiringi pertunjukan wayang kulit. Berbagai macam sesaji digelar di sekitar layar. Rambut para Sukerta satu demi satu dipotong sedikit oleh Ki Dalang. Permandian suci dengan air bunga juga dilakukan oleh Ki Dalang. Sinuwun sendiri rambutnya dipotong dan dimandikan oleh bibinya, GRAyu Bratadiningrat, yang putri dari Sri Paku Buwana X.
Maksud Ruwatan Karaton Surakarta
Merasa sangat puas dan lega setelah menggelar upacara Ruwatan tersebut, Sinuwun berterima kasih kepada Ki Dalang Panut Darmoko yang telah melaksanakan ruwatan dengan selamat dan sempurna. Sedang Ki Dalang pun merasa mendapat kehormatan yang tinggi karena untuk pertama kalinya dipercaya melaksanakan ruwatan di Karaton. Dalang-dalang kondang lain di Solo tidak berani melakukan upacara yang istimewa dan sakral ini.
Kepada media Sinuwun berkata: Ruwatan ini diselenggarakan demi keselamatan keluarga, Karaton beserta seluruh isinya. Diharapkan, peristiwa ini akan memberi dampak yang baik kepada bangsa dan negara, yang tengah mengalami krisis ekonomi. Ruwatan ini tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa, ini semata-mata pelaksanaan wangsit untuk membebaskan kita dari pengaruh sukerta yang membahayakan.
Komentar Sri Mangkunagara IX
Pemangku Pura Mangkunagaran, KGPAA Mangkunagara IX menyambut positif Ruwatan Karaton Surakarta, dan yakin ruwatan tersebut secara spiritual akan memberi dampak positif bagi banyak hal, termasuk kepada Pura Mangkunagaran dan negara ini, karena ruwatan adalah manifestasi doa dan permohonan kita kepada Tuhan Yang Mahasuci. Ruwatan Abdi Dalem Karaton Surakarta
Dalam bulan Sura banyak diadakan upacara Ruwatan. Paguyuban Abdi Dalem Karaton Surakarta cabang Prambanan, pada Sura tahun 2000 lalu juga melakukan upacara ruwatan untuk para anggotanya.
Ruwatan dipimpin oleh KRHT Kusumo Tanoyo dengan melakukan doa di depan sesaji berupa air yang dicampur beberapa bunga. Kemudian dengan khidmat dilantunkan Tembang Dandanggula, yang intinya merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Makakuasa agar memberkahi seluruh Abdi Dalem, sehingga mereka hidup dengan selamat, bahagia dan sejahtera
Semua pengikut upacara dibersihkan dengan air suci, tidak seluruh badan melainkan hanya kepala, lalu sedikit rambut juga dipotong. Air yang telah dimantrai itu dipercaya mengandung daya supranatural kuat yang mempu mengobati segala penyakit, fisik maupun kejiwaan. Ruwatan ini tidak serumit Ruwatan Murwakala, yang kaya dengan nilai-nilai budaya, namun cukup penting untuk mempererat silaturahmi di antara para Abdi Dalem Karaton Surakarta.
Ruwatan Seniman-Seniwati Yogyakarta
Bagi para Seniman di Yogyakarta, ritual tradisional Ruwatan tetap dianggap penting dan perlu diadakan. Dipimpin dalang sepuh Ki Timbul Hadiprayitno, ruwatan yang mereka selenggarakan diikuti banyak artis terkenal. Untuk mereka, tujuan pokok ruwatan adalah supaya dapat hidup selamat, tenang dan berkecukupan. Juga untuk menunjukkan kesadaran mereka dalam melestarikan budaya tradisional.
Ruwatan Pejuang Yogyakarta
Dalam memperingati peristiwa Yogya Kembali dari agresor Belanda pada 1950, para veteran lanjut usia, bersama-sama para pejuang kemerdekaan dari generasi yang lebih muda, juga mengadakan upacara Ruwatan. Pada malam hari 29 Juni 1999, bertempat di bekas kediaman resmi Jendral Sudirman (alm.), Panglima Angkatan Perang RI pertama, 9 pejuang yang mewakili rekan-rekannya dimandikan air kembang dalam ritual yang dipimpin Ki Dalang Timbul Hadiprayitno, yang juga menyiapkan semua kebutuhan sesaji. Dengan berpakaian putih, ke-9 pejuang dengan setia mengikuti proses ritual yang berjalan khusyuk: mendengarkan kidung suci, tembang dan mantra yang dibawakan oleh Ki Dalang, lalu dimandikan air kembang dan dipotong rambutnya.
Mengapa para veteran melakukan ruwatan?
Ruwatan, demikian mereka tegaskan, adalah permohonan mereka kepada Tuhan agar hidup selamat, dan dengan berkah Tuhan mereka akan melanjutkan perjuangan mencapai tujuan asasi dari kemerdekaan, yakni masyarakat adil dan makmur di Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Mereka berharap, ada perbaikan dalam semua aspek kehidupan. Keadilan dan kebenaran segera terwujud sehingga bisa dirasakan rakyat kecil.

Acara Ruwatan yang berakhir sesudah tengah malam itu dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit dengan cerita Wisanggeni Gugat hingga pagi hari. Dr. Humar Atmaja, salah seorang penyelenggara yang mewakili generasi penerus, menyatakan: Wisanggeni Gugat sesuai dengan harapan generasi muda. Wisanggeni, putra Arjuna dari Dewi Dersanala, adalah figur generasi muda yang suka bicara apa adanya, berani berjuang untuk keadilan dan kebenaran. Tidak takut kepada siapapun, termasuk para dewa dan orang-orang tua yang berbuat salah.
Mantra dalam ritual Ruwatan Murwakala
lafazh yang berdaya supranatural sangat kuat sehingga tujuan ritual tercapai. Paling tidak ada 2 (dua) mantram sakti yang dilantunkan selama Ruwatan. Diantaranya Rajah Kalacakra dan Caraka Balik.

Sabtu, 22 November 2014

“PENGENDHANG GAMBEN”


                Sebelum menjadi ‘dhalang’, Ki Nartosabdho (KNS, 1925-1985) dikenal sebagai ‘pengendhang’ ulung. Keulungan dalam memainkan ‘kendhang’ terbentuk karena bakat, latihan, kesediaan untuk belajar, dan pengalaman beliau selama malang melintang dalam jagad hiburan Jawa melalui panggung pertunjukan ‘kethoprak’, ‘wayang wong’, dan ‘wayang purwa’. Sebelum bergabung dengan Ngesthi Pandhawa pada 1945, KNS telah menjadi ‘pengendhang’ dari beberapa kelompok ‘kethoprak’ dan ‘wayang wong’, serta pernah menjadi ‘pengendhang’ Ki Pujo Sumarto (Kuwasa Klaten) yang sekaligus dianggap sebagai guru beliau dalam bidang ‘pedhalangan’. Dengan pengalaman yang dimilikinya itu, tidak mengherankan apabila KNS menguasai ‘garap kendhangan’ untuk ‘klenengan’, ‘beksan’, ‘kethoprakan’, dan ‘wayangan’. Dalam perkembangan, beliau juga menguasai ‘garap kendhangan’ ‘Jawa Timuran’ (Surabayan dan Banyuwangen), ‘Pasundhan’, dan Bali.
Apabila kita sering mendengarkan kaset rekaman ‘gendhing-gendhing Jawa’ yang disajikan oleh Paguyuban Karawitan Jawi Condhong Raos di bawah pimpinan KNS (catatan: tidak semua rekaman ‘gendhing-gendhing’ oleh Condhong Raos KNS bertindak sebagai ‘pengendhang’), kita dapat mengidentifikasi tentang ciri ‘kendhangan’ beliau, antara lain: ‘kebukan resik’, sehingga menghasilkan suara kendhang yang ‘bening’; trampil dengan kekayaan ragam ‘sekaran’ yang khas; permainan tempo yang memikat; dinamis dengan aksentuasi-aksentuasi pada bagian tertentu; volume keras, tetapi tidak ‘mbrebegi’. Kesan ini sangat kuat terutama apabila kita mendengarkan rekaman-rekaman produksi Lokananta pada akhir 1960an dan awal 1970an.
Tentang teknik memainkan ‘kendhang’ ini saya pernah mendapatkan pelajaran secara langsung dari beliau, khususnya tentang cara menghasilkan bunyi ‘kendhang’ yang ‘bening’. Dalam sebuah kesempatan beliau juga pernah memberikan nasihat: “Le, yen ngendhang kuwi kudu nggleleng, ning sing nggleleng kendhangane, dudu pengendhange”. Nasihat ini merepresentasikan cara KNS memainkan ‘kendhang’. Badan harus ‘ndegeg’ (tegak). Badan dan lengan beliau tidak banyak bergerak dalam memainkan ‘kendhang’ baik ‘batangan’, ‘ciblon’, ‘wayangan’, karena yang digerakkan adalah sebatas bagian pergelangan tangan dan jari-jarinya; bagian lengan tidak banyak bergerak. Almarhum pelawak Basiyo, dalam sebuah rekaman bersama KNS, menyatakan “drijine bisa mrithili dhewe-dhewe”. Namun, anehnya mampu menghasilkan ‘kebukan’ dengan volume yang keras, tetapi tidak memekakkan telinga, apalagi kalau menggunakan ‘kendhang’ kesayangan beliau yang telah mengantar melambungkan namanya, yang kemudian diberi nama “Kyai Rejeki”. ‘Kendhangan’ beliau benar-benar ‘nggleleng’, berbeda dari ‘kendhangan’ para ‘pengendhang’ lainnya. ‘Kendhangan’ beliau kemudian menjadi ‘kiblat’ bagi para ‘pengendhang’ generasi berikutnya. Bagi saya pribadi, mendengarkan ‘kendhangan’ KNS, merangsang tubuh untuk bergerak menari, bahkan menjadikan saya ‘mesam-mesem’ sendiri seperti orang gila, karena memukau hati dan menjadi hiburan tersendiri. Bagi para penari “Ngesthi Pandhawa”, ‘kendhangan’ KNS mampu membimbing gerak-gerak tari yang harus dibawakan dan dapat membangkitkan semangat bagi para penari.
Masyarakat umum mengenal kehebatan permainan ‘kendhang’ KNS antara lain melalui ‘lelagon’ karya cipta beliau yang berjudul “Swara Suling”. Dalam repertoar kreasi itu KNS mampu memainkan delapan atau sembilan ‘kendhang’ yang ditabuhnya dengan penuh ‘gusto’. Permainan ‘kendhang’ beliau khususnya dalam mengiringi “Lelagon Swara Suling” telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pertunjukan “Wayang Wong Ngesthi Pandhawa” di Semarang pada pertengahan dasawarsa 1950an sampai 1960an. Tentang permainan ‘kendhang’ untuk “Swara Suling” ini, para pembaca dapat mendengarkan melalui rekaman kaset produksi Lokananta Surakarta, bertajuk “Ibu Pretiwi” dan “Lumbung Desa”. Melalui rekaman kaset itu, kiranya kita dapat bersepakat terhadap pendapat, bahwa KNS adalah “Pengendhang Gamben” (“Pengendhang” Ulung, “Pengendhang” Maut). Bagaimana ekspresi KNS ketika menjadi ‘pengendhang’, pembaca yang budiman dapat melihat foto koleksi saya yang merupakan tinggalan dari KNS di bawah ini. KNS tampak serius memainkan ‘kendhang’ dan memperhatikan adegan dalam sebuah pertunjukan di “Ngesthi Pandhawa”. Sayang, tidak ada keterangan tentang titimangsa dan peristiwa yang dapat digunakan untuk memberikan informasi lebih banyak tentang foto itu. (Dhanang Respati Puguh, Gubug Sedangmulyo Semarang)

Jumat, 21 November 2014

SEMAR KUNING

                                                         


Kerajaan Dwarawati tengah berbenah. Di sudut-sudut kota, dihiasi umbul-umbul beraneka warna. Di gerbang-gerbang masuk perkampungan, terlihat indah dan bau harum bunga-bunga yang dirangkai oleh warga. Rakyat Dwarawati sedang bergembira menyambut kabar dari kerajaan tentang akan dilangsungkannya perkawinan antara putri raja yaitu Dewi Siti Sendari dengan putra Amarta Raden Abimanyu, putra dari Arjuna dan Sumbadra.

Panggung-panggung hiburan didirikan di tengah lapang, dipersiapkan untuk pesta pertunjukan hiburan bagi rakyat yang turut bergembira atas perkawinan itu. Orang-orang dari desa terlihat berbondong-bondong memasuki gerbang kotaraja dari segala arah. Tujuannya, pertama ingin turut menyaksikan perkawinan putri raja mereka, yang terkenal sangat cantik jelita, dengan seorang yang tak kalah terkenalnya karena begitu rupawan wajahnya dan begitu kesohor kesaktiannya, yaitu Abimanyu. Tujuan kedua tentu saja adalah menyaksikan dan ingin menikmati hiburan-hiburan yang jarang mereka saksikan di kampung-kampung mereka.


Sementara itu di kerajaan, Prabu Kresna tengah menerima kunjungan kakaknya Prabu Baladewa raja Mandura yang berkenan datang atas undangannya. Setelah di jemput di pintu istana, maka segera didampinginya Kakaknya itu menuju ruang pasewakan agung. Disana telah menanti Samba, putra Kresna dan Setyaki, senapati Dwarawati yang juga adalah adik iparnya. Segera mereka berdua menghaturkan sembah kepada dua raja kakak beradik itu dan diterima dengan senang hati.

Setelah duduk di kursi yang telah dipersiapkan untuknya maka Baladewa berkata :
“Yayi Kresna, ada apakah kiranya dinda memanggil Kanda untuk datang ke Dwarawati ini secara tiba-tiba. Tentu ada sesuatu yang mendesak dan penting sehingga utusanmupun tidak menyebutkan apa yang menjadi maksud dari undanganmu itu”

“Sebelumnya saya mohon maaf kepada Kanda atas undangan yang mendadak ini. Hal ini saya lakukan sebagai hormat dan bakti saya kepada Kanda Prabu, selaku saudara tua yang harus di hormati dan dijunjung tinggi. Perlu saya kabarkan kepada Kanda, bahwa kerajaan Dwarawati akan punya hajat besar, yaitu menyelenggarakan pesta perkawinan Siti Sendari dengan Abimanyu”

“Oooo pantas tadi sewaktu Kanda melewati alun-alun keadaan begitu ramai, rupanya akan ada pesta besar di Dwarawati ini. Tapi mengapa begitu mendadak dan terburu-buru Yayi. Dan … sebentar … sebentar Yayi …. terus sekarang ada dimana besan, adikku Arjuna, dan Pandawa lainnya. Apakah mereka juga sudah ada disini ?”

“Dimas Arjuna sudah tiga bulan tinggalkan ksatriannya, Kanda. Tidak ada satupun yang tahu dimana keberadaannya sekarang, bahkan saudara-saudaranya Pandawa pun tidak tahu”



“Tapi bila besan tidak datang, bukankah itu hal yang tercela Yayi. Apalagi dimas Arjuna pastinya masih hidup walaupun keberadaannya tidak diketahui, bukankah dapat diupayakan untuk dicari Yayi ?”

“Saya sudah menyebarkan undangan ke berbagai penjuru dunia Kanda, bahkan sekarang sebagian sudah datang di Dwarawati ini. Kalau menunggu datangnya dinda Arjuna, tentu saya malu menghadapi para raja-raja tersebut untuk membatalkan sementara pesta perkawinan ini”

“Upacara pengantinnya kapan sih Yayi ?”

“Hari ini juga Kanda”

“Waduh … waduh … Kakangmu baru diberi tahu sekarang ya, keterlaluan kamu Yayi. Tapi tidak apa-apa, kalau malu karena sudah tersebarnya undangan kamu jadikan alasan untuk tetap melangsungkan perkawinan ini, boleh pilih, pilih malu karena mengundurkan hari perkawinan atau malu karena tidak genapnya lelakon karena dinda Arjuna tidak menghadiri pernikahan putranya.”



“Kanda Prabu, seluruh dunia sudah tahu bahwa Kresna adalah penjelmaan Bathara Wisnu, penguasa dan pengelola jagat ini. Oleh karenanya apapun pilihan yang saya lakukan, maka jagad tidak akan menyalahkanku. Dinda tidak akan menemui celaka, kalaupun menikahkan Siti Sendari dengan Abimanyu tanpa adanya dinda Arjuna, karna jagad ada dibawah kendaliku. Bahkan para dewapun segan terhadap Kresna”

“Eeeee lha dalah, jagad wasesane bathara Yayi, kok sampai begitu pikiranmu. Memang semua orang tahu bahwa yayi adalah titisan Wisnu. Kalau jalan pikiranmu begitu, berarti kamu membunuh orang juga tidak berdosa. Begitu Yayi ?”

“Benar Kakang Prabu, adikmu ini kalau berkehendak membunuh seseorang dan kemudian dilaksanakannya, tidak akan menerima dosa walau setitik. Sebab jagad tidak akan berani menyalahkanku, para dewapun demikian”


“Ooooo … yo wis ra dadi ngapa. Terserah kamu saja Yayi. Kembali ke acara perkawinan anakku Siti Sendari dan Abimanyu, apakah mereka berdua telah siap. Bolehkah saya tahu atau bertemu mereka berdua. Kanda yang menghadap mereka atau mereka yang dipanggil kesini Yayi ?”

“Kanda Prabu mbok jangan begitu, bagaimanapun Kanda Prabu adalah orang tua yang harus dijunjung tinggi dan dihormati. Tentu mereka berdua yang akan menghadap Kanda Prabu. Samba, tolong panggil mereka berdua kesini !”

Tergopoh-gopoh Samba segera menuju ke istana belakang, tempat dimana kudua mempelai tengah mempersiapkan diri menjalani upacara pengantin.

Dan tak lama kemudian kedua calon pengantin itu telah memasuki ruang pasewakan agung dan menghadap Prabu Kresna dan Prabu Baladewa. Setelah menghaturkan sembah maka mereka berdua duduk di tempat yang telah disediakan.


“Anakku Siti Sendari, apa ya kamu telah mantab akan menikah dengan adikmu Abimanyu itu ?”

“Wo Prabu, ananda telah mantab lahir batin menikah dengan Kanda Abimanyu. Ananda tidak akan sudi menikah dengan pria lain selain Kanda Abimanyu. Hati ananda telah dipenuhi oleh cintanya, tak mungkin berbagi pada yang lain”


“Wah lega rasanya Uwo mendengar prasetyamu ini anakku. He … Abimanyu, apa ya kamupun telah tetap niatmu mengawini mbakayumu ini ?”

“Sudah Wo Prabu Baladewa, niyat hamba sudah tidak dapat dipecah lagi, tekad hamba sudah utuh untuk merengkuh mbakyu Siti Sendari menjadi istri hamba. Cinta dan kasih hambapun telah hamba serahkan utuh kepadanya”

‘Lha bagaimana dengan Ramamu yayi Arjuna yang tidak hadir di upacara nanti. Apakah kamu juga sudah rela ?”
“Semua telah hamba serahkan kepada kebijaksanaan Rama Prabu Kresna”

“Oooo ya sudah kalau begitu. Dasar aku saja yang tidak tahu diri. Lha wong kalian semua sudah mantab dan telah siap untuk melangsungkan perkawinan kok malah dipersoalkan. Ya sudah … aku orang tua hanya bisa memberimu restu semoga semua berjalan lancar dan kalian menemukan kebahagiaan dalam perkawinan nanti”


Hingga saat telah tiba, acara perkawinan pun dimulai. Perkawinan agung antara dua putra raja yang begitu elok rupa, laksana bidadara dan bidadri yang turun dari kahyangan, ngejawantah. Semua orang yang melihat begitu terpesona akan kecantikan dan kegagahan kedua mempelai.

Temanten kakung pekik ing warna, nora sangsaya surem nanging malah sangsaya dados lan kabregasanipun, dhasar tetesing kusuma rembesing madu, dharahing atapa wijiling wong andanawarih, susila anoraga, tansah nengenaken dhateng kasubratan, mila datan elok lan mokal kalamun ingkang ginayuh tansah kasembadan.
Temanten putri sulistya ing warna, kawistingal hambabar teja mandamaya, sesolahe milangoni lelewane hanuju prana, dhasar busana edi ingkang karengga.

Astane penganten putri bakuh kukuh gegondhelan astane ingkang kakung, pepuletan kekanthen asta paribasan renggang gula kumepyur pulut, sasat ora kena ginggang pinara sasra. Lamun cinandra kadya widadara widadari saking swargaloka tumurun ing ngarcapada, njujug aneng Dwarawati.

Para mudha myang taruna, jejaka sarta kenya warara, kang pirsa thukul osiking driya, dhuh kapan ya, bisa dadi manten kaya ngana ? Para sepuh kang wus sepi hawa, jroning nala anglocita, mbesuk kapan ya bisa mantu amahargya putra kaya ing dinten punika. Nanging keladuking kandha kang ngaya wara, uga ana priya tuwa kang anggadhuh angkara murka, mbesuk kapan ya bisa nggandheng kenya sesisih lima.

Para tamu kakung miwah putri sami suka jroning ati, tumut mangayubagya lan paring puja-puji pangastuti, mugi risang temanten kekalih tansah manggih basuki, raharja tulus widada, tan ana sakara-kara, atut runtut pindha mimi kang nembe hamintuna, pindha Dewi Ratih lan Bethara Kamajaya, tansah sakiyeg saeka praya, sayuk rukun anggayuh geyonganing kayun, padha kersane padha karepe, kaya suruh lumah lawan kurebe, sinawang seje rupane yen ginigit padha rasane.

>>

Sesaat setelah acara purna dan para tamu undangan sementara menikmati suguhan makanan nan melimpah dan mewah, muncul sosok gemuk pendek berwajah jelek berjalan megal megol menuju pasewakan agung langsung menghadap Prabu Kresna. Kemudian sosok itu berucap

“Hamba mohon maaf nDaara, tidak dipanggil berani menghadap”

“He Kakang Semar, kedatanganmu yang tanpa diminta memang mengganggu pembicaraan para priyagung. Harusnya Kakang tidak boleh datang begitu saja, menyela pembicaraan dan memasuki ruangan agung para priyagung ini” ketus Prabu Kresna menimpali ucapan Semar

Merasa tidak enak terhadap ucapan kasar adiknya Kresna, Prabu Baladewa mebalas ucapan Semar dengan ramah

“Eeee tidak apa-apa Kakang Semar, kami senang atas kedatangan dan kehadiranmu. Hayo mari bergabung dengan kami”

Belum selesai Baladewa berujar, Kresna telah menimpali lagi

“Kalau Kakang Semar lapar atau haus kebetulan sekali, ini banyak tersedia makan dan minum bekas dari para priyagung. Tentu Kakang Semar cukup bisa menikmati”

“Eeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito kula datang kesini tidak untuk mencari makan dan minum, apalagi makanan dan minuman bekas para raja kaum terhormat. Kalau soal lapar dan haus Semar sudah tidak memiliki. Bukankah sejak dulu saya telah dikaruniai wahyu delapan perkara nDara. Maukah nDara mendengar cerita tentang itu ?”

“Tidak perlu Kakang Semar menceritakan disini, menggangu pembicaraan para tamu disini saja”
Kembali Baladewa dengan cepat menukas

“Ooo iya Kakang Semar, saya jadi pengin tahu bagaimana ceritanya itu. Ayo ceritakan biar saya yang mendengarkan”


 “Oooo lae lae … nDara Baladewa, awal mula saya jadi abdi adalah kepada Resi Manumanasa. Saat dia akan mukswa, saya merasakan kehilangan hingga menangis sedih seraya bertanya kelak siap yang akan menemaniku. Sabda sakti Sang Manumanasa kemudian memberikan teman seorang Bagong dari bayanganku sendiri, wewayangan kang bebagongan. Sejak saat itu pula saya diberi wahyu delapan perkara yang selamanya melekat pada diriku. Semar jadi tahan lapar, tidak mengenal mengantuk, tidak pernah sedih, tidak merasakan dingin karna dayanya air, tidak bisa terbakar oleh sebab api, terpenuhi segala apa yang diharap, bisa menjadi apa saja sesuai keinginan dan ditakdirkan berumur panjang. Jadi kalau perkara makan dan minum saja, walaupun serba mewah dan enak, kula mboten kepengin nDara. Maksud kedatangan saya kemari adalah menyampaikan turut berbahagia atas perkawinan nDara Abimanyu. Niat saya sih juga mau nyumbang.”

Prabu Kresna kemudian merespon

“Apa yang akan kau sumbang Kakang Semar, pastinya engkau tidak mempunyai apa-apa. Pakaianmu saja lusuh kumel dan telah compang-camping, jadi mana mampu kamu nyumbang kepada seorang raja”

“Oooo .. bukan berwujud harta nDara yang akan saya sumbang. Lha kalau harta yang saya berikan, ibaratnya menggarami lautan to, dan negri Dwarawati sudah begitu kaya sehingga apalah artinya sumbangan seorang Semar. Saya hanya ingin menyumbang sebuah tembang kepada nDara Kresna. Sebuah tembang Sarkara”

“Apa maksudnya itu Kakang Semar ?”

“Sarkara itu berarti gula, atau madu. Jadi saya ingin nembang Dandanggula nDara Baladewa”

“Ya sudah kalau begitu, cepat engkau lakukan Kakang Semar” ujar Kresna dengan penuh ketidaksabaran karena merasa terganggu.

“Kula mulai nembang nggih nDara

Kacarita nagri dwarawati
tan prabeda kaywangan kaendran
kabeh bab upa rengganes
dasar ratu misuwur
kalokengrat lumahing bumi
yaiku prabu kresna
titising hyang wisnu
nyata ratu binatara
kabeh dewa tresna pada asih tintrim
pinter sakbarang karya”

Prabu Kresna yang dituju tembang itu merasa bangga sehingga melupakan kejengkelannya sejenak. Senyumnya mengambang.

“Yah … memang begitulah keadaannya Kakang Semar. Engakau sunguh pintar merangkai kata-kata dan mengungkap fakta”
“Ada kelanjutannya nDara

Mung cacate ratu dwarawati
nadyan pinter kurang wicaksana
tega kalawan kadange
denira amemantu
abimanyu siti sendari
datan tinunggu besan
kang nedeng wulangun
ngendelke dupeh kuwasa
wus tetela lamun ta kekurang adil
asor samaning titah”

Hening suasana ruangan agung itu setelah Semar menyelesaikan tembang itu. Tak ada yang berani mengeluarkan suara mengomentari tembang yang telah Semar lantunkan. Baladewa diam tiada bergerak. Samba begitu tegang melihat suasana mencekam dan hanya melirik melihat bagaimana reaksi ayahnya Prabu Kresna. Setyakipun hanya menunduk kelu, begitupun Sang pengantin baru, Abimanyu, hanya diam gelisah menunggu apa yang bakal terjadi.

Sementara itu, merah padam muka Kresna terlihat

Sigro muntab lir kinetab, duko yayah sinipi
jojo bang mawingo wengis
Netro kocak ngondar-andir
Idepnya mangala cakra
mrebabak wadananira pindha kembang wora-wari bang

“Abimanyu !!!”


“Inggih, sendika dawuh rama prabu”

“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Dwarawati setelah resmi menjadi suami dari anakku Siti Sendari tadi. Dan kamu adalah calon seorang raja dan juga senapati agung. Apa yang bakal engkau lakukan bila orang tuamu yang adalah seorang raja negara besar, dihina oleh orang kecil kaum sudra papa di depanku ini ?”

Gundah Abimanyu mendengar perintah mertuanya itu. Hatinya bercabang antara menuruti perintah mertuanya, atau menuruti kata hatinya yang begitu sayang kepada pamomongnya sedari kecil, Semar. Di pandanginya sosok yang begitu lekat di hatinya itu. Sosok yang bisa dikatakan berantakan untuk ukuran manusia normal, tubuh cebol bulat, hitam dan jelek serta wajahnyapun tak berbentuk menarik, namun begitu disayanginya seperti halnya ayahnya dan para leluhurnya. Dari resi Manumanasa, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata sampai ke ayahnya Arjuna, menempatkan Semar di posisi yang terhormat.

“Abimanyuuuu !!!” kembali suara Kresna penuh tekanan terdengar.

Suara yang tidak keras namun karena hanya satu-satunya yang muncul dikeheningan suasana, terdengar bagai halilintar di telinga Abimanyu.

Dan tak ingin mendengar perintah untuk kali ketiga, Abimanyu segera menghampiri Semar dan setelah dekat meludahi kuncung Semar serta wajahnya.

Kembali keheningan tercipta diruangan besar itu. Kali ini lebih mencekam. Semua orang yang ada dan menyaksikan peristiwa itu, tertegun dan hampir tak percaya bahwa itu nyata.

Ada sekilas senyum yang tersungging di bibir Kresna, namun sebaliknya wajah Baladewa mengeras, mata membesar dan memerah pertanda kemarahan mulai naik di kepala.

Sementara, Semar dalam diam mengelap dengan punggung tangan bekas air ludah yang melekat di kuncung serta wajahnya. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya rona kesedihan yang tiba-tiba muncul menggelayuti wajah dan tubuhnya. Kemudian dipandanginya singgasana Kresna seraya berkata :

“Nggih … tidak apa-apa … tidak mengapa saya diperlakukan seperti ini oleh semua nDara yang ada di sini. Biarlah … semua ini saya terima. Saya menyadari bahwa saya hanyalah orang kecil, wong cilik ongklak angklik, tentu tidak akan ada orang yang sudi menolong. Semar ada untuk mengingatkan yang lupa. Terus apa gunanya saya menunggu orang yang sudah tidak mau diingatkan dan sudah tidak memiliki nurani lagi. Saya mohon pamit nDara”

Hampir semua mata yang memandang kepergian Semar menyimpan duka. Begitupun Abimanyu, serasa mimpi bahwa dia telah melakukan tindakan yang luar biasa tercela itu. Tak percaya bahwa dirinya sudah menghina orang yang begitu dikasihi dan mengasihinya. Jiwanya merintih hatinya hancur.

Pun demikian dengan Baladewa, begitu sosok Semar lenyap dari pandangan, segera beranjak dan menghampiri Abimanyu. Dengan kemarahan meluap, di tudingkannya tangan ke arah Abimanyu.

“He … Abimanyu, apa yang telah kau lakukan tadi. Teganya kau menghina Kakang Semar begitu rendah. Tidakkah kau ingat, siapa Kakang Semar itu. Bahkan ayahmu Arjuna, kakekmu Pandudewanata, eyangmu Begawan Abiyasa sampai leluhur-leluhurmu begitu menghormati Kakang Semar dan menempatkannya dalam kedudukan yang mulia, dan tak mungkin menghinakan seperti apa yang tadi tlah kau lakukan. Uwamu tak mau campur tangan atas perbuatanmu tadi, terserah apa yang akan kamu lakukan lagi kelak. Terserah engkau mau berbuat apa, tapi ingat, sekali lagi engkau melakukan hal hina seperti itu, uwakmu ini yang akan menjadi lawanmu !!!”

Kemudian Baladewa membalikan badan dan kembali menghadap kepada Kresna. Dengan menurunkan suaranya, kembali dia berucap

“Yayi Prabu, Kanda kira sudah cukup keperluanku disini. Saya mohon pamit yayi, semoga tidak ada kejadian apa-apa setelah ini.”

“Matur nuwun Kanda Prabu atas kedatangannya, dan dinda tegaskan sekali lagi bahwa kejadian-kejadian tadi semuanya adalah tanggung jawab dinda pribadi. Yakinlah bahwa tidak akan ada apa-apa karena ada titisan Bathara Wisnu disini”

“Terserahlah apa katamu Yayi, aku mohon pamit !”


Dengan berjalan pelan Semar keluar dari istana Dwarawati menuju alun-alun. Disanalah anak-anaknya menunggu dia kembali. Dan benar saja, terlihat dari jauh Gareng Petruk dan Bagong ngawe-awe tangan memberi tanda keberadaannya. Sepertinya mereka telah selesai berkeliling menyaksikan keramaian di seputar alun-alun itu.

“Lha itu Ramane Semar sudah kelihatan, wah pasti membawa oleh-oleh makanan. Pastinya lezat-lezat lha wong yang punya hajat kan raja Dwarawati” Petruk langsung nrocos.

“He eh Truk, pasti juga Ramane Semar dibekali uang bayak oleh nDara Abimanyu. Kan ndara Abimanyu lagi hepi, jadi tentunya Ramane sebagai pamomongnya dapat limpahan rejeki. Betul nggak Mo” kata Gareng sambil membayangkan segera dapat membeli sarung baru sebagai ganti sarungnya yang sudah bolong dimuka dan di belakang.

“Kang Gareng dan Kang Petruk boleh berharap, tapi kelihatannya Rama Semar nggak bawa apa-apa tuh” kata Bagong kalem

“Boleh jadi makanannya nanti diantar ke sini oleh utusan dari istana” Petruk masih berharap

“Barangkali uangnya disembunyikan Rama di balik sarungnya itu” Garengpun masih percaya

“Kalau gitu, geledah saja sarungnya Rama Semar, kalau ada yang ganjel berarti itu kemungkinan uang, Kang Gareng” Bagong mencoba memberi solusi

“Lha kalau yang ganjel bukan uang, itu terus apa Gong”

“Ya tinggal dilihat no kenapa ganjel disitu”

“Kalau nggak boleh di lihat”

“Diintip atau kalau perlu dipegang aja”

“Ini pada ngapain sih kok malah ngurusin per-ganjel-an, Kang Gareng sama Bagong lihat nggak Ramane Semar lagi gimana gitu” ujar Petruk yang sedari tadi memperhatikan Ramanya.

“Kita lagi berseneng-seneng ria Ramane kelihatannya malah pasang wajah sedih, senyum pun tidak. Kok lain dari biasanya. Ada apa sih Mo, apa guyonan kami bertiga ini kurang berkenan di hati Rama ?”

Tak urung Gareng dan Bagong pun segera memandang Ramanya dengan lebih seksama. Terlihat memang wajah Semar begitu muram. Biasanya mendengar celotehan anak-anaknya, Semar tertawa-tawa senang atau minimal mesam-mesem sendiri. Ini tidak.

“Ada apa to Rama, kok terlihat muram begitu. Kalau seperti itu wajah Rama terlihat semakin jelek lho, wis elek tambah elek. Lihat Bagong itu Mo, selalu cuek dan hepi-hepi aja sehingga biar elek tapi pede aja seakan wajahnya menyerupai ndara Arjuna” seloroh Petruk mencoba menghibur Ramanya

“Toh kualitas seseorang tidak hanya diukur dari tampilan dan bungkusannya saja, begitu kan Kang Petruk. Nggak kayak Kang Gareng kemarin tuh, pengin pamer kalau punya sandangan banyak eee baju dan celananya dipakai kabeh. Sudah pakai beskap, blangkon-an, sarung dan kolornya masih dipakai pula. Kirain ada kondangan, eeee ternyata mau ke sawah, macul” Bagong tidak mau kalah

Mau tidak mau akhirnya hati Semar sedikit terhibur mendengar banyolan dan ledek-ledekan anak-anaknya tadi.
“Wis … wis … wis … tidak perlu saling mengejek. Sebenarnya Rama kalian ini memang lagi muram mengingat perlakuan ndara-ndara kalian di dalam istana tadi. Kalian sudah tahu kan, ndara Arjuna sedang tidak ada lha kok ndara Kresna tetap saja melangsungkan pernikahan Siti Sendari dengan Abimanyu. Rama kemudian mengingatkan ndara Kresna … eeee … kok malah marah dan kemudian menyuruh Abimanyu untuk melakukan sesuatu. Tahu nggak Le … apa yang kemudian Abimanyu lakukan. Dia kemudian meludahi kuncung dan muka Rama”

“nDara Abimanyu Mo !!!” Gareng mbengok berteriak

“Masak sih Mo, nDara Abimanyu begitu, apa Rama tidak menghindar” Petruk setengah mbengok

“Kalau saya jadi Rama, tak tadahi, tak tampung saja air ludah yang disemprotkan nDara Abimanyu. Kemudian tak kumpulin dan saya buntel di bawa pulang” ujar Bagong kalem

“Wis … wis … wis … anak-anakku kabeh, Rama sekarang lagi pengin sendiri nggak ingin kalian ganggu. Rama ingin berjalan mengikuti kata hati kemana kaki ini melangkah. Tolong kalian sekarang mencari dimana keberadaan nDara Arjuna dan wartakan semua yang terjadi disini kalau sudah ketemu. Jangan tanya sampai kapan dan kemana tujuan Ramamu. Nala Gareng, kamu sebagai yang tertua tolong pimpin adik-adikmu ya”

“Okelah kalau begitu Mo. Have a nice trip !”

“Itu bahasa apa Kang Gareng ?” Petruk bertanya

“Mosok gitu aja nggak tahu to Kang Petruk, itu bahasa Ngalengka artinya mudah-mudahan perjalanan Rama selamat, tak menemui arah melintang, tak terhalang macet di jalan, tak tergoda warung makan di pinggir jalan dan akhirnya sampai tujuan dengan sukses”

“Lha kok artinya panjang sekali to Gong padahal kata-katanya cuman sedikit” Petruk curiga

“Ya begitulah basa Ngalengko. Makanya jadi orang yang cerdas Kang !”

Nun jauh di selatan kerajaan Dwarawati, terdapat sebuah kerajaan yang cukup besar bernama Guwakancana, disebut pula Kutakarukmi. Rajanya seorang raksasa yang bergelar Prabu Dewaketuk dengan didampingi patih Kumbarananggo.

Sang raja tengah mengalami sakit. Sakit bukan sembarang sakit, melainkan tengah terpanah asmara. Sering melamun, tersenyum dan kadang tertawa-tawa sendiri membayangkan imajinasi akan kekasih hatinya. Gandrung tidak mengenal kasta, dikala cinta telah tertancap, siapapun merasakan indah dan perih akibatnya. Terasa indah pabila tersampaikan apa yang menjadi hasrat, walau itu hanya sesaat dalam mimpi ataupun rekayasa pikiran, terasa perih bila tak sesuai dengan harapan dan bayangan sang kekasih meninggalkan dirinya.

“Tih … Patih Kumbarananggo”

“Sendika dawuh Gusti”

“Kamu pernah sakit wuyung nggak Tih”

“Kalau sakit gayung belum pernah Gusti”

“Wuyung Tih … dudu gayung“

“Oooo kalau duyung saya pernah lihat Gusti”

“Wuyung Tih .. wuyung … jatuh cinta. Walah … punya patih kok pendengarannya kurang to”

“Ooo nggih Gusti mohon maaf. Memang beberapa hari ini kuping saya agak mbrengengeng begitu. Kalau jatuh cinta sudah pasti pernah Gusti. Malah beberapa kali, termasuk sama ibunya anak-anak saya itu”
“Elok tenan Tih .. sampai beberapa kali kamu jatuh cinta. Jadi sekarang istrimu berapa Tih ?”

“Ya cuman satu to Gusti”

“Lha kok cuman satu ?”

“Yang jadi cuman satu, yang lainnya cuman jatuh cinta tapi bertepuk sebelah tangan”

“Maksudnya gimana to Tih ?”

“Saya cinta setengah mati, yang saya jatuh cinta-i mati beneran”

“Lha kok bisa Tih ?”

“Nah itu yang saya herankan Gusti. Setiap yang saya sir kok tiba-tiba mati dadakan”

“Lha yang sekarang menjadi istrimu bagaimana Tih ?”

“Makanya setelah saya analisa dari berbagai sisi maka penyebabnya adalah saya mendekati perawan. Makanya saya kemudian mencoba ngepek janda Gusti, dan akhirnya bisa hidup sampai sekarang”

“Ha ha ha ha … Tih Patih. Aneh juga nasibmu itu Tih. Tapi kan istrimu sekarang biar janda tapi sulistya ing warna ta Tih ?”

”Menurut saya begitu Gusti, tapi menurut Togog dibawah standar Gusti, nggak tahu itu artinya apa”

“Ha ha ha ha … yo wis radadi ngapa.”

“Gusti tanya tanya begini apakah sedang jatuh cintakah ?”

“Benar Tih. Sudah tiga malam Gustimu ini mimpi yang sama. Bertemu dengan seorang putri yang bak bathari dari kahyangan. Biyuh … biyuh … biyuh Tih, uayune uleng-ulengan tenan Tih. Senyumnya luar biasa manisnya. Kalau tertawa Tih … duniapun ikut tertawa, dunia menjadi berseri. Kalau berjalan Tih .. hatiku ikut terbang. Setelah kutanya dia bernama Siti Sendari. Tahu nggak Tih kamu … putri mana Siti Sendari tadi ?”

“Halah … bilai iki. Apakah Gusti beberapa minggu yang lalu tidak di undang oleh Prabu Kresna raja Dwarawati ?”
“Diundang apa Tih, kan tidak ada utusan dari Dwarawati ta Tih”

“Beberapa minggu lalu, saya memperoleh informasi dari intel yang saya sebar bahwa Ratu Dwarawati punya hajat besar, yaitu mengawinkan Siti Sendari dengan Raden Abimanyu”

“We lha dalah … jagat wasesane bathara … lha kok ngene. Wis … tapi saya tidak peduli Tih. Mau sudah kawin atau belum, saya tetap tresna Tih. Sekarang terserah apa upayamu untuk mewujudkan keinginanku ini Tih”

“Wah berat itu Gusti”

“Tih !!! Kamu digaji sebagai patih itu tugasnya ya melaksanakan perintah Raja !”

“Oh ya .. nggih, akan saya kerjakan semaksimal mungkin. Akan saya minta Siti Sendari, kalau tidak bisa dengan cara halus, kalau perlu negri Dwarawati akan saya bumi hanguskan”

“Ha ha ha … begitu Tih itu baru Patih Kumbarananggo”

“Laksanakan secepatnya Tih”

“Siap Gusti, saya berangkat sekarang juga. Nyuwun pangestu Gusti !”

“Ya Tih … tak pangestuni”

>>

Hari itu juga, pasukan Guwakancana dengan prajurit-prajurit raksasanya menuju Dwarawati mengemban tugas raja mereka. Dan ketika sudah mencapai perbatasan Dwarawati, hal tersebut diketahui oleh pasukan Dwarawati dibawah pimpinan Senapati Setyaki. Segera pertempuran antara prajurit Dwarawati dan Guwakancana terjadi.


Pertarungan antara Setyaki dan Patih Kumbarananggo pun berlangsung seru. Namun ternyata patih Guwakancana memiliki kesaktian yang luar biasa. Setyaki dalam tekanan. Para prajuritnyapun mempunyai nasib sama, mulai mundur teratur akibat desakan pasukan raksasa yang beringas.

Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba dari angkasa muncul seorang satria yang langsung menyerang para prajurit raksasa Guwakancana. Pasukan raksasa yang sebelumnya diatas angin, mendapat serangan bak angin topan dari satria tadi, seketika kocar-kacir. Setelah itu satria tadi segera menghampiri Patih Kumbarananggo dan menyerangnya dengan trengginas. Setyaki yang sudah berkeringat dingin, melihat satria itu seketika tersenyum senang dan segera memperoleh tenaga kedua untuk membantu prajurit Dwarawati menyerang prajurit-prajurit raksasa Guwakancana.

Kedudukan sekarang berubah, gantian prajurit Guwakancana yang terdesak, begitupun Patih Kumbarananggo. Dia mulai terdesak oleh olah kridanya satria itu. Dan akhirnya berteriak memberi aba-aba kepada prajuritnya untuk mundur. Tergopoh-gopoh prajurit-prajurit Guwakancana mundur menjauhi prajurit Dwarawati.

“Gatotkaca ! Terima kasih engkau telah membantu pamanmu ini melawan Patih Kumbarananggo dari Guwakancana”

“Sudah menjadi tugas kewajibanku Paman untuk membantu Dwarawati”

“Kalau begitu, ayo ikut pamanmu ke Dwarawati untuk menghadap Prabu Kresna”

“Sendika Paman”


Sosok pendek, bulat, hitam dan berwajah suram itu berjalan pelan sendiri di tengah hutan belantara gung liwang liwung.

Ya sosok itu adalah Semar yang tengah membawa jiwa gundah dan lara. Berjalan tanpa arah sekehendak kaki melangkah. Meskipun sendirian di hutan nan angker dan banyak dihuni oleh binatang-binatang buas, namun anehnya tiada yang sanggup mendekat apalagi menyentuh untuk mengganggu tubuh sosok itu. Bahkan singa, harimau, serigala sampai jin setan perayangan yang berkeliaran disekitar hutan itu, terdiam dan hanya memandang sosok itu dengan pandangan penuh hormat.

Ya … jiwa minulya itu adalah Nayataka, naya adalah wajah, rona, ulat (basa jawa) dan taka adalah mati. Wajah kematian yang menggambarkan bahwa pemiliknya telah mencapai taraf mengenal dan telah siap mati kapanpun. Bahwa kematian adalah wajib adanya karena nyawa adalah milik Sang Maha Kuasa.

Ya … jiwa minulya itu adalah Nayabadra atau badranaya, naya adalah ulat, badra adalah bulan. Sang pemilik wajahnya bersinar bak rembulan. Terang dan meneduhkan bagi sesiapa yang memandangnya. Menentramkan yang bersapa dan berdekatan dengannya.

Sosok Semar adalah penggambaran manusia dan Tuhannya, antara penuh kekurangan dengan kesempurnaan. Semar adalah seorang lelaki karena bagian kepalanya menyerupai laki-laki, namun payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya memiliki kuncung layaknya anak-anak, namun tlah memutih seperti orang tua. Bibirnya slalu tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan, namun matanya selalu basah oleh tangis kesedihan. Semar adalah kita, yang sering tertawa namun kerap pula menitikan air mata lara, adakalanya bersikap kekanak-kanakan namun kerap pula bertindak bijaksana. Semar adalah kita, yang dalam diri bersemayam kekurangan, cacat dan jauh dari sempurna. Dan bila kita menyadarinya dan berupaya tuk mengurangi kekurangan dan mengedepankan kebaikan maka Allah Yang Maha Sempurna dapat berkenan meyertai jiwa dan raga kita.

Seraya berjalan pelan, Semar lirih mendendangkan sebuah lagu


Bocah Bajang nggiring angin
anawu banyu segara
ngon-ingone kebo dhungkul
sa sisih sapi gumarang


Bojah bajang menggiring angin
Menguras air lautan
Peliharaannya kerbau bodoh
Beriringan dengan sapi gumarang

Seolah Semar mewartakan kepada seluruh isi hutan belantara itu, mengabarkan kepada seluruh penghuni dunia, bahwa manusia dikaruniai kelemahan yang ada pada wujud seekor kerbau, namun di sisi lain juga memiliki kelebihan layaknya sapi gumarang yang cerdas dan bertanduk tajam. Dan untuk gapai restu Ilahi haruslah diupayakan mengharmoniskan antara sifat yang serba kurang, lemah dan cacat di satu sisi dan sifat yang serba sempurna di sisi yang lain, manusia membutuhkan perjuangan panjang, sepanjang umur manusia itu sendiri, seperti bocah bajang nggiring angin dan nawu segara, menggiring angin dan menguras lautan, tiada pernah kan selesai.


Semar mendendangkan begitu lirih
Semar melantunkannya sepenuh hati
Semar menghayati makna yang tersirat dengan khitmat
Semar berdendang lirih
Semar merunduk khusyu
Dan kemudian tangannya memelintir kuncungnya

Seketika …………..


Laksana bom nuklir meledak, dentamnya mengguncang kahyangan
Para penghuninya begitu terkejut digunjang gempa tiba-tiba
Para dewa dewi bertanya apa yang terjadi
Para batara batari segera ingin tahu siapa yang mampu menciptakan guncangan dahsyat ini
Geger kahyangan !!!

Dan segera Batara Endra, Batara Brahma dan Batara Bayu melesat menuju dunia. Didekati oleh mereka cahaya yang benderang di tengah hutan belantara. Dan disana tlah berdiri Semar … ya Batara Ismaya …


Semar adalah dewa nyarira jalma
Semar adalah kakandangane Batara Ismaya

Sesampai di hadapan Semar, maka seketika ketiga dewa itu menghaturkan sembah dibawah kaki Semar

“He Endra, Brahma dan kamu Bayu. Ada apa kalian datang kesini ngejawantah, apakah kamu disuruh Bapakmu Sang Hyang Jagat Nata ?”

“Wo Batara Ismaya, kahyangan Rinjamaya (kediaman Batara Endra) gonjang ganjing diguncang gempa. Tentu ada sebab hal itu terjadi. Kiranya Wo Batara yang menyebabkan ini. Ada apakah gerangan Wo ?” sembah Endra takjim

“Demikian pula kahyangan Panglawung (kediaman Batara Bayu) Wo Batara, hamba jadi ingin tahu apa yang tengah disusahkan Wo Batara” Batara Bayupun melaporkan.

“Idem Wo, kahyangan Argadahana gonjang ganjing. Laporan selesai !” singkat Batara Brahma.

“Ora ana apa-apa kok, perkara enteng saja kok sampai kalian datang ke hadapanku. Bertiga lagi. Selamanya aku nggak pernah susah, selamanya aku ngak pernah kuatir. Aku dibuat sakit hati kalau membalas itu wajar, namun aku tidak mau melakukannya karena aku sudah menerimanya. Tentu kalian sudah tahu apa yang terjadi. Saat ini Kresna sedang ditinggalkan Wisnu, Kresna lagi koncatan Wisnu-nya” ucap Semar ya Batara Ismaya kalem.

“Tapi memang sungguh keterlaluan sikap Kresna kepada Wo Batara, aku nggak terima Wo” dengan nada marah Endra menjawab.

“Begitupun aku Wo, akan kubalas Kresna dengan yang setimpal. Biar Kresna tuh eling siapa sebenarnya dirinya” berapi api Bayu berkata

“Idem Wo Batara !” singkat Brahma melanjutkan saudara-saudaranya




“Terserah apa yang akan kalian lakukan, yang jelas aku tidak akan campur tangan dan tidak menyuruh kalian. Tapi ingat kalaupun ingin mengingatkan, hanya Kresna yang salah dan jangan kau ganggu yang lainnya apalagi rakyat Dwarawati”


“Kalau begitu saya mohon pamit nyuwun pangestu Wo Batara”

“Saya juga mohon pamit untuk melaksanakan rencana kami mengingatkan Kresna Wo Batara, mohon pangestunya” Endra dan Bayu mohon pamit

“Idem Wo” singkat Brahma pamitan

“Ingat anak-anakku semua, seperti yang tadi telah aku sampaikan, aku tidak mangestoni lho, namun apa yang kalian telah rencanakan aku berharap atas dasar kebijaksanaanmu sendiri. Aku yakin bahwa kalian telah mampu untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dengan bener lan pener”


Sementara itu, di kamar tidur pengantin baru, Abimanyu dan Siti Sendari, suasana romantis segera terasa. Dihiasi dengan dekorasi interior yang indah nan menawan serta di sekeliling ruangan tercium aroma wewangian yang nyaman dan membangkitkan gairah, suasana siang itu terasa menyejukan. Panas di luar istana, namun begitu dingin di ruangan pengantin. Panas di dalam dada akibat gejolak dan hasrat dirasa, namun dingin menyentuh hati yang tlah menyatu.

Masing-masing akan menyampaikan rasa cinta yang tlah menggumpal, namun saat menyaksikan wajah sang kekasih, tiba-tiba lidah kelu dan kata-kata tak mampu keluar. Yang ada hanya pandang-pandangan, senyam-senyuman, dan pegang-pegangan ….. tangan.

Abimanyu kemudian memandang istrinya. Yang dipandang malu tertunduk. Melalui mata pandangan, dijelajahinya seluruh tubuh wanodya yang tengah berdiri didepannya dan kini telah menjadi miliknya. Sempurna ! Dia memperoleh istri yang memiliki kecantikan yang sempurna, dari ujung rambut sampai ujung kaki semua serba indah.

Untuk menghilangkan kekakuan suasana, rikuh pakewuh, serta lebih mendekatkan rasa dan hasrat, maka Abimanyu membawa istrinya untuk menghirup udara segar dan menikmati keindahan taman di samping istana.

Dengan bergandengan tangan intim, kedua sejoli itu berjalan pelan seraya bercanda mesra menikmati indahnya suasana.

Taman itu adalah taman di lingkungan keputren di Dwarawati, sehingga tlah biasa Siti Sendari menikmati keindahan dan keelokannya. Taman luas dengan pohon dan bunga beraneka rupa, gemericik air sungai dan bunyi binatang-binatang piaraan, menambah lengkap isi taman seolah menghadirkan suasana surga bagi pemiliknya.
Para penghuni taman, burung-burung, sungai, air, batu, serta awan mega di angkasa seolah tlah menjadi kawan setia Sang Dewi, dan slalu menyapanya.


Wanodya sulistya ing warna dasar pinter angedi busana ngadi sarira
manuk-manuk kang padha menclok panging kayon pating caruwet ocehe
parandene dupi mulat tindaknya Dewi Siti Sendari cep klakep kaya binungkem
sami mandhap saking ngepang … andekur yen manungsa-a kaya sung pambage dateng rawuhipun sang putri linangkung kali cilik kang padha mambek sakala banyune kemricik ebahing toya labet denya kepengin tumingal marang sulistyaning warna putri minulya mina-mina alit kang mapan ing kono pating calungup pada ngatonake sirahe awit denya anginceng sarta anginjen anglirik namatake marang sulistyane wanodya utama
padas turi padha ambrol watu gedhe padha gathuk watu cilik padha gathik
upama wujude manungsa padha saur-sauran takon genti tinakon
suket grinting kang kang wus aking karana dangu tan kejawahan
parandene ketetesan keringete … saknalika subur semi angrembuyung
walang-walang kang padha menclok ing witing sidaguri padha mabur pating kleper angubengi lungguhane Dewi Siti Sendariyen manungsa-a sung pambagya dateng rawuhing putri agung sekaring kedhaton Dwarawati
mega putih anggung lumayang mayungi dateng bentering surya
angayomi Sang Dewi aja nganti kaladuk langking pakulitane awit saka kasorotan bagaskara

Setelah puas berjalan menikmati indahnya taman, kedua sejoli itu melepas penat seraya duduk berdua di bangku taman. Wajah Siti Sendari semakin cerah, pipi memerah diterpa panas dan angin, di hiasi sedikit titik keringat di kening, menambah segar pandangan Sang Abimanyu.


“Adikmu ini sangat bangga dapat memperistri Mbakyu Siti Sendari”

“Ah … kok Kanda masih memanggil Mbakyu sih. Memang kalau menurut silsilah, saya ini lebih tua dari Kanda, tapi saya kan sekarang sudah menjadi istrimu, jadi sudah seharusnya Kanda memanggil Dinda kepada saya, bukan begitu Kanda”

Memang benar, kalau dirunut secara silsilah, Abimanyu dan Siti Sendari adalah masih trah Mandura. Siti Sendari berayah Kresna dan Kresna adalah anak dari Basudewa, raja Mandura. Ayah Abimanyu, Arjuna beribu Kunti yang adalah adik dari Basudewa. Maka berdasarkan itu Siti Sendari di anggap lebih tua dari Abimanyu.


“Benar Mbakyu … eh … benar Dinda. Mengapa Kanda bilang bahwa saya sangat bangga memperoleh Dinda sebagai istri, Dinda pengin tahu ?”

“Terserah Kanda”

“Karena Dinda adalah wanita yang sulistyo ing warna dalam segala hal. Wajah dan tubuh dinda begitu indah sehingga tak bosan Kanda memandangnya. Begitupun hati Dinda begitu lembut dan baik. Bagaimana Kanda tak merasa bangga ?”


“Ah … Dinda jadi malu” rona merah kembali mewarnai wajah Siti Sendari dan kali ini pujian suaminya itu bak api dalam sekam yang mengobarkan gairah kepada suaminya. Tak sadar kemudian dia bertanya :

“Kanda, di Madukara kalau siang hari mentari lama nggak tenggelamnya menjadi malam”


“Yah biasa saja Dinda, kalau sudah siang terus sore, pasti tidak lama kemudian malam pasti menjelang dan kemudian datang dengan sendirinya. Kok Dinda bertanya begitu sih, maksudnya apa ?”

“Kalau di Dwarawati ini rasanya kok siangnya lama ya Kanda. Perasaan dari tadi sang bagaskara masih menampakan diri saja, padahal sudah lama di atasnya. Terus malam kenapa belum datang-datang ya ?”


“Ehm … ehm … tenggorokan Kanda tiba-tiba kok jadi serak ini Dinda. Ehm …”

“Oh ya … kalau begitu kita ke kamar aja yuk Kanda”

“Ehm … ehm … nggak perlu nunggu malam kan ?”

“Ah … Kanda … bikin malu Dinda ajah”

Dan dengan agak terburu-buru kedua sejoli pasangan pengantin baru itu menuju ke kamar untuk menyembuhkan ehm ehm Abimanyu tadi.

Tidak perlu diceritakan apa yang terjadi di kamar pengantin.

Nun … di angkasa terlihat tiga sosok tengah melayang terbang di atas bumi Dwarawati. Bagi orang awam, sudah tentu mereka tak terlihat. Mereka bertiga tengah memperhatikan keadaan negara Dwarawati dari angkasa di siang hari itu.

Benar, nereka bertiga adalah Bathara Brahma, Bathara Bayu dan Bathara Endra. Setelah meninggalkan Semar dari hutan belantara itu, maka mereka segera menuju negri Dwarawati. Segala rencana telah disusun untuk melaksanakan “hukuman” sebagai peringatan kepada Prabu Kresna atas tingkah polah dan kesombongannya mengagung-agungkan diri sebagai titisan Wisnu yang berkuasa di dunia. Perlakuan kepada Semar sungguh sudah keterlaluan, pun kepada adiknya sendiri Arjuna yang mengabaikan kehadirannya dan menganggapnya tidak ada walaupun ada peristiwa yang sangat penting bagi seorang ayah, yaitu menikahkan anaknya Abimanyu.

“Hong wilaheng awigeno mastuhu bawana langgeng, Kakang Brahma dan Kakang Bayu, mari kita mulai pekerjaan kita. Namun ingat petuah dari Wo Batara Ismaya, agar bencana yang kita berikan diupayakan agar jangan sampai menimpa kawula yang tidak tahu menahu dan tidak bersalah. Bencana kita fokuskan disekitar istana Dwarawati saja. Mari Kakang kita mulai !” begitu ungkap Bathara Endra untuk memulai rencana mereka.

Sesaat kemudian, Batara Endra mulai mengheningkan cipta, amuja tirta, mengendalikan air di sekeliling bumi Dwarawati dan seketika hujan sangat deras turun bak di curahkan isi laut ke bumi. Tak lama kemudian, banjir ladu walik watu, banjir bandang bagaikan tsunami datang menerpa dari alun-alun menuju istana Dwarawati. Pinggir kedaton mulai di terjang air bah dan seterusnya mulai memasuki sitinggil istana.

Batara Brahma tak mau kalah, setelah mengheningkan cipta maka keluar dari kedua belah tangannya dahana sagedung-gedung ngepung kutha Dwarawati, bola api raksasa mulai melingkupi istana. Sehingga api bergabung dengan air mulai merangsak ke dalam istana menciptakan suasana mengerikan bagi sesiapa saja yang menyaksikan.

Tak cukup dengan itu semua, Bathara Bayupun kemudian ikut berkontribusi. Diciptakannya angin topan bergulung-gulung, barang apa saja yang dilaluinya porak poranda. Pohon nan besar dan kuat tercerabut akar-akarnya dan ikut terbawa terbang. Tembok yang kokoh dan tebal seketika roboh dan puing-puingnya terhambur kesegala arah bagai kapas diterbangkan angin saja.

Geger istana Dwarawati !

Suara jerit perempuan terdengar menyayat hati, ketakutan. Tak tahu apa yang harus dikerjakan karena angin topan, air bah dan kobaran api datang begitu tiba-tiba.

Begitupun Prabu Kresna yang sedang berbicara dengan kakaknya Prabu Baladewa yang tengah bersiap-siap pulang ke Mandura, sangat terkejut melihat bencana yang menimpa kraton Dwarawati yang datang begitu tiba-tiba.

Kresna yang biasanya sangat tabah, sabar dan cerdik dalam mencari solusi yang cepat dan tepat, kali ini terlihat bingung dan tak tahu apa yang harus dikerjakan. Begitupun Baladewa yang biasanya mengandalkan adiknya Kresna dalam segala hal, kali ini tambah bingung atas apa yang terjadi. Walaupun sebenarnya dalam hati kecilnya percaya bahwa bencana ini adalah akibat dari penghinaan Kresna kepada Semar pada peristiwa perkawinan Abimanyu dengan Siti Sendari belum lama tadi.

“Ini gimana Yayi Prabu, cepatlah engkau bertindak kalau tidak ingin kita hancur diterjang oleh air bah yang begitu dahsyat, api yang berkobar-kobar dan angin yang mengobrak-abrik istana ini”

“Saya juga bingung Kakang Prabu, pusaka-pusaka sakti yang aku punyai semua hilang. Sepertinya terbawa air bah tadi”

“Lha … Wisnumu yang kamu unggul-unggulkan selama ini mana, segera keluarkan Yayi. Bukankah Wisnumu dapat menaklukan dunia ini sesuai keinginanmu. Kalau cuman bencana seperti ini sepertinya tidak ada artinya dibandingkan kekuasaan Wisnumu Yayi”

“Haduh Kakang Prabu … kok sepertinya kekuatan Wisnu hilang dari diriku ya”

“Ayo cepat keluarkan, masak gini aja tidak bisa mrantasi gawe, bukankah Wisnumu sanggup untuk menahan air, api dan angin yang seberapa besarpun”

“Haduh Kakang … jangan meledek begitu dong. Benar Kakang, sepertinya Wisnu telah oncat dari diriku, yang penting sekarang kita selamatkan keluarga Dwarawati dulu Kakang. Semua pusaka-pusakaku tak tahu dimana sekarang, tapi saya masih mempunyai kereta Jaladara Kakang.”

“Kalau begitu ayo cepat kita selamatkan mereka semua. Cepat keluarkan Jaladara Yayi”

Segera Prabu Kresna membawa ketiga istrinya Jembawati, Rukmini, Setyaboma, satu per satu naik kereta, dan setelah itu sepasang pengantin baru Abimanyu dan Siti Sendari juga memasuki kereta Jaladara. Dan secepat kilat kemudian Jaladara melesat ke angkasa menghindari bencana yang dahsyat itu.

Memang sungguh luar biasa kereta Jaladara itu. Kereta Jaladara adalah kereta hadiah dewa bagi Kresna, dibuat oleh Mpu Ramayadi dan Mpu Hanggajali. Kereta itu ditarik empat ekor kuda yang berwana kemerahan, hitam, kuning dan putih yang punya kesaktian sendiri sendiri.

Kuda berwarna kemerahan dari benua barat hadiah dari Batara Brahma, dengan kesaktiannya mampu masuk kedalam kobaran api, bernama Abrapuspa.

Kuda hitam dari benua paling selatan bernama Ciptawelaha pemberian Sang Hyang Sambu, mampu berjalan menembus tanah.

Kuda berwarna kuning bernama Surasakti yang mampu berjalan diatas air adalah pemberian Batara Basuki dari jagad timur.

Sedangkan kuda putih murni bernama Sukanta pemberian dari Batara Wisnu dari bumi utara, kesaktiannya mampu terbang.

Pabila telah dirakit dan digabungkan dalam satu kereta maka tercipta kolaborasi yang dahsyat, satu dengan yang lain saling berbagi kesaktian dan saling melindungi.

Sebenarnyalah kereta kuda Jaladara melambangkan kehidupan manusia di jagat ini. Keempat kuda dengan warna yang berbeda tadi menyimbolkan sifat dan watak manusia yang masing-masing mempunyai karakteristik khusus dan akan mempunyai kekuatan dahsyat bila berkolaborasi antara satu dengan yang lainnya. Dan kusir kereta yang mengerti akan sifat dan perilaku kudanya serta mampu menggabungkan kekuatan masing-masing dalam sebuah orkestra irama gerak langkah kaki kuda nan menawan, senada seirama, maka perjalanan para penumpang akan nyaman, aman dan cepat sampai tujuan.

Warna-warna empat kuda Jaladara ibarat cahaya-cahaya inti yang melingkupi diri manusia.
Cahaya Putih, merah, kuning dan hitam melambangkan manifestasi air, api, angin dan bumi atau tanah.
Cahaya Putih, merah, kuning dan hitam menyimbolkan nafsu muthmainah, amarah, sufiah dan lawwamah.
Air adalah putih, kejujuran, kesabaran, nrima ing pandum, bersifat melarukan, menyejukan, menyegarkan, namun jika berlebihan dapat menghancurkan bahkan menjadi racun yang mematikan.

Api berwarna merah, berwatak semangat, dinamis, berambisi, emosi namun juga mempunyai sifat sebagai pemberontak, iri dengki, pun kebohongan. Sifat baik dan buruk dapat timbul darinya, sehingga hasil cipta dari daya hidupnya dapat merupakan energi yang bergerak bersifat prabawa, mengembangkan, memekarkan namun juga memiliki daya menghancurkan, membasmi, membakar hingga meledakan.

Cahaya Kuning adalah merupakan manifestasi dari angin yang memiliki watak keindahan, dalam seni budaya, sopan santun, kasih sayang, toleransi, namun juga semu, samar, palsu, gengsi, konsumtif.

Dan hitam adalah bumi atau tanah. Dari tanah watak dan sifat produktif, kreatif, inovatif tercipta, namun juga bersifat tega, egois, mengunggulkan materi.

Keempat cahaya tadi harus saling mengisi dam menutupi kekurangan untuk menciptakan watak dan tindakan yang baik dan terpuji sesuai dengan jalan Ilahi Rabbi.

Kita tinggalkan Prabu Kresna dan rombongan dari istana Dwarawati yang mengendarai kereta Jaladara berusaha menghindari bencana dan berniat untuk sementara mengungsi.

Kita kembali mengikuti perjalanan anak-anak Semar panakawan yang ditinggal Ramanya, Semar, dan disuruh untuk mencari nDaranya satria Madukara, Arjuna. Meskipun belum tahu dimana sebenarnya nDaranya berada, namun ketiga panakawan telah hafal akan perilaku nDaranya itu. Kalau sedang mengalami masalah berat dan membutuhkan solusi yang bener lan pener, maka tidak ada tempat yang tepat selain mencari kesunyian jauh dari keramaian untuk bertapa menentramkan hati, memusatkan pikiran, tuk berharap pepadhang. Tidak hanya bila menemui masalah berat, saat mengharapkan sesuatu yang dirasakan penting bagi diri, keluarga, saudara-saudaranya maupun bagi negaranya, pun Arjuna lebih sreg melakukannya dengan ber-tirakat, mendekatkan diri kepada Pencipta Semesta.

Dan ketekunannya dalam bertapa itu memang sudah teruji.Jangankan cuma sekedar binatang buas, ataupun jin gendruwo atau setan yang paling menakutkanpun, bahkan godaan yang lebih hebat lagi berupa bidadari kahyangan yang cantik molek tiada menggoyahkan tekad dan kemauan keras Permadi. Bahkan tidak hanya satu bidadari, melainkan tujuh bidadari tidak mampu menarik minat Arjuna selagi bertapa. Dewi Warsiki, Dewi Irimrin , Dewi Tunjungbiru, Dewi Wilutama, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang dan Dewi Lengleng Mulat yang mendapat tugas untuk menggoda, berakibat senjata makan tuan, malah mereka yang tergoda oleh tidak saja sosok dan wajah Arjuna yang rupawan, juga dibuat kagum oleh kekuatan tekad, hati dan pikiran (baca kisah Begawan Mintaraga).

Sehingga akhirnya Gareng, Petruk, Bagongpun menemukan nDaranya di suatu hutan di sebelah barat daya kerajaan Dwarawati. Tentu tempat yang digunakan Arjuna tidak sembarangan, melainkan tempatnya tersembunyi, bersih, dan layak untuk didiami selama beberapa bulan.


Ketiga panakawan tadi sementara melepas lelah tidak jauh dari tempat nDaranya bertapa karena melihat bahwa Arjuna masih begitu khusyu dalam semedinya sehingga tidak berani membangunkannya.

“Kalau saya pikir-pikir, Ramane Semar tuh aneh ya Kang Gareng. Lha wong jelas-jelas dihina sama ndara Abimanyu dan ndara Kresna begitu … eee … bukannya marah atau membalas malah diam saja” Petruk memulai pembicaraan mengeluarkan uneg-unegnya.

“Iya Kang, kalau saya yang digituin …. oooo pasti langsung tak bales malah tak tambahi bonus. Kalau ada yang meludahi mukaku … langsung tak bales meludahi mukanya bahkan kalau perlu langsung tak uyohi !” tambah Bagong dengan penuh ekspresi.

“Hush … ora elok kuwi … tidak bagus begitu. Malah kita harus bersyukur punya orang tua seperti Ramane Semar. Ramane Semar terkenal sebagai pamomong para ksatria dan raja. Pamomong itu tidak hanya sekedar jadi batur, babu atau pembantu, melainkan lebih dari itu. Mengingatkan yang dimomong kalau berbuat salah, memberi wejangan dan teladan yang baik, bahkan sering diajak diskusi mencari solusi terhadap permasalahan yang tengah terjadi. Usulannya sering didengar malah kerap dijadikan sebagai pedoman. Jadi dihadapan mereka, kedudukan Rama Semar itu sangat mulya, tidak hanya dianggap sebagai pendamping dan pembantu saja. Oleh karenanya meskipun usia ndara yang dimomong Ramane Semar itu jauh lebih muda, tapi semuanya menyebut Ramane dengan Kakang. Itu memperlihatkan bahwa hubungan antara ndara dan pamomongnya itu begitu dekat” terang Gareng bijak.

“Tapi aku juga heran Kang Gareng atas perilaku nDara Kresna, lha kok lain dari biasanya. Kalau kita maen nemenin nDara Janaka ke sana, sikap nDara Kresna selalu baik kan. Malah pernah pulangnya aku dioleh-olehin sarung sama sak rantang opor kok” Petruk kembali berujar.


“Lha itu yang aku juga heran Kang Petruk sama Kang Gareng, mungkin setan atau Batara Kala sedang manjing di dirinya. Lha wong menurut cerita Rama, polah tingkah nDara Kresna juga aneh kok, katanya somse dan begitu merendahkan”

“Ya nggak tahulah Gong, yang penting kita sudah memenuhi perintah Ramane Semar mencari nDara Janaka”
Dan yang tengah diperbincangkan, akhirnya bangun dari semedinya. Matanya terbuka dan langsung dilihatnya para panakawan telah menunggu didepannya.


“Gareng, Petruk dan Bagong, sudah lamakah kalian menunggu disitu ?”

“Eeee nDara sudah bangun rupanya, kami belum lama kok nDara” jawab Gareng mewakili adik-adiknya.

“Lha mana Kakang Semar kok tidak keliahatan bersama kalian”


Seketika Bagong pasang aksi

“Hu hu hu hu … ludah dikuncungi nDara !”

“Apa kuwi Gong ?”

“Ludah kyaine Semar dikuncungi …”
“Hush … salah Gong, kuncung di baw*ki!” Petruk juga ngawur.



“Ada apa sih ini, kok ada kuncung, ludah sama baw*k. Tolong dijelaskan yang terinci dan runtut sehingga aku mengerti apa yang telah terjadi”

“Begini nDara !” akhirnya Gareng turun tangan

Kemudian Gareng bercerita atas apa yang menimpa Semar, tentang perkawinan Abimanyu dan Siti Sendari yang tidak ada besannya, tentang Semar yang mencoba mengingatkan, tentang penghinaan yang dilakukan Abimanyu kepada Semar dan kemudian tentang perintah Semar untuk mencari Janaka untuk mengabarkan semua itu.

Mendengar cerita itu, sejenak Janaka terhenyak. Sedih tiada terkira atas perlakuan Abimanyu dan penghinaan kepada abdi kinasihnya. Juga tak kurang herannya atas sikap Prabu Kresna yang keterlaluan itu. Ada semburat kesedihan dan penyesalan menaungi wajah Janaka. Dan seraya menghela nafas seakan melepas beban berat yang menggelayuti dada, kemudian dia berkata :

“Panakawan, sungguh tak terduga. Sebenarnyalah aku menyepi diri di sini untuk bertapa, tiada lain dalam rangka ingin meminta kepada Yang Kuasa untuk memulyakan anakku tersayang Abimanyu. Aku selaku orang tuanya, begitu berharap anakku kelak menjadi satria pinunjul baik dalam olah krida maupun olah batin. Dan itu kupintakan tiada putus. Pun harapan serupa aku lakukan untuk Siti Sendari, agar kelak dia dapat mendampingi anakku dalam mengarungi kehidupan menuju kebahagiaan rumah tangganya kelak. Panakawan, aku tidak menyalahkan siapa saja atas kejadian memalukan dan memilukan ini. Kesalahan hanya ada padaku saja. Oleh karenanya, mari dampingi aku untuk mencari kebenaran dan jalan keluar.”

Tanpa diperintah dua kali, akhirnya panakawan mendampingi nDaranya menembus hutan belantara berjalan dalam diam.

Dan tak sengaja mereka bertemu dengan pasukan raksasa Kutakarukmi yang tengah juga menyusup dalam hutan untuk menyusun kekuatan kembali setelah dipukul mundur oleh Setyaki dan Gatotkaca.

Dan tak ayal pertempuranpun terjadi. Namun dengan mudah Janaka mampu mengalahkan pasukan raksasa itu dan seketika merekapun terbirit-birit melarikan diri ke hutan yang lebih dalam.

>>>

Kita beralih menuju negri Amarta.

Hanenggih nagari pundi ta ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan.
Sanadyan kathah titahing dewa, ingkang kasongan ing angkasa, kasangga pratiwi kapiting samodra, kathah ingkang sami anggana raras boten wonten kadi nagari Amarta. Mila kinarya bubuka, ngupayaa nagari satus tan antuk kalih, sanadyan sewu tan jangkep sadasa.

Mila winanstan Amarta dados palawangane jagad, utawi wenganing rahsa, Amarta panggenan pambuka.
Dhasar nagari panjang-punjung, pasir wukir loh jinawi gemah aripah karta tur raharja. Pajang dawa, punjung luhur kawibawane, pasir samodra wukir gunung, dene nagari ngungkurake pegunungan, ngeringake pasabinan nengenake benawi ngayunaken bandaran gedhe. Loh tulus kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku. Gemah para lampah dagang rahinten dalu tan ana pedhote, labet tan ana sangsayaning margi. Aripah janma manca kang samya gegriya ing salebeting praja katingal jejel riyel aben cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak saking rejaning praja. Karta kawula ing padhusunan padha tentrem atine, mungkul pangolahing tetanen.
Ingon-ingon kebo sapi, pitik iwen tuwin raja kaya tan ana kang cinancang, yen rahina aglar ing pangonan, yen bengi mulih marang kandhange dhewe-dhewe. Raharja tebih ing parangmuka. Para mantra bupati padha kontap kautame, bijaksana limpad ing kawruh, putus marang pangrehing praja, tansah ambudidaya kaluhuraning nata.
Dhasar nagari gedhe abore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adhoh kuncarane. Boten namung ing tanah jawi kemawon ingkang sami sumujud, sanadyan para narendra ing mancanagari kathah ingkang sumawita tanpa karana ginebaging bandayuda, among kayungyun marang popoyaning kautaman. Bebasan ingkang celak manglung, ingkang tebih tumiyung. Saben antara mangsa sami asok bulubekti, glondhong pangareng-areng. Peni-peni reja peni guru bakal guru dadi mas picis rajabrana minangka panungkul. Sinten ta jujuluking narendra ingkang anglenggahi dhamparing kaprabon.

Wenang den ucapna jujuluking nata, ajejuluk Prabu Puntadewa ya Prabu Darmakusuma, ya Prabu Darmaraja, ya Darmaputra, Sang Darmawangsa, ya Prabu Yudhistira, Guna talikrama, ya Ajatasatru.

Mila jejuluk Prabu Puntadewa nalendra rahsaning dewa, jejuluk Yudhistira nunggak semi lan jejuluking jin Wisamarta, Darmaputra pinutra Sang Hyang Darma dewataning sesanggeman,Darmaraja narendra ingkang padha olah sesanggeman, ya Sang Ajatastru tegese tan darbe mungsuh.

Di sitinggil Amarta telah duduk sulung Pandawa, Prabu Puntadewa, di hadapan adik-adiknya minus Arjuna. Disebelah kanannya, berdiri dengan tegak Bima ya Werkudara serta di sebelah kiri berdiri si kembar, Nakula dan Sadewa. Amarta tengah kedatangan tamu agung yang sekarang sedang menghadap. Siapakah tamu agung itu ? Ternyata mereka adalah Prabu Kresna, Prabu Baladewa dan rombongan..

Prabu Kresna dan Prabu Baladewa di atas kereta Jaladara setelah menghindari bencana, akhirnya sepakat untuk mengungsi ke Amarta menemui adik-adiknya Pandawa, sekaligus untuk mewartakan apa yang tengah di alami Dwarawati.

“Selamat datang di Amarta Kakang Prabu Kresna dan Baladewa. Sayang sekali tidak mewartakan kabar kedatangan terlebih dahulu sehingga kami tidak dapat menyambutnya dengan baik. Hal apakah yang membawa kedatangan para keluarga Dwarawati dan Koko Prabu Baladewa ke Amarta ini”

“Terima kasih yayi Prabu, yayi Prabu dan adik-adiku Pandawa telah menerima kami sudah merupakan suatu kehormatan. Kami datang kesini memang tidak direncanakan sebelumnya sehingga tidak sempat mengirim warta atau nawala. Hal yang akan saya wartakan adalah sesuatu yang penting bagi yayi Prabu bahwa saya telah menikahkan ananda Abimanyu dan Siti Sendari beberapa hari yang lalu. Hal ini saya lakukan meskipun tanpa kehadiran besan, yayi Arjuna, mengingat bahwa hubungan keduanya sudah begitu akrab dan dekat. Keduanya sudah saling mencintai dan sepertinya memang sudah dijodohkan oleh Yang Kuasa untuk menjadi suami istri. Dan untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan maka saya segera berinisiatf untuk menyatukan mereka berdua dalam bahtera hidup rumah tangga.”

Kemudian Kresna bercerita bahwa Baladewapun kemudian merestui pernikahan itu, tentang kedatangan Semar pada saat para raja undangan tengah menyantap hidangan yang disediakan, bagaimana Semar memberi hadiah dua pupuh tembang sarkara yang kemudian membuatnya merasa disentil, dan kemudian saat bagaimana Abimanyu atas perintahnya meludahi kuncungnya Semar.”

Diam sesaat Puntadewa mendengar cerita dari Kresna. Sedih hatinya atas kejadian itu, dibayangkan betapa perih hati abdinya kinasih Semar memperoleh perlakuan yang sangat menghinakan dari momongannya sendiri. Dan kemudian katanya :

“Setelah mendengar cerita tadi, saya tidak menyalah koko prabu ataupun kakang Semar. Yang saya salahkan adalah yayi Arjuna yang meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah apalagi pada peristiwa yang sangat penting yaitu hari pernikahannya”

Werkudara yang sedari tadi diam mendengar cerita Kresna namun setelah mendengar respon dari kakaknya itu segera menyahut :

“Hemmm … aku faham bahwa kakakku tidak akan pernah menyalahkan apalagi menyakiti hati orang lain, yang dilakukan pasti menyalahkan diri sendiri atau saudaranya. Kakakku selalu mengalah. Dalam hal ini belum tentu si Jlamprong adikku yang salah. Aku tahu bagaimana si Jlamprong itu, aku mengenalnya lebih dari kakakku”

Baladewa tidak urung ikut nimbrung dalam pembicaraan yang sudah mulai memanas ini

“Heh …. yayi Kresna ceritamu belum selesai, lanjutkan cerita kejadian setelah itu. Jangan engkau potong-potong ceritanya”

“Saya kira itu cukup Kakang”

“Tidak ! Jujurlah ! Sebab seandainya engkau bercerita lebih lengkap apa adanya dan engkau dapat mengungkapkan segalanya dengan jujur, kalaupun engkau yang salah namun karena telah engkau akui dengan jiwa satria maka niscaya kata maaf akan gampang engkau terima. Pada saat itu dirimu mungkin sedang khilaf bukan?”

“Heeeemmm … aku percaya siapa itu Jlitheng kakangku. Jlitheng kakangku adalah tidak lumrah manusia, Jlitheng kakangku adalah kekandangane Batara Wisnu sehingga sudah selayaknyalah memiliki kebijaksanaan yang luas. Oleh karenanya tuntaskan cerita tadi biar segalanya jelas mana yang salah mana yang benar, becik ketitik ala ketara” Werkudara kembali mempertegas

“Bener Werkudara … bener kuwi … ha ha ha ha … Aku sendiri selama ini memang menggantungkan kebijaksanaan ke dia. Walaupun aku lebih tua dari dia, namun aku merasa bahwa ilmuku kalah jauh dengan ilmunya. Bagaimana bisa menang lha wong dia titisan Wisnu. Kresna kok dilawan … ha ha ha ha … !!!” tawa Baladewa terdengar aneh terutama di telinga Kresna.

“Ya silahkan koko Prabu, di luar sana banyak kolam limbah yang berair kotor. Silahkan koko Prabu menyiramkan semua kotoran ke diri saya ini. Saya memang penuh rereget”

“Ha ha ha … ojo mutung yayi”

Puntadewa yang mendengar itu segera menengahi


“Monggo, silahkan dilanjutkan ceritanya koko prabu”

“Siap yayi Prabu, namun sebelumnya saya mohon ijin untuk meminta nini Siti Sendari dan Abimanyu untuk ke belakang saja agar tidak mendengarkan apa yang nanti kemungkinan malah akan membuat resah dan gelisah hati mempelai pengantin”

“Ya silahkan. Abimanyu dan Siti Sendiri silahkan ke belakang istana untuk istirahat dan anggap saja serasa di rumah sendiri seperti di Dwarawati”

“Terima kasih Prabu Puntadewa, mohon pamit”

Abimanyu dan Siti Sendari kemudian bergandengan tangan meninggalkan ruangan pertemuan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan.

Setelah hening sejenak, kemudian Prabu Kresna mulai membuka suara.

“Pun Kakang melanjutkan cerita yang tadi. Apakah harus selalu begitu ? Memang harus selalu begitu kalau wong sing utang kudu nyaur lan wong nyilih kudu mbalekake, orang yang berhutang harus membayar dan yang meminjam harus mengembalikan. Tidak lama kemudian setelah kejadian itu, belum juga semua undangan para raja pulang ke negara masing-masing, Dwarawati ditimpa bencana alam. Hujan datang tiba-tiba tanpa mendung dengan derasnya menyebabkan banjir ladu walik watu. Pada awalnya hanya terjadi di alun-alun, namun dengan cepat menuju sitinggil keraton walaupun telah dihadang dengan berbagai cara.”

Dengan menghela berat nafas, Kresna melanjutkan ceritanya

“Yayi, walaupun dengan rasa pedih dan dada sesak saya lanjutkan cerita ini. Kemudian di sisi selatan api berkobar mulai menerjang memasuki keraton. Begitupun dari sisi utara. Segala arah di kepung oleh dahana, sungguh miris kejadian saat itu. Pada saat itu saya akhirnya memanfaatkan pusaka kereta Jaladara untuk menyelamatkan diri beserta keluarga hingga sampai di hadapan yayi sekarang ini. Tujuan kami menghadap yayi tidak lain adalah disamping ingin menyampaikan kabar tentang malapetaka yang menimpa Dwarawati, juga minta saran dan solusi agar dapat menyelesaikan masalah ini”

Akhir cerita Kresna membuat Puntadewa terpekur dan bersedih hati. Namun Puntadewa tetap saja Yudistira, selalu enggan untuk mempersalahkan orang lain, yang selalu dikorek adalah kesalahan diri sendiri ataupun keluarganya. Hingga kemudian dia berucap kepada Werkudara.


“Dara … Janaka dulu kamu beri pelajaran apa ?”

“Tentu saja hal-hal yang baik”

“Sebagai saudara tua dari Janaka, kalau nyata engkau telah memberi pelajaran tentang tata susila dan keutamaan seorang satria dan kewajiban seorang manusia untuk selalu berbuat baik dan menghindari hal-hal yang buruk dan menyakiti orang lain, tentu dia tidak akan melakukan hal bodoh ini”

Baladewa yan merasa risih seketika menyela :


“Yayi … Janaka sebenarnya tidak salah kok disalahkan ini bagaimana … “

“Koko Prabu … mohon cukup mendengarkan apa yang saya katakan”

“Oh … ngih yayi”

Seraya masih menghadap wajahnya ke Werkudara, adiknya, Puntadewa melanjutkan :

“Kalau engkau tidak mampu menasehati orang yang lebih muda, apa gunanya engkau menjadi orang tua. Janaka itu apamu ?”

“Janaka itu adikku”

“Ibarat kayu yang tidak lurus dan mulai bengkok apakah engkau tidak berusaha meluruskan ?”

“Aku akan luruskan !”

“Ibarat mata air di telaga mulai kotor, mengapa engkau tidak membuatnya jernih lagi ?”

“Aku akan membuat bening !”

“Engkaulah yang salah tidak bisa mengarahkan adikmu untuk selalu berbuat baik. Seandainya engkau sudah tidak mau dan tidak mampu lagi untuk membuat baik adikmu, aku mohon diri, akan kucari sendiri sampai ketemu dimana adikmu berada”

“Aduh kakang … engkau akan mencari dimana ?”

“Akan aku cari di tengah bara api yang membara dan membakar !!!”

Terkejut semua yang hadir ditempat mulia itu. Semua sadar bahwa apa yang dikatakan Puntadewa bukan hanya gertak semata. Kata-katanya niscaya akan dibuktikan adanya. Puntadewa terkenal sebagai orang yang jujur, tidak pernah menyakiti orang lain dan bahkan akan memberikan apapun yang dipunyai bila orang memintanya. Oleh karenanya dia digelari sebagai Ajatasatru, tidak punya musuh,

karena memang pada kenyataannya satu orangpun tidak pernah menjadi musuhnya. Lawan apalagi kawan semua segan dan hormat pada Puntadewa ya Sang Darmaputra.

Puntadewa berwajah tenang, berpenampilan sangat sederhana dan bertutur kata lemah lembut kepada siapa saja. Tidak peduli pabila berhadapan dengan rakyat jelata yang miskin sekalipun, niscaya akan dihormati dan dihargai layaknya kawan dekat ataupun saudara kandung.

Puntadewa setelah menjadi raja pun tidak berpakaian yang serba mewah dan penuh kemegahan. Pakaiannya sangat sederhana dan tidak mengenakan mahkota raja yang menurutnya dapat merenggangkan hubungan baiknya dengan orang lain, menjauhkan jarak karena perbedaan kasta. Juga dia terkenal sangat sabar hingga orang menyangka darahnya berwarna putih.

Di dalam dunia pewayangan, ada tiga tokoh yang berdarah putih yaitu : Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa.

Bagaspati adalah seorang begawan di Argabelah. Dia adalah mertua dari Prabu Salya di Mandraka. Anaknya Pujawati diperistri oleh Narasoma, nama muda dari Prabu Salya, yang karena kelicikan Narasoma dan begitu cintanya pada anak satu-satunya, Bagaspati kemudian menyerahkan nyawanya dengan mentransfer ajian Candrabirawa.

Begitupun Puntadewa. Kisah kalah main dadu melawan saudaranya Kurawa yang dibungkus oleh kelicikan Sengkuni, sepenuhnya bukan karena Puntadewa suka berjudi, melainkan karena enggan menolak ajakan saudara tuanya, apalagi sebagai seorang satria pantang menolak sebuah tantangan. (Dalam hal ini walaupun bersikap baik, namun Puntadewa tidak tepat menerapkannya. Menurut ajaran agama, tidak boleh menerima ajakan dari orang tua sekalipun kalau itu mengarah kepada kesesatan).

Begitupun saat ini. Sifat “keras” dalam selalu menjaga perasaan orang lain, malah menyebabkan merasa terpukulnya jiwa adik-adiknya, terutama Werkudara. Namun disisi lain, ada jiwa yang tengah bergolak. Ada jiwa yang gundah dan gelisah. Ya … pengaruh kejujuran, belas kasih dan kemurnian sikap Puntadewa, membukakan mata hati Kresna akan kebenaran. Meluluh lantakkan kesombongan yang selama ini membalut hatinya. Melumerkan sikap merasa paling benar dan paling kuasa karena ke-wisnu-annya. Membuat jiwanya terhanyut dalam nuansa hening nan berwibawa. Menyesali atas kepongahannya, perlakuan menyepelekan kepada adiknya Arjuna, menghina abdi kinasihnya Semar dan memandang rendah kakaknya sendiri Baladewa.
Bulir air mata mengambang di pelupuk mata Kresna. Dalam kisah dan masalah apapun mana pernah Kresna menangis. Namun kali ini hatinya menangis, walau air mata tanpa isak hanya meleleh satu dua, namun dampaknya sungguh luar biasa. Seketika wajah Kresna meneduh, matanya merunduk. Dan dengan suara yang teramat lembut berucap :

“Saya yang salah Yayi !”

“Tidak, Arjuna yang salah Kakang Prabu”

“Benar, saya yang salah Yayi”

“Tidak Kakang”

“Sekali lagi, dan ini kakang ucapkan dengan sepenuh hati dan kebenaran semata, bahwa sayalah yang bersalah Yayi. Dan sebagai penebus dosa atas apa yang telah saya lakukan, saya akan menjalani lampah brata, akan kucari Arjuna kemanapun dia berada. Tidak akan kakang kembali ke Dwarawati maupun ke Amarta bila tidak membawa hasil. Kakang mohon pamit Yayi !!!”

Dengan langkah cepat Kresna keluar ruangan dan segera menghilang dari pandangan.

Dan Wekudara yang sedari tadi tegak diam berwajah sedih, pun melangkah keluar tanpa berkata-kata sepatah katapun. Werkudara berjalan ringan menuju alun-alun dan berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mukanya yang keras semakin mengeras menahan kecewa dan rasa sedih. Masih terngiang ucapan kakaknya Puntadewa yang menyalahkan dirinya dan adiknya Janaka. Sedih tiada terkira. Dia faham betul akan karakter Arjuna, adiknya yang sangat di sayang sepenuh jiwa dan raga.

Sang Werkudara berdiri tegak tiada bergerak terlihat begitu gagah dan berwibawa. Sungguh gagah satria panenggak Pandawa itu.


dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri
sasadara wus manjêr kawuryan
tan kuciwa mêmanise
mênggêp srinatèng dalu
siniwaka sanggyaning dasih
aglar nèng cakrawala
winulat ngalangut
prandene kabèh kèbêkan
saking kèhing taranggana kang sumiwi
warata tanpa sêla


Sunyi senyap sepi menciptakan perbawa malam
Bulan tlah menampakan diri bersinar terang
Alangkah indahnya tiada mengecewakan
Terlihat gagah raja diraja malam itu
menghadirkan segala cinta dan harapan
terhampar di atas cakrawala
terlihat hampa tak bertepi
namun nyatanya semua tlah penuh sesak
oleh bintang gemintang nan berbinar
merata sinarnya tanpa sela

Namun di malam bersinar terang rembulan itu, masih kalah cahyanya oleh Sang Panenggak Pandawa. Dari gelang candrakirana terpancar cahya yang benderang mengalahkan cahya Sang Hyang Wulan. Candra artinya bulan, kirana bermakna wujud, maka cahya gelang Sang Bayusuta berpadu dengan sang rembulan sejati menaburkan rona yang benderang di sekeliling alun-alun Amarta.

Sang Kusumayuda, sang petarung sejati, namun juga satria pinandhita. Dia profesional sekaligus religius, tapa ngrame, pekerja keras yang sufistik, juga panglima perang namun sekaligus seorang guru besar.
Sifat dan wataknya adalah teladan. Ibarat kalau tegak dapat dijadikan sebagai tongkat atau tempat berdiri, bila megar dapat dijadikan payung peneduh, pabila lemas bermanfaat sebagai temali pengikat dan jika kaku dapat digunakan sebagai pikulan.

Kedua betis kaki ditutupi oleh kampuh atau kain poleng bintuluaji yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Merah perlambang amarah, hitam adalah kekuatan, kuning simbol keinginan dan putih adalah kesucian. Ke empat warna, ke empat sifat tadi melekat pada Werkudara dan tlah menyatu bersinergi menciptakan kekuatan tekad dan kerendahan hati.

Bratasena adalah pamungkas laku, membereskan segala masalah. Sang Bima berwajah selalu menunduk dengan belakang kepalanya lebih tinggi sebagai perlambang orang tengah sholat. Tidak mau melayani orang lain pabila pekerjaannya sendiri belum tuntas. Bukankah kalau sedang sholat, sembahyang menghadap Sang Pencipta alam, apapun tiada boleh mengganggu apalagi membatalkannya ?

Bima adalah manusia lurus hati dan teguh sikap. Apa adanya, lugu, jujur dan tiada bengkok pikirannya. Segala tindakannya hanya mengarah kepada satu tujuam yaitu mencari kesejatian hidup. Semua manusia dianggapnya sama sehingga kepada semua orang dia berbahasa ngoko (tingkatan bahasa lebih rendah daripada basa krama yang biasanya dipergunakan untuk pembicaraan yang dilakukan dalam satu level, semisal antara teman, sesama bocah atau antara orang yang sepantaran umurnya). Bahkan kepada dewa sekalipun hal itu dilakukan. Namun tidak berarti Bima mengecilkan semua orang, hal itu sebagai perlambang bahwa kedudukan semua manusia adalah sama di hadapan Yang Maha Kuasa, yang membedakan adalah kualitas pemahaman dan tindakan dalam iman kepada NYA. Satu-satunya anomali yang terjadi adalah saat Bima berhadapan dengan Dewa Ruci saat Sang Bima mencari air kehidupan dan kesempurnaan hidup (baca kisah Dewa Ruci atau Bima Suci).

Bima berdiri tegak di tengah alun-alun itu seraya mulai merenung. Dijernihkan suasana hati dan pikirannya. Hening, sepi dan perbawa malam membuatnya dapat berfikir tenang. Dirangkai ulang kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya. Meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya, diniatkan untuk tidak hendak menyalahkan siapa saja dalam hal ini. Baik Puntadewa kakaknya, ataupun adiknya Janaka, pun Kresna saudara tua yang sangat dihormatinya. Yang berada dalam benaknya sekarang adalah bagaimana solusi yang harus dieksekusi. Akhirnya, dengan kemantaban niat maka diputuskan untuk segera mengejar Kresna untuk mencari adiknya Arjuna.

Dipercepat langkahnya terlihat setengah berlari. Hingga tak lama kemudian telah sampai di luar kota raja dan tanpa menunggu waktu segera dilanjutkan perjalanannya menembus malam menuju perbatasan Dwarawati. Bima tak tahu sekarang adiknya ada dimana, namun instingnya dan kedekatan hati dengan adiknya mengarahkan dirinya untuk melangkah ke barat daya.

Berjalan tengah malam di hutan gung liwang liwung tak menyurutkan semangat Bima tuk menghentikan perjalanan dan mengistirahatkan tubuhnya. Bima adalah satria Pandawa yang tak manja dan tlah terbiasa serta tertempa oleh berjuta pengalaman pahit yang mengharuskannya tuk selalu berjuang dan berkorban. Berjalan menyusuri hutan belantara berhari-hari lamanya tanpa istirahat dan hanya hanya kemasukan buah dan air seteguk, baginya sudah lumrah. Kisah hidupnya penuh dengan petualangan dan hutan belantara serta lautan lepas adalah laksana rumah keduanya yang begitu akrab digaulinya.

Saat melewati gelapnya hutan itu, terbayang kisah masa lalu ketika dirinya mengendong adiknya Pinten Tangsen, sesekali juga ibunya Kunti bila dilihatnya telas payah berjalan, tersuruk-suruk menerabas hutan setelah terlepas dari malapetaka terbakarnya istana kardus rekayasa kakak-kakaknya Kurawa. Dia bahu membahu bersama adiknya Arjuna menaklukan hutan tuk lepas dari ancaman Kurawa. (baca kisah Bale Gala Gala)
Malam telah berganti pagi, meskipun jalan yang dilalui masih gelap karena pohon-pohon raksasa menutupi sinar bagaskara yang mulai muncul, namun di beberapa tempat yang tidak begitu rimbun pepohonan, sinarnya mulai menampakan diri dan menandakan bahwa kehidupan masih berjalan dan siang tlah membalik malam.
Meskipun badan belum terasa lelah, namun saat melihat sebuah telaga di depannya diputuskannya untuk menghentikan langkah di sisi telaga itu. Kemudian dicarinya tempat yang bersih dan layak untuk bersemedi.

Segera setelah diperolehnya tempat itu, maka Sang Bima duduk bersila dan segera terhanyut dalam mengheningkan cipta memohon petunjuk Sang Maha Pencipta akan langkah yang hendak dituju. Hening suasana di sekitar telaga di tengah hutan diselingi sesekali suara binatang hutan yang ria memulai hari.
Tak beberapa lama kemudian, dirasakan kemantaban hati Sang Bima semakin terpatri. Hingga kemudian setelah meminum air telaga barang beberapa reguk, dilanjutkan perjalanannya.

Siang menjelang, pagi mulai memudar, sang bagaskara bergerak menuju tengah cakrawala. Panas sinarnya mulai menghangatkan suasana hutan. Dan Bima pun tetap melanjutkan perjalanannya dalam diam. Hatinya yakin bahwa tak akan lama lagi apa yang diharapkan segera terwujud. Instingnya mengatakan bahwa adiknya Arjuna berada tak jauh dari dirinya sekarang ini. Dan benar saja, telinganya yang tajam menangkap sayup-sayup percakapan antara dua orang. Segera dipercepat langkahnya dengan berlari menuju asal suara.
Dan, tak jauh dari pandangannya terlihat dua orang sosok yang begitu dikenalnya. Ya sosok Kresna dan Arjuna yang tengah berdialog dan di belakangnya berdiri tiga panakawan Gareng, Petruk dan Bagong duduk melingkar santai.


“Eeee .. nDara Werkudara datang tho, wah tambah gayeng ini jadinya. Apa kabar nDara ?” sapa Bagong yang melihat pertama kali kemunculan Bima.

“Heeemmm … ternyata Jlitheng kakangku lebih dahulu menemukan si Jlamprong. Heeemmm bagaimana kabarnya engkau Adikku ?”


“Baik Kakang, kami juga baru saja bersua kok. Kakang baik-baik saja kan ?”

“Apik ra apik yo tetep ngene, Kakang mencari kamu tentunya maksudnya sudah di wartakan oleh Jlitheng kakangku bukan ?”


“Iya Kakang, adikmu ini mohon maaf atas segala yang telah terjadi hingga segalanya menjadi berantakan begini”

“Wis … tidak perlu dibahas lagi yang sudah-sudah. Yang penting apa yang harus kita lakukan sekarang ini”


“Kakang kok nggak disapa to Daraaaa !” Kresna memotong percakapan dua kakak beradik itu.

“Heeemmm lha kan kita baru beberapa hari yang lalu bersua” jawab Bima enteng.


“Itu kan kemarin-kemarin. Sekarang ya sekarang, masak ketemu sama saudara tua nggak paring pangabekti ataupun say hello gitu”

“Ya wis … bektiku kuhaturkan untukmu Jlitheng Kakangku”


“Ikhlas nggak ?”

“Ya ikhlas no, apa Jlitheng kakangku tidak tahu wataknya Werkudara, kalau sudah keluar ucapan dari mulutku, itulah yang ada di hatiku”

“Yo wis … kakang percaya.”


“Lha … para panakawan kok nggak di sapa to nDara ?” tanya Bagong cengengesan

“Heeemmm .. nganti lali aku. Piye kabare kalian semua, Gareng, Petruk lan Bagong. Baik-baik saja bukan”

“Oooooh inggih nDara Werkudara ingkang minulya, pikantuk pangestunipun panjenengan, kula dahat raka-raka kula tansah linuberan sih kawilujengan saking ngarsanipun Gusti ingkang murbeng dumadi. Sembah kalawan pangabekti kula konjuk dateng nDra Werkudara ingkang minulya. Mugi panjenengan lan kulawarga tansah ugi pinaringan sedaya ingkang dipun pepengini, kayata kawilujengan, kasantosan, kasehatan, kasunyatan, kawuryan, kapribaden, ka ….”

“Hush … kowe ngomong apa Gong, lagakmu kayak dhalang saja. Yang penting aku terima salam kalian semua para panakawan. Jlitheng kakangku dan Jlamprong adikku, jadi apa yang telah kalian sepakati untuk menyelesaikan masalah ini”

“Begini Daraaa, kakang dan adikmu Permadi telah saling meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Sudah tidak ada lagi rasa dendam dan amarah yang mengganjal di hati. Mudah-mudahan dengan bersihnya hati kita, solusi akan mudah dicari”


“Ya harusnya memang begitu, sesama saudara harus saling mencintai dan mendukung. Bukan begitu Reng !”

“Oh inggih nDara, tadi nDara Kresna sama nDara Janaka juga sudah sepakat untuk segera mencari keberadaan Rama Semar”


“Kira-kira kamu tahu nggak Kakang Semar ada dimana sekarang ?”

“Yang jelas bukan di pasar nDara”


“Hush … masak Ramamu jadi pedagang. Ojo guyon, lagi serius nih !”

“He he he he …. sersan nDara, serius tapi santai saja. Menurut waskita yang aku terima …”

“Halah lagakmu Kang Gareng, dapat wangsit darimana lha wong perasaan Kang Gareng tidak pernah semedi begitu”

“Lho gini Truk, kakakmu ini selaku yang tertua di antara anak-anak Ramane Semar, apalagi Ramane kan sudah mendelegasikan kewenangan kepada daku. Istilahnya PPS, Pejabat Pengganti Sementara. Jelek-jelek begini saya juga tapa ngrame, merenung dalam keramaian, berfikir dalam bekerja. Jadi menurut naluriku sebagai PPS maka aku dapat memberikan arahan kepada para nDara sekalian. Menurut instruksiku mereka seharusnya mengarah ke timur menuju Gunung yang bernama Tidar. Itu Truk ! Jangan kau anggap remeh Kakakngmu ini !”


“Bener Kang Petruk, bagaimanapun kita harus nurut sama Kang Gareng selaku apa tadi, PPS ya. Tapi ya itu tadi, aku minta uang jajan tetap aja nggak dikasih, katanya PPS”

“Lho kowe arep njajan dimana Gong, pakai minta uang jajan segala”

“Heeemmm, sudah cukup guyonnya. Aku percaya sama kamu Reng. Jlitheng Kakangku dan kamu Jlamprong, apakah memang begitu rencananya ?”

“Iya Daraaa, kalau begitu tidak usah menunggu lama, ayo kita langsung berangkat saja menuju kesana !”


“Ayo tak ter-ake Jlitheng Kakangku !”

“Sendika, Kakang !”

“Sendika nDara !”


Nun .. di puncak sebuah bukit yang sedikit berkabut, pagi itu sinar sang surya mulai menghangatkan tanah dan pohon-pohon di hutan kecil di sekelilingnya. Meskipun gunung itu terbilang kecil bila dibandingkan dengan gunung-gunung di sekitarnya yang menjulang dan mengelilinginya, namun justru seolah menjadi pemimpin para gunung-gunung itu. Mengapa dibilang begitu ? Berdasarkan mit os yang berkembang di masyarakat sekitar, gunung itu adalah pakunya tanah Jawa. Gunung itu persis berada di tengah-tengah pulau Jawa. Gunung itu memiliki perbawa bagi sesiapa yang memandangnya dan memikirkannya.

Walaupun hutan-hutan di gunung itu tidak terlalu lebat, namun tidak ada satupun penduduk sekitar yang berani menjamahnya. Tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa siapa saja yang menginjakkan kaki memasuki hutan di gunung itu, niscaya pulang hanya kembali nama saja. Kata orang, di hutan gunung itu terdapat banyak orang linuwih, pun berbagai jenis jin setan perayangan yang memiliki kesaktian dan kekejaman tak terkira. Hanya para satria yang kuat hati dan memiliki kedigdayaan bak dewa saja yang mampu dan berani melewati hutan dan bermalam di gunung itu.

Namun pagi itu, ternyata di puncak gunung telah ada seseorang yang tengah duduk bersantai di depan sebuah gubuk sederhana. Entah sejak kapan orang itu berada di situ karena tidak terlihat saat dia mendaki ataupun melewati lereng hingga sampai puncak. Dan anehnya para penghuni hutan dan gunung itu tidak ada yang tahu.
Sosok itu sungguh unik. Badannya pendek bulat, wajahnya bisa dibilang berantakan. Namun bila dipandang sangat nyaman dirasakan. Tidak lain dan tidak bukan, itulah sosok Semar.

Sambil bersantai menikmati indah dan sejuknya pagi, dia menembangkan tembang macapat. Bersenandung lirih seraya merenungi nada dan maknanya.


Mingkar-mingkur ing angkara
akarana karênan mardisiwi
sinawung rêsmining kidung
sinuba sinukarta
mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung
kang tumrap nèng Tanah Jawa
agama agêming aji


Menghindarkan diri dari angkara
pabila hendak mendidik putra
tersirat dalam indahnya tembang nada
dihias agar tampak indah merona
agar tujuan ilmu luhur tercapai di suksma
yang berlaku di tanah Jawa

senjata dan pedoman hidup adalah agama

Jinêjêr nèng Wedhatama
mrih tan kêmba kêmbênganing pambudi
môngka nadyan tuwa pikun
yèn tan mikani rasa
yêkti sêpi asêpa lir sêpah samun
samangsane pakumpulan
gonyak-ganyuk nglêlingsêmi


Disusun dalam ajaran utama
tak boleh malas berselimut budi mulia
maka walaupun tlah pikun dan tua
pabila tak mengolah rasa
sungguh sepi dan hambar layaknya sampah hampa
di tengah pergaulan para tetangga
memilukan dan memalukan smua

Sejenak Semar menghentikan tembangnya. Diedarkan pandangan ke sekelilingnya. Gubuk sederhana itu dulu adalah bagian dari sebuah bekas padepokan. Ya … dulu Ki Dalang Kandhabuwana pernah mendirikan padepokan ini, namun kemudian di tinggalkannya setelah tugasnya telah selesai. Ya … Semar secara wadag adalah masih keturunan dari dalang Kandhabuwana walaupun juga dalam dirinya menitis Batara Ismaya. (Siapakah dalang Kandhabuwana ? Silahkan dibaca kisah lakon Murwakala)

Sudah lama Semar tidak mengunjungi tempat ini. Kangen rasanya menikmati suasana disini. Teringat dia dulu pernah sekian lama tinggal di sini dalam ketentraman, jauh dari hingar bingar kehidupan dunia yang kemilau tapi semu, dunia yang indah namun tak abadi, dunia yang serasa nikmat namun sejatinya penuh racun. Untuk mengulang kenang, dilanjutkan kembali tembang macapat tadi.


Gugu karsane priyôngga
nora nganggo pêparah lamun angling
lumuh ingaran balilu
ugêr guru alêman
nanging janma ingkang wus waspadèng sêmu
sinamun ing samudana
sêsadon ingadu manis


Mengikuti kemauan pribadi
bicara tak berdasar pabila diskusi
tak mau dianggap bodoh diri
slalu berharap puja dan puji
namun orang yang tlah memahami ilmu sejati
tak bisa ditebak kualitas diri
berprasangka baik dan manis hati


Si pêngung nora nglêgewa
sang sayarda dènira cêcariwis
ngandhar-andhar angêndhukur
kandhane nora kaprah
saya elok alongka longkanganipun
si wasis waskitha ngalah
ngalingi marang si pingging


Si dungu tidak menyadari
bualannya semakin menjadi-jadi
ngelantur kesana kemari
bicaranya tak masuk akal dan hati
semakin aneh setiap kali sepanjang hari
(sebaliknya) si pandai mengalah dan berhati-hati
aib dan lemah si bodoh ditutupi


Mangkono ngèlmu kang nyata
sanyatane mung wèh rêsêping ati
bungah ingaranan cubluk
sukèng tyas yèn dèn ina
nora kaya si punggung anggung gumunggung
ugungan sadina-dina
aja mangkono wong urip


Demikianlah ilmu yang nyata
kenyataannya memberikan ketentraman suasana
tak sedih dibilang bodoh tak tahu apa-apa
tetap gembira jika dihina
tak seperti si dungu yang selalu menepuk dada
ingin dipuji sepanjang masa
janganlah begitu hai manusia

Dan kemudian sosok itu duduk bersila diam mengheningkan cipta. Diam dan khusyu suasana tercipta. Tiba-tiba binatang hutan di sekitarnya yang semula riuh bersuara menyambut pagi, mak clakep … seketika diam … hening … sepi … tanpa suara. Keheningan nuansa berlangsung cukup lama, dan …. dari sosok itu tiba-tiba keluar cahaya kuning yang melingkupi seluruh badan. Sejurus kemudian cahya kuning itu merambat dan mewarnai langit sehingga birunya menjadi kuning. Ya … langit di sekitar gunung Tidar seketika berubah menjadi kuning !!

Dan di kaki gunung Tidar, Kresna, Bima dan Arjuna serta ketiga panakawan, Gareng, Petruk dan Bagong, tengah menyaksikan itu semua. Mereka memandang takjub fenomena cakrawala di sekitar gunung itu bermandikan cahya kekuningan. Indah dan menawan dan menyisakan kedamaian saat menikmatinya.

“Awas Gong, lalat mau masuk ke mulut mu tuh ! Lagian lihat yang di atas sampai ndlongop gitu

, ngowoh lagi, iler dleweran sampai nggak terasa. Tutup cangkemmu Gong !” Petruk menepuk bahu Bagong yang tengah menengadah.


“Ora ngono Kang, bukan begitu Kang Petruk, apa Kang Petruk tidak tahu tabiat saya kalau lagi serius. Ya begini nih Bagong kalau lagi berfikir keras !”

“Lho, emangnya apa yang sedang engkau pikirkan Gong ?”


“Aku sedang mengingat-ingat jaman dulu, sepertinya aku pernah melihat pemandangan yang seperti ini. Oh iya Kang aku kelingan, aku ingat ….. dulu waktu aku muncul pertama kali di dunia ini, suasananya ya kayak begini nih’

“Lho kamu tuh nggak dilahirkan sama mamih Kanastren to Gong ?”

“Waktu itu perpisahan antara Ramane Semar dengan Resi Manumanasa yang akan mukswa meninggalkan dunia ini. Ramane sedih karena tidak akan ada teman lagi kelak seandainya Resi Manumanasa sudah tidak ada. Akibat kesedihan Ramane, sekaligus keinginan tetap bersama karib, guru, sekaligus ndara, namun di pisah oleh takdir, Ramane berduka dan alampun ikut berpartisipasi karenanya. Hingga berdasarkan petunjuk Resi Manumanasa, maka aku kemudian nongol dari bayangan Ramane Semar. Makanya aku kan mirip banget sama Ramane. Waktu kejadian itu, suasananya ya seperti ini nih. Serem dan menghanyutkan”


“Masak serem sih Gong, lha wong kalau saya merasanya justru syahdu dan menentramkan hati kok”

“Terus critanya Gimana Gong ?” tanya Gareng ingin tahu.

“Ramane pernah crita sama aku, bahwa cahya kuning adalah warna persahabatan. Juga warna kuning melambangkan sinar sang bagaskara, cerah, membangkitkan energi dan ketetapan hati. Namun ada kalanya sifat positif tadi berbaur dengan energi negatif akibat sedang galau, gundah, sedih atau tiba-tiba muncul keinginan yang tidak lumrah.”


“Wah menarik sekali Gong, terus bagaimana pangandikane Kakang Semar ?” Arjuna yang merasa tertarik pun ikut bertanya.

“Ehm … ehm .. ehm .. wah wah wah … Bagong lagi di tanggap nih. Jarang kula memperoleh kesempatan seperti ini, memperlihatkan kapasitas, kapabilitas, kualitas dan intelektualitas diri Bagong. Bukan begitu nDara Janaka ?”


“Halah … trembelanmu Gong !” ujar Gareng sebel kalau sudah melihat Bagong jumawa begitu

“Iya Gong, silahkan lanjutkan ujaranmu yang serba tas tas tas tas tadi” lanjut Arjuna coba hangatkan suasana.


“Begini semuanya … oh sebentar … sebentar … apakah nDara Werkudara dan nDara Kresna juga mendengarkan yang saya wedarkan ini ?” suara Bagong meninggi seiring dengan tingginya ke-pede-annya.

“Heeeemmmmm …” Werkudara hanya mendehem.

“Lanjut Gong !” Kresna meminta Bagong meneruskan cerita.

“Begini ndara-ndara dan kakang-kakang semua … selain yang telah aku jelaskan di atas, Ramane Semar juga pernah bercerita kepadaku. Bahwa KuNing itu juga merupakan sebuah Laku Wening. Laku yang diniatkan tuk berserah diri atau berpasrah kepada Tuhan semata dan hanya dapat diwujudkan dengan laku batin meneng atau diam yang terpusat di hati. Melalui apa ? Tersenyum, rileks melepaskan semua ketegangan tubuh dan pikiran, menjauhkan diri dari keinginan-keinginan yang mengotori pikiran. Laku meneng akan mengarahkan hati kepada Tuhan jika dilakukan tanpa pamrih dan pasrah diri, tidak memaksakan diri, sehingga batin menjadi wening, jernih. Rasa hati wening ini menumbuhkan kesadaran hati sejati bahwa Tuhan sungguh hadir mengasihi dirinya. Buahnya hati sejati menjadi dunung, mengerti, bahwa hidupnya harus menyatu dengan Sang Pencipta. Ning … Hening … Wening nyawiji marang kang urip …. “

“Apik Gong, bagus itu. Jadi kesimpulannya yang menyebabkan cahaya kuning di cakrawala sekitar gunung Tidar ini adalah Kakang Semar kan ?” tanya Kresna

“Berdasarkan penjabaran yang telah saya jelaskan tadi, dilandasi studi historis, yuridis, empiris, sporadis dan nylekutis, maka dapat saya pastikan bahwa Ramane Semar ada di atas gunung itu !” ujar Bagong seraya tangannya mengarah kepada puncak gunung Tidar.


“Daraaaaa … dan kamu Arjuna, kalau begitu tidak usah menunggu lama, ayo kita bersama-sama menuju kesana !” teriak Kresna mengajak adik adiknya.

‘Heeemmm ayo Jlitheng kakangku, tak derekake !”

“Sendika dawuh Kakang”

“Kula sak-adi adiku rak nggih di ajak ta … Siap nDara !”

Singkat cerita, karena mereka semua adalah satria-satria yang linuwih, maka tanpa kesulitan akhirnya mereka sampai juga ke puncak gunung itu. Dan di sana mereka lihat terdapat bekas padepokan yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pondok sederhana. Secara samar mereka melihat ada sosok yan tengah duduk bersila di lincak depan pondok itu. Sosok itu laksana patung, karena diam tak bergerak.

Pelan-pelan Kresna, Bima dan Arjuna mendekati sosok itu. Namun betapa tercekat hatinya saat telah dekat dan memastikan bahwa sosok itu adalah Semar, tiba-tiba terdengar sebuah suara, tepatnya sebuah tembang yang terlantun terdengar jelas di telinga mereka semua. Bukan Semar yang melantunkannya, karena mulut Semar tiada terbuka. Sosok Semar masih diam tak bergerak.


Mamanise minangka pepeling,
Tanpa guna mikir kono kana,
Jer kono kana neng kene,
Biyen saiki besuk,
Pan winengku aneng saiki,
Nanging kudu waspadha,
Ing panglarasipun,
Jer iku gawat kaliwat,
Yen kleru temah sasar jroning ati,
Yekti antuk duduka.


Panglarase mung kalawan ening,
Eninga jatining kahanan,
Kahanan iku yektine,
Jati-jatining idhup,
Anguripi sagung dumadi,
Dadine saking ora,
Ora tegesipun,
Si ora mengku kahanan,
Kahanane warna rupa datan tebih,
Nyata wus kasarira.


Pratandhane kang wus nyata yekti,
Tindhak-tandhuk akanthi prasaja,
Kawistara lulungide,
Mamrih harjaning kayun,
Tan kayungyun anggungggung dhiri,
Mung weh yteming sasama,
Nyata nora ungkul,
Wit wus pana nora samar,
Ya ing kono sinebut manungsa jati,
Wikan ing sangkan paran.


Sungguh indah pabila dapat dijadikan sbagai pengingat jiwa
tiada guna berfikir yang berada disitu dan disana
lha wong disitu dan disana ternyata ada disini
dulu sekarang dan kelak hari
kan terengkuh dalam SEKARANG ini
namun waspadalah slalu duhai
pabila di renungkan dalam hati
hal itu sangat berbahaya terjadi

kalau keliru hingga tersesat budi
sungguh kan peroleh malapetaka abadi


Renungkanlah hanya dalam suasana hening
heninglah sejatinya keberadaan
keberadaan itu sejatinya
adalah sebenar-benarnya hidup
menghidupi semesta kehidupan
asal jadinya dari tidak
tidak artinya
si TIDAK mengandung maksud keberadaan
keberadaannya memiliki rupa tiada lebih
sungguh nyata tlah disandang


Pertanda pabila tlah diperoleh
perilakunya sungguh serba sederhana
mampu melihat hal-hal gaib
tuk kebahagiaan hidup
tak tergoda tuk mengagungkan diri
hanya ketentraman bersama yang diberi
tak ada keangkuhan dan kesombongan
sungguh tidak diragukan lagi
itulah yang disebut manusia sejati
mengerti akan sangkan paran, asal dan tujuan hidup

Berakhirnya tembang menghadirkan keheningan suasana. Kresna, Bima dan Arjuna serta Gareng Petruk dan Bagong tidak berani bersuara. Mereka hanya duduk bersimpuh di bawah lincak itu. Mereka sadar bahwa sosok di depannya itu hanya wadagnya saja Semar, sementara jiwanya tlah menitis Batara Ismaya.

Cukup lama suasana diam tercipta, hingga kemudian Semar membuka matanya pelan-pelan. Dipandanginya sosok-sosok yang berada di depannya satu persatu dan kemudian berujar pelan :

“Cucu-cucuku semua, smoga Yang Maha Kuasa memberikan rahmad dan kasihNYA kepada kalian semua. Kalian tahu akan makna tembang tadi bukan ? Intisari yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi hidup kita adalah bahwa hal yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menggapai kemampuan dalam mengerti gaibnya keberadaan, gaibnya hidup dan juga gaibnya Kang Murbeng Dumadi, Tuhan semesta alam, sejatinya tidak perlu difikirkan, dibayangkan ataupun dicari kemana-mana. Sebab sesungguhnya hal itu dapat di temui dalam diri kita sendiri dan semuanya tlah kita sandang serta miliki. Sebenarnyalah hal-hal tersebut sudah saling menyatu, hanya saja masih terhalang antara alam gaib dengan alam nyata.”

“Pabila pencarian dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat diterima, maka kalian akan dapat membuka kedua alam tadi. Selanjutnya akan mengerti keadaan sebenarnya hidup dan dapat membuka semua tabir yang menyelimutinya yang bersifat abadi. Abadi bersifat tanpa awal dan tanpa akhir, sehingga bila direnungkan dalam hati yang paling dalam, maka sejatinya dunia sekarang ini adalah merupakan bagian dari alam kelanggengan. Mengapa manusia tidak mampu melihatnya ? Karena rasa hati manusialah yang memisahkannya, rasa hati manusia menempatkan hidup di luar waktu dan alam abadi itu”

“Oleh sebab itu, tanpa guna mikir kono kana, jer kono kana neng kene, biyen saiki mbesuk winengku aneng saiki, tiada guna berfikir yang berada disitu dan disana, karna disitu dan disana ternyata ada disini, dulu sekarang dan kelak akan terengkuh dalam waktu sekarang. Dan ingatlah selalu akan petuah bijak, tan kayungyun anggunggung dhiri, mung weh ayeming sasama, jangan kau mengagungkan diri angkuh dan berlaku sombong, dan berikanlah ketentraman kepada sesama.”

Semar atau Batara Ismaya terdiam sejenak. Dipandangnya dengan lembut Kresna. Yang dipandang hanya mampu menunduk. Begitu malu dirasakannya pabila mengulang kenang atas peristiwa yang telah terjadi. Sesal dirasakan saat teringat betapa pongahnya dia saat mengabaikan nasehat kakaknya Baladewa, ataupun peringatan dari Semar kala itu. Bahkan yang membuat dia semakin menyesal adalah saat di bayangkan kembali peristiwa penghinaan anak mantunya, Abimanyu, yang atas perintahnya meludahi kuncungnya Semar.

Ya … sosok yang dihina itu sekarang berada di depannya. Masih seorang Semar wadagnya, namun jiwanya tlah dititisi agungnya kewibawaan dan luasnya kebijaksanaan Batara Ismaya. Getar perbawanya merontokkan keakuan Kresna, meluluhlantakan keangkuhan yang selama ini merajai dan menjadi penguasa hati, bak tercerai berai menjadi serpihan-serpihan kecil lembut yang seketika terbang hilang terbawa sang bayu.

Kresna adalah satria linuwih pilih tanding, kecerdasan dan keilmuannya sangat mumpuni sehingga seolah Batara Wisnu sendiri yang ngejawantah pada diri Kresna untuk mengurus dunia ini. Namun Kresna adalah manusia biasa yang tentu tiada sempurna. Rasa kepercayaan diri yang berlebih dan cenderung menjadikannya angkuh dan sombong pabila tidak segera di singkirkan maka akan semakin berkembang dan pada akhirnya menutupi hati dari kebenaran dan kesucian.

Mendengarkan tutur lembut dan tutur penuh makna dari sosok di depannya itu, seketika basah hati Kresna. Timbul penyesalannya akan perilakunya selama ini. Seketika Kresna bersimpuh di bawah kaki Semar seraya menghiba :

“Duh … pukulun Batara Ismaya, paduka telah memberikan pepadang kepada hati dan jiwa hamba yang selama ini pekat, gelap tiada sinar walau secercah. Kasih paduka membuka mata hati hamba akan kebodohan dan buruknya sikap dan tindakan hamba. Apalagi sikap dan tindakan yang telah hamba lakukan kepada Kakang Semar, sungguh memalukan dan menunjukan rendahnya budi dan kebijaksanaan hamba selaku seorang satria. Duh …. pukulun silahkan pukulun hukum hamba yang hina ini dengan hukuman yang seberat-beratnya. Hamba tidak akan menolak karna memang hamba yang salah. Hamba tak akan berkelit karna memang hamba yang cubluk”

“Kresna … sudah baik kamu menyadari akan kesalahanmu. Sungguh manusiawi, karna mana ada manusia yang sempurna tiada salah dan tiada dosa. Dan sikap dan watak satria sejati adalah mau dan mampu mengakui kesalahan pribadi dan bertekad untuk memperbaikinya kelak. Dan itu tlah engkau lakukan dengan baik. Namun ada hal yang mungkin akan membuatmu sedih apabila ku wartakan sebab tingkah polahmu tadi. Apakah engkau sanggup mendengar dan menerimanya ?”

“Apapun itu akan hamba terima pukulun, karna sudah menjadi tekad hamba untuk menerima semua akibat dari perbuatan hamba selama ini”

“Begini Kresna, kesalahan yang engkau lakukan cukup fatal. Bukan lantaran engkau meludahi kuncung Semar saja. Meskipun itu sangat menghinakan, namun itu adalah hanya sebagai akibat dari sikapmu yang sombong dan mengagungkan kekuasaan yang engkau miliki. Sebagai titisan Wisnu sudah selayaknya engkau mengayomi sesama dan alam raya ini sehingga tercipta kedamaian dan keadilan, bukan malah kekuasaan yang engkau miliki dipergunakan untuk merendahkan orang lain dan meninggikan dirimu pribadi. Kesombonganmu dengan mengatasnamakan kekuasaan Wisnu dalam kemampuan mengubah warna dunia, adalah tidak benar adanya. Dirimu memang memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dipunyai oleh satria atau para raja lainnya. Ilmumu sangat luas namun tidak membuatmu lebih bijaksana dalam bertindak. Engkau masih mudah dipengaruhi oleh nafsumu untuk menunjukan kepada dunia bahwa Kresna adalah satria pinilih, satria kekasih dewa. Padahal justru dengan kedudukan itulah seharusnya engkau lebih rendah hati, mampu sabar dalam menghadapi segala kendala, bisa menerima saran dan kritik orang lain jika memang itu benar adanya dan mempergunakan ilmumu untuk kesejahteraan umat manusia dan alam raya ini”

Sejenak Semar menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya :

“Dengan berat hati kukatakan bahwa akibat perbuatanmu itu, anakmu Siti Sendarilah yang menanggung akibatnya. Benar bahwa sekarang dia telah resmi menjadi istri dari anak Arjuna, Abimanyu. Namun kehendak dewa mengatakan bahwa dari perkawinan itu, kelak anakmu tidak akan memperoleh keturunan !”

Terkejut yang hadir mendengar kata-kata terakhir Semar. Meskipun pelan disampaikan namun bak petir di siang hari bolong, seketika dengan menggelegar menyambar perasaan hati yang hadir, terutama bagi Kresna dan Arjuna. Muka Kresna tampak pucat sungguh. Didongakkan pelan wajahnya memandang Semar yang tepat berada di depannya. Namun setelah melihat wajah teduh Semar dan merasakan perbawa yang terpancar, ditundukan kembali wajahnya seraya berkata :

“Pukulun … hamba terima ketentuan dewa ini. Meskipun dengan berat hati dan dada ini rasanya sesak perih, hamba terima semua yang pukulun katakan. Aduh … anakku Siti Sendari … Siti Sendari … maafkanlah Ramamu ini yang cubluk dan tak tahu diri hingga menyebabkan engkau menderita Nak ….” begitu sedihnya Kresna hingga tak terasa tangis tlah mengambang di pelupuk matanya.

Dibayangkan betapa nelangsa anaknya pabila mengetahui hal ini. Di dunia ini, wanita mana yang tidak ingin memiliki buah hati yang dilahirkan dari rahimnya, buah kasih sayang antara dia dan suaminya, buah cinta yang terwujud sebab lahirnya seorang putra yang kelak akan melanjutkan keturunan dari orang tuanya untuk memulyakan dan mengharumkan nama keluarga. Dan seorang istri yang tak mampu memberi keturunan adalah sebuah aib yang besar bagi dirinya dan keluarganya. Tak tega rasanya membayangkan itu semua. Seketika terbayang wajah anaknya Siti Sendari yang sekarang tentunya tengah berbinar dan bercahaya lantaran sedang memadu kasih dengan suaminya Abimanyu, mereguk indahnya cinta, tiba-tiba kan berubah menjadi muram dan nestapa seketika pabila mengetahui perkara ini. Ah … sungguh duka meliputi hati Kresna. Benar kata orang bijak, sesal datang kemudian, sesal muncul setelah segalanya terjadi dan tak mungkin dapat diulang lagi.

“Kresna … aku turut prihatin. Moga ini dapat dijadikan sebagai pelajaran yang berharga untukmu”

“Terima kasih pukulun, biarlah masalah tadi tlah menjadi ketetapan yang tak mungkin berubah lagi, namun bagaimana nasib kerajaan dan rakyat Dwarawati yang sekarang tengah dilanda bencana alam yang dahsyat ?”

“Kresna … bencana banjir, badai dan kobaran api yang kemarin-kemarin melanda negri Dwarawati telah berakhir seiring dengan penyesalanmu tadi.”

“Terima kasih pukulun”

Kemudian Semar menoleh pelan dan mengarahkan pandangannya kepada Arjuna seraya berkata :

“Arjuna bagaimana engkau menanggapi atas ketentuan yang menimpa anakmu Abimanyu dan istrinya Siti Sendari”

“Hamba menerima itu semua dengan ikhlas karena telah menjadi ketetapan dewa, pukulun”

“Bagus ….. memang sudah selayaknya demikian. He Werkudara !”

“Heeemmm … pukulun Batara Ismaya ada apa ?”

“Engkau telah mendengar semua sejak tadi, semoga engkau dapat mengambil hikmah sebagai bekal dalam menjalani darma seorang satria. Tugasmu sekarang ini adalah hadapi segera Prabu Dewaketuk dari Kutakarukmi yang tengah menuju negri Dwarawati yang akan menjalankan niat tidak baik yaitu merebut istri orang”

“Heeemmm siap pukulu !”

“Kresna, Werkudara dan Arjuna kalian bersegeralah untuk meninggalkan tempat ini dan menuju ke Dwarawati untuk menuntaskan segala permasalahan. Biarlah para panakawan sementara tinggal disini dulu”


“Sendika Pukulun !”

“Sendika dawuh Pukulun !”

“Heeeem … langsung njaluk pamit, aku nyuwun pangestu !”

Segera mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa perasaan masing-masing.


“Ramane Semar … eh pikulan … eh pukulun batara Telamaya ….” Bagong mulai ngaco

“Hush … Gong … jangan sembrono … yang berdiri di depan kita itu bukan Ramane Semar tapi dewa yang kekuasaannya sangat besar lho, Batara Ismaya. Bisa-bisa engkau nanti di kutuk lho !” ujar Petruk mengingatkan

“Justru aku mau dikutuk Kang, siapa tahu aku dikutuk … sim salabim … Bagong kukutuk kau wajahmu jadi menyerupai Janaka !”

“Kuwi dudu di kutuk Gong, itu keinginanmu !” sungut Petruk menggerutu

“Ramane Semar … eling Mo … eling … Kami sudah kangen sama Rama Semar je” Gareng membuka suara
Namun Semar ya Batara Ismaya masih diam dalam menanggapi ocehan para panakawan ya anak-anaknya.
Gareng, Petruk dan Bagong pun mak clakep, mingkem.

Tiba-tiba …

“Eeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito … langgeng. Anak-anakku sing guanteng ngungkuli ndara Janaka, kepriyr Le kabarnya selama Rama nggak ada. Rak ya apik-apik bae tho ?”

Seketika Gareng, Petruk dan Bagong bersorak riang sambil menari-nari ….

“Hore …. hore … hore … !!! Rama wis balik maning … Rama wis jadi Semar yang dulu lagi !!!“

TANCEP KAYON


Sumber : wayangprabu.com