Sabtu, 28 Juni 2014

Gatutkaca Gugur

Gatutkaca Gugur
Prabu Suyudana merasa geram, kepada Bala Pandawa, atas kematian tokoh Astina yang gugur di medan perang Tegal Kurusetra. Pangeran Lesmana Mandrakumara, calon pewaris tahta Astinapura telah gugur, mati dibunuh Abimanyu. Kemudian Warsa Kusuma, anak Adipati Karna, juga tewas ditangan Abimanyu. Apalagi dengan kematian Jayadrata raja Banakeling, adik ipar Prabu Suyudana, suami Dewi Dursilawati, adik Prabu Suyudana telah tewas ditangan  Arjuna. Juga Resi Bisma dan Pendita Durna juga telah tewas di medan

Mengingat kesedihan Prabu Suyudana yang begitu mendalam, maka Prabu Suyudana memerintahkan pasukan Astina dibawah Pimpinan Adipati Karna berangkat ke perkemahan  Pandawa. Mereka berniat akan membunuh semua bala Pandawa yang kemungkinan sudah tidur. Serangan Para Kurawa terjadi pada malam hari ke 16 Perang Barata Yudha. Setelah gugurnya Pendita Durna, Senapati perang diserahkan kepada Adi pati Karna. 

Bala Kurawa telah berangkat menuju Perkemahan Pandawa masing-masing perajurt dengan satu buah obor. Sehingga malam yang gelap gulita menjadi seperti terbakar, dimana mana ada api. Prabu Kresna dari kejauhan sudah mendengar suara riuh rendah di temgah tegal Kurusetra. Prabu Kresna terjaga dari tidurnya, dan membangunkan semua bala Pandawa untuk siaga melawan Para Kurawa, yang akan menyerang ke Perkemahan Pandawa. Tindakan Kurawa itu sudah melanggar ketentuan Perang. Karena perang hanya terjadi mulai pagi hari  sampai dengan matahari tenggelam.

Gatutkaca mendapat tugas Prabu Kresna untuk mengundurkan para perusuh yang sedang menuju ke perkemahan Pandawa. dari Prabu Kresna memerintahkan Wekudara, Arjuna dan para kesatria Pandawa  memerkuat pertahanan Pandawa. kemedan laga. Gatutkaca tokoh sakti yang bisa terbang dan memiliki banyak ajian seperti Aji Brajamusti, Aji Brajadenta, Aji Sapta Pangrungu, Topeng Waja. Namun, Gatutkaca memiliki satu kelemahan yaitu, didalam tubuhnya terdapat wrangka, atau sarung  senjata Kunta. Terjadi karena pada waktu Gatutkaca lahir, wrangka senjata Kunta itu yang dipakai memotong tali pusar Gatutkaca masuk dalam tubuh bayi Gatutkaca.

Beberapa hari sebelum adanya serangan ini, Prabu Kresna telah memanggil Gatutkaca. Didalam pertemuannya, Prabu Kresna meminta agar Gatutkaca dapat membantu pamannya, Arjuna dari korban senjata Kunta. Memang didalam Kitb Jitabsara, tertulis Arjuna gugur oleh senjata Kunta. Untuk itu Gatutkaca ditugaskan oleh Prabu Kresna untuk dapat merebut senjata Kunta dari Uwanya, Adipati Karna. Oleh Prabu Kresna tugas ubtuk ini, agar dirahasiakan. 

Gatutkaca dalam pertempuran  malam dengan dukungan Brajawikalpa dan Brajalamatan paman paman Gatutkaca serta pasuikan raksasa, di Tegal Kurusetra telah berhasil membuat mundur para senapati Kurawa, dan  bahkan ada beberapa orang Senapati Kurawa mati terbunuh.

Gatutkaca teringat tugas rahasia yang diberikan oleh Prabu Kresna  agar Gatutkaca, bisa mencegat kereta perang Adipati Karna dan merebut senjata Kunta milik Adipati Karna.  Sebenarnya Gatutkaca  takut berjumpa dengan Adipati Karna di medan laga Kurusetra. Namun demi tugas negara, Gatutkaca sekarang tidak merasa  gentar menghadapi Adipati Karna yang memiliki senjata Kunta.

Suatu ketika mereka berhadapan, Gatutkaca datang menemui Adipati Karna. Gatutkaca meminta Adipati Karna bergabung saja dengan  para Pandawa dan kembali kepangkuan Ibu Dewi Kunti.. Melihat kedatangan Gatutkaca Adipati Karna sebenarnya tidak tega pada Gatutkaca, karena masih muda belia dan masih kemenakan sendiri. Makanya Adipati Karna menyuruh Gatutkaca pergi dari hadapannya.                          

Kemudian Gatutkaca memulai memancing kemarahan pamannya Adupati Karna. Gatutkaca mulai me nyingkirkan para musuhnya yang berada di sekitar kereta Adipati Karna yang menjadi pagar betis keselamatan Adipati Karna. Gatutkaca dari angkasa, menyambar nyambar, dan menghantam pasukan yang mendukung Adipati Karna,  hingga porak poranda. Banyak para Kurawa yang gugur di tangan Gatutkaca. Gatutkaca mencari kemarahan Adipati Karna,Namun Adipati Karna masih berdiam diri, ia tidak bereaksi.

Maka digoncang-goncangkannya kereta perang Adipati Karna. Sehingga membakar emosi Adipati Karna, dan akhirnya Adipati Karna  melontarkan senjata tombak Kunta kearah Gatutkaca.Senjata Kunta selalu mengikuti  kemana Gatutkaca berada, dan Gatutkaca pun bersembunyi di dalam awan mendung.

Gatutkaca berusaha menangkap senjata Kunta. Senjata Kunta berhasil ditangkap,tetapi senjata Kunta terlepas dari pegangan Gatutkaca. Terlepasnya senjata Kunta menjadikan senjanta kunta masuk kedalam warangka senjata Kunta yang berada didalam tubuh Gatutkaca. Ternyata ada suatu kejadian yanp mata, atau di alam halus, paman Gatutkaca, bernama Kala Bendana, yang dahulu, tanpa sengaja terbunuh oleh Gatutkaca. Pamannya bermaksud menjemput Gatutkaca yang akan diajak memasuki Surga bersma sama. Ia memang paman sekaligus punggaawa yang paling setia pada Gatutkaca. Waktu Gatutkaca telah berhasil menangkap senjata Kunta, Paman Gatutkaca ini, menarik kuat kuat,senjata Kunta yang sudah berada dalam genggaman Gatutkaca, dan menghunjamkan senjata Kuinta ke dada Gatutkaca. 

Akhirnya Gatutkaca tewas dalam peperangan, karena kembalinya Kunta kedalam warangkanya yang ada didalam tubuh Gatutkaca.Tubuh Gatutkaca menjatuhi kereta perang Adipati Karna sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping. Sementara itu sukma Gatutkaca dibawa pamannya, diajaknya memasuki surga bersanma sama.

Pecahan kereta perang itu melukai ratusan perajurit di sekitar Kereta perang berada. Adipati Karna menghormati Gatutkaca yang rela berkorban demi kejayaan Pandawa. Adipati Karna menganggap Gatutkaca seorang Pahlawan yang pemberani  

Ibunda Gatutkaca, Ratu Arimbi, ikut bela pati terjun dalam kobaran api yang sedang membakar jasat Gatutkaca..

Gatutkaca telah  gugur dalam perang Baratayudha, dengan  meninggalka tiga orang istri dan tiga orang anak.

Dewi Pregiwa memperoleh anak seorang laki laki, bernama Sasikirana;

Dewi Sumpani, memperoleh seorang putera laki laki Arya Jayasumpena,

Dewi Suryawati puteri Batara Surya dan istri Dewi Ngruna, Gatutkaca mendapatkan seorang putera laki laki bernama Suryakaca.

Dalam perang Baratayuda, Paman paman Gatutkaca: Brajawikalpa dan Brajalamatan ikut gugur di mdan perang besar di tegal Kurusetra.
 gatutkaca gugur
 

Anggada Duta

anggada
Anggada Duta

Sesampai di Suwelagiri, Prabu Rama memerintahkan pasukannya untuk berhenti dan beristirahat. Prabu Rama segera menentukan tempat pesanggrahan bagi prajurit Pancawati. Prabu Rama meminta agar tempat ini bisa menjadi pusat pertahanan Kerajaan Pancawati. Akhirnya para Prajurit Pancawati mendirikan perke mahan di Suwelagiri.

Pada keesokan harinya,  Prabu Rama memerintahkan Sena pati Anggada pergi ke Istana Alengka menemui Prabu Dasamuka. Untuk menyampaikan dua pilihan, apakah Prabu Dasamuka akan menyerahkan kembali Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah harus menghadapi kekuatan senjata Perajurit Pancawati. Kemudian  Anggada berangkat ke Istana Alengka untuk menemui Prabu Dasamuka.

Tidak lama kemudian Anggada yang disertai beberapa perajurit kera telah sampai di Istana Alengkadiraja. Pintu gerbang Istana Alengka, dibuka dan keluarlah seorang penjaga gerbang meminta Anggada masuk menghadap Prabu Dasamuka.

Prabu Dasamuka menampakkan kerinduan pada Anggada, dia meratapi kematian Subali.Anggada menjadi bingung, tidak terpikir olehnya Prabu Dasamuka yang sejahat itu bisa menangis.Akhirnya Prabu Dasamuka menceritakan peristiwa terbunuhnya Subali, ayahnda Anggada oleh pamannya, Sugriwa dan Prabu Rama. Oleh karena itu Prabu Dasamuka meminta agar Anggada menyatukan diri dengan kekuatan Alengka dan membalas kematian Ayahnda Subali.

Anggada terdiam di dalam hatinya bertanya tanya apakah betul yang dikatakan Dasamuka. Anggada pernah mendengar dari ibunda Dewi Tara, sebab-musabab terjadinya perselisihan ayahanda Sugriwa dan uwa Subali, sehingga menyebabkan kematian Subali. Juga mengenai uwa Subali pernah ditipu dan mau dibunuh oleh Prabu Dasamuka, setelah uwa Subali menyerahkan Aji Pancasona kepada Prabu Dasamuka.

Anggada menegaskan kembali bahwa kedatangannya menjadi utusan Prabu Rama, yaitu minta Prabu Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama atau menghadapi perang dengan kekuatan senjata. Prabu Dasamuka memilih melakukan perang melawan Prabu Rama dan dimintanya  Anggada menyatu dengan kekuatan Alengka.

 Anggada berpamitan pada Prabu Dasamuka, dan ia ingin membalas kematian ayahnya pada Sugriwa dan Prabu Rama. Selesai berpamitan, tiba tiba Anggada mengambil mahkota yang dipakai Prabu Dasamuka, dan membawa lari mahkota kerajaan Alengkadiraja kembali ke Suwelagiri..

Sesampai diperkemahan Prabu Rama di Suwelagiri, Anggada menceriterakan segala sesuatunya kepada Prabu Rama, dan diserahkannya tandabukti kalau sudah bertemu dengan Prabu Dasamuka, berupa mahkota Prabu Dasamuka.Prabu Rama menerima mahkota kerajaan Alengka dan kemudian diserahkan kepada narpati Sugriwa agar memakainya. Narpati Sugriwapun menerimanya dan memakai mahkota  Hati Anggada semakin lama semakin mendidih sejak mendapat hasutan Prabu Dasamuka. Anggada mencoba melupakan, tetapi tidak bisa. Semakin ditahan  semakin membara, Anggada menahan  gejolak kemarahan yang luar biasa, makin lama makin sudah tidak bisa terbendung lagi. Tiba tiba saja meledaklah kemarahannya, dihampirinya Sugriwa dan  dipukulnya keras keras, sehingga pamannya, Sugriwa, terjatuh terkapar dan pingsan. Anggada kemudian merangsek menyerang Anoman, Anila dan  para senapati kera lainnya. Posisi mereka menghalangi Anggada untuk menyerang Prabu Rama. Anggada berniat membalas kematian ayahnya Subali. Ia ingin membunuh Paman Sugriwa juga Prabu Rama. Anoman dan Anila menangkap Anggada dan menenangkannya.

Sementara itu paman Sugriwa sudah sadar dari pingsannya. Melihat keadaan Anggada sedemikian itu, Sugriwa memastikan bahwa penyebabnya pasti karena adu domba dari Prabu Dasamuka, antara Anggada dan Sugriwa. Kemudian Sugriwa menceriterakan Riwayat Sugriwa Subali (”singgahilah  www.wysugriwa subali.blogspot.com). Sebenarnya hal itu terjadi  ketika   Ibu Anggada, Dewi Tara, sejak dianugerahkan pada Sugriwa dari Batara Guru menjadi rebutan antara Sugriwa dan Subali. Maka menjadikan keberadaan Anggada tidak bisa dipastikan, siapakah  ayah Anggada yang sebenarnya, Sugriwa atau Subali. Sugriwa dan Subali  saling mengaku, kalau Anggada adalah anaknya.Tetapi bagi Sugriwa merasa, bahwa Anggada betul betul  puteranya. karena Dewi Tara adalah istrinya sebelum direbut oleh Subali. Namun dari beberapa versi lain Anggada ditetapkan sebagai anak Resi Subali.

Setelah mendengarkan cerita dari Pamannya, Sugriwa, Anggada bisa lebih tenang, Sekarang bagi Anggada, Subali atau Sugriwa yang menjadi ayahnya, sama saja. Apalagi Sugriwa sangat sayang pada dirinya, dan Resi Subali pun telah tiada.

Sementara itu di taman Asoka, Dewi Sinta menolak kehendak Prabu Dasamuka, yang berniat memperistrinya. Ia meminta kepada Prabu Dasamuka untuk mengembalikan dirinya kepada Prabu Rama, apalagi Prabu Rama sudah berada di negera Alengka.  Prabu Dasamuka menjadi marah, ia berniat akan memenggal kepala Rama dan Laksmana.

Pada suatu hari diistana Alengka ada dua orang kesatria yang tampan parasnya, yang berniat menghadap Prabu Dasamuka, untuk minta pekerjaan pada Prabu Dasamuka. Mereka bernama Trikala dan Kalasekti. Prabu Dasamuka  bergirang hati, melihat kedatangan mereka. Prabu Dasamuka segera memanggil keduanya, Kedua kesatria merasa senang, ketika Prabu Dasamuka menerima  mereka menjadi punggawa pada Kerajaan Alengka. Kedua Kesatria  itu diminta kesetiaannya oleh prabu Dasamuka.Mereka diminta kesetiaannya, apakah mereka bersedia mati untuk Prabu Dasamuka. Tanpa berpikir panjang keduanya menyatakan siap mati, andaikata diminta mati oleh Prabu Dasamuka. Mereka terkejut ketika tanpa diduga sebelumnya, Prabu Dasamuka menjambak rambut mereka dan memenggal kepalanya. Kedua satria tampan itu  tewaslah menjadi korban kejahatan Prabu Dasamuka.

Kemudian kedua kepala pemuda tampan itu dibawanya dengan baki emas, menuju Taman Asoka, menemui Dewi Sinta. Dewi Sinta terkejut melihat kedua kepala yang dibawa Prabu Dasamuka. Juga dikatakan oleh Prabu Dasamuka, bahwa kedua kepala itu, betul betul kepala Prabu Rama dan Laksmana. Dewi Sinta menjadi terkejut mendengar apa yang dikatakan Prabu Dasamuka. Hati Dewi Sinta mencoba untuk tidak percaya apa yang dikatakan Prabu Dasamuka. Dewi Sinta meyakinkan dirinya bahwa perbuatan Prabu Dasamuka itu adalah perbuatan Rekayasa.

Prabu Dasamuka meyakinkan Dewi Sinta bahwa kepala kepala dalam baki itu, adalah kepala Prabu Rama dan Laksmana. Makanya Dewi Sinta harus menurut perintah Prabu Dasamuka, dan tidak boleh ada alasan lagi  kembali ke Prabu Rama.

Mendengar kata kata Prabu Dasamuka, menjadi sedih, dan minta agar Prabu Dasamuka membawa kembali kepala kepala itu keluar dari taman Asoka. Dewi Trijata juga mengingatkan agar Prabu Dasamuka jangan menyakiti hati Dewi Sinta. Prabu Dasamukapun membawa kembali kepala kepala itu,dan meninggalkan taman Asoka.

Dewi Sinta menangisi kematian Prabu Rama dan Laksmana. Melihat keadaan Dewi Sinta tersebut, Dewi Trijata menghibur, bahwa kepala kepala yang dibawa Prabu Dasamuka belum tentu benar kalau itu kepala  Prabu Rama dan Laksmana. Dewi Trijata kemudian bermaksud menemui Prabu Rama dan Laksmana di Suwelagiri.

Akhirnya pergilah Dewi Trijata ke Suwelagiri. Sesampai di Suwelagiri ternyata Dewi Trijata masih bisa melihat Prabu Rama dan Laksmana. Ia terpesona ketika melihat Laksmana, kelihatannya menaruh hati pada Laksmana. Ia benar benar jatuh cinta pada Laksmana.

Dewi Trijata bergegas pulang ke Taman Asoka,dan memberikan kabar baik kepada Dewi Sinta bahwa Prabu Rama  dan Laksmana  masih hidup,dan dalam keadaan sehat-sehat saja. Dewi Sinta pun menjadi lega.*

MOHON KOREKSI

Rama Tambak

Rama Tambak
ramawijayaPrabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama, yang akan menyeberang ke Astina, dengan membuat jalan di laut, dengan cara menambak laut. Sehingga jalan yang akan dibuat Prabu Rama akan terpisah dari laut.

Tetapi Prabu Dasamuka memperkirakan usaha itu tidak mungkin jadi, berapa batu yang akan dimasukkan dalam laut, dan berapa tenanganya, tidak akan cukup. Seratus tahun lagi batu akan jadi.Namun ketika mendengar kesaksian mata mata Kerajan Alengka, Detya Kala Marica mengaabarkan, bahwa dengan keberadaan Wibisana di Pancawati, akan mempercepat pembuatan jalan itu. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung.,untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan kunyuk Wibisana.Detya Kala Yuyu Rumpung, siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seliruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung keSamodera Hindia.Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannyaekskusi pasukan Prabi Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Mereka sudah membendung samudera Hindia hingga ke tanah Alengka. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan, Tidak lama kemudian Prabu Rama kedatangan tamu dari Alengka, yaitu Wibisana.Prabu Rama merasa senang dengan kehadiran Wibisaba, yang mau bergabung dengan Prabu Rama. Prabu Rama bersedia memberikan fasilitas Kerajaan Pancaawati.Wibisana sehari harian diperbolehkab menggu nakan apa yang ada di Pancawati. Wibisaana mendapatkan tenda tersendiri, yang letaknya bersebelahan dengan tenda Prabu Rama dan Laksmana.

Wibisana bersedia membantu pembuatan jembatan dari Pantai Pancawati sampai ke negeri Alengka. Dalam waktu sekejab Wibisana menciptakan jembatan yang kokoh dan kuat. Anoman mencoba jembatan yang baru diciptakan Wibisana.

Belum beberapa lama jembatan itu dicoba oleh Anoman

yuyu rumpung

yuyu rumpung, jembatan itu ambrol dan hancur. Jembatan ciptaan Wibisana menjadi runtuh.  Disaat seperti ini Wibisana bagai teruji kesetiaannya pada Prabu Rama. Beberapa tokoh senapati meminta agar Wibisana diusir saja dari Pancawati, karena bisa saja niat Wibisana mau menghancurkan Pancawati dari dalam. Wibisana tak bisa berbuat apa apa. Pikirannya melayang kembali kekakaknya, Prabu Dasamuka,Wibisana berpikiran lebih baik tinggal di Alengka, daripada setelah meninggalkan tanah kelahirannya, ternyata sesanpai di tempat Prabu Rama yang asing baginya, dianggap mata mata musuh. Dalam hatinya menangis, teringat pula kakaknya, Kumbakarna yang sempat mau mengikuti kepergiannya. Wibisana terdesak pikiran pikir an yang mestinya tidak perlu, ketika Prabu Rama menyatakan bahwa Prabu Rama perca ya pada Wibisana.

Prabu Rama percaya pada Wibisana, karena Wibisaba pabti mengetahui seluk beluk pertahanan Alengkadiraja,

Persoalan tersebut oleh Prabu Rama diserahkan pada Wibisana. Menurut perkiraan  Wibisana, keruntuhan-keruntuhan yang terjadi pada jembatan tersebut, akibat ulah pasukan Prabu Dasamuka. Wibisaana meminta Prabu Rama untuk mengerahkan seluruh kera kera Yuyu Kingkin, yang berada di hutan Pancawati,ke Jembatan Situbanda yang telah diibuat Perajurit Pancawati. Kapi Yuyu Kingkin siap akan mengerahkan ribuan kera yuyu kingkin di hutan Pancawati mengusir pengganggu dari Alengka. Kapi Yuyu Kingkin adalah satu satu satu nya jenis kera, yang mempunya capit yuyu yang kuat, sanggup menyelam berjan jam di dalam Samodera.

Pasukan Pancawati pun bertindak. Anoman sebagai Komando Pasukan Pancawati, mengawal pasukan Kapi Yuyu Kingkin. Dengan petunjuk Wibisana tersebut, pasukan Kapi Yuyu Kingkin berhasil mengalahkan bala Alengka, Pasukan Yuyu Rumpung sebagian tewas dan yang masih hidup menyelamatkan diri.

Sesudah tidak ada gangguan dari pasukan Alengka,  Pasukan Pancawati dan Wibisana, melanjutkan pembuatan jem

kingkin

kingkinbatan Situbnda, dengan bahu membahu dalam membuat jem batan ke Alengka, maka jadilah tanggul itu dan akhirnya pasukan  kera yang jumlahnya ribuan itu bisa diberangkatkan ke Alengka Diraja. Mereka termasuk para kera ciptaan Dewa, seperti Cucak Rawun, Endrajanu, Bak\liwinata, Baliwisata, Indrajanu, serta lainnya berbaris rapi, bagaikan tentara yang perkasa, siap ke medan laga, menjemput maut, demi membela kebenaran. Jembatan ini dikenal dengan Jembatan Situbondo. Dan konon jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka, masih ada, yang menyerupai pulau pulau kecil di ujung Srilangka.***

Dilanjutkan dengan  “Anggada Duta”.
 MOHON KOREKSINYA

Anoman Duta



Anoman Duta

Prabu Rama akhirnya memerintahkan kepada Anoman untuk melakukan perjalanan kenegeri Alengka.  Hal ini dilakukan oleh Prabu Rama mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.Pertimbangan itu diambil karena Anoman  memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga apabila menghadapi musuh yang ditemuinya nanti dalam perjalanan, akan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih-lebih pula Anoman dapat terbang keangkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan,  perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya. yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini akan melewati samudera, dan merupakan tugas pertama  menuju Alengka

Anoman berpamitan kepada Prabu Rama,untuk segera melaksanakan tugas. Namun kemudian datanglah Anggada menghadap Prabu Rama. Anggada minta Prabu Rama untuk membatalkan niatnya untuk mengutus Anoman  ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas  ke Alangka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi.

Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, disamping itu ada kemungkinan  dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Dasamuka, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya. Sedangkan Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman  menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Kemudian Prabu Rama menunjuk Anoman untuk berangkat ke Alengka. Perjalanannya menuju Alengka  disertai Para Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong..

Untuk memudahkan perjalanan, para punakawan dimasukkan dalam kancing gelung Anoman. Dari penulis menginginkan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, mengikuti Anoman yang sedang terbang dalam perjalanannya ke Alengka, namun karena tidak lazim, ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, maka mereka saya masukkan saja dalam kancing gelung Anoman. Mereka sebenarnya bisa terbang, karena Semar adalah jelmaan Dewa, Gareng dan Petruk adalah gandarwa sedangkan Bagong adalah bayangan Semar.

Pada hari pertama perjalanannya, Anoman pergi ke kahyangan, menemui  Batara Surya . Dimintanya Batara Surya mau mengikat matahari supaya  tidak bergeser ke Barat. Batara Surya keberatan,dan tidak bisa menyanggupi kemauan Anoman. Anoman memaksa Batara Surya untuk memenuhi permintaannya.Maka terjadilah perkelahian antara keduanya.  Semar segera melerai perkelahian mereka. Akhirnya Semar sendiri yang minta agar  Batara Surya mau menuruti kehendak Anomann. Akhirnya.Batara Surya memenuhi keinginan Anoman, mengingat Semar adalah Sanghyang Ismaya adalah ayahanda Batara Surya sendiri,.Anoman meminta Batara Surya tidak melepaskan matahari sampai Anoman kembali ke Pancawati.. Batara Surya menuruti permintaan Anoman.  Batara Surya mengikat matahari yang posisinya masih diatas kepala, sehingga negeri Pancawati akan mengalami siang yang berke panjang an selama Anoman dalam perjalanan.

Ditengah perjalanan di angkasa menuju Alengka, Anoman kehilangan arah. Anoman sudah berada diatas lautan Hindia. Laut luas membiru. Anoman terkejut merasa ada kekuatan besar yang menyedot tubuhnya, Tiba-tiba saja  tubuh Anoman tertarik kebawah dan masuk dalam perut raksasa.Raksasa itu Wil Kataksini, yang bertugas menjaga lautan Alengka. Tubuh Anoman tidak berdaya dan berusaha keluar dari mulut raksasa Wil Kataksini.

Anoman dengan sekuat tenaga menendang-nendang dan mencakar-cakar dalam perut Wil Kataksini. Kataksini merasa dalam perutnya perih dan geli. Anoman yang ada dalam perut itu di muntahkan kembali keluar mulutnya. Setelah itu tubuh Wil Kataksini menjadi limbung, dan roboh, Wil Kataksini  tewas.

Sementara itu tubuh Anoman bagaikan dibanting, Anoman jatuh terpelanting di daerah  pegunungan. Anoman memperkira kan daerah Suwelagiri, sangat cocok untuk menghimpun pasukan dan menyusun pertahanan Prabu Rama dalam penyerangan ke istana Alengka atau tempat unntuk memata-matai Prajurit Alengka.

Anoman sudah tidak bisa terbang lagi. Ia melanjutkan perjalanan lewat daratan dengan tertatih-tatih.  Setelah berjalan begitu lama, Anoman  tidak kuat lagi. Ia jatuh pingsan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, segera keluar dari kancing gelung Anoman. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong membawa Anoman ketempat  berlindung.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah goa, yaitu Goa Windu tempat bersemayamnya seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba adalah mantan istri Prabu Dasamuka. Ia seorang bidadari. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang memapah Anoman sudah sampai dihadapan Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba   segera menyambut kedatangan para tamunya.  Setelah beberapa hari dirawat di dalam goa, Anoman sadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika  mengetahui dirinya berada di dalam istana yang megah, Anoman kagum ternyata di  dalam goa terdapat istana yang megah dan indah. Ia pun melihat ada seorang dewi  cantik berada dihadapannya. Anoman tertarik kecantikan Dewi Sayempraba. Selama dalam perawatan Dewi Sayempraba Anoman tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya.

Kelihatannya Anoman terpedaya dengan kecantikan dewi Sayempraba. Anoman dan para punakawan dijamu dengan makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Anoman dan para punakawan makan dengan lahapnya.Anoman memang lapar. Sudah lama ia pingsan jadi sudah beberapa hari tidak makan. Selesai makan minum, Anoman berpamitan mau melanjutkan perjalanan menuju Alengka. Dewi Sayempraba menghalangi Anoman, agar tidak meninggalkan Goa Windu. Sayempraba menghendaki agar Anoman bersedia memperistrinya. Anoman menolak ajakan dewi Sayempraba. Kemudian  Anoman segera mengajak para punakawan meninggalkan istana Sayempraba.

Sepeninggal Anoman, Dewi Sayempraba gundah gulana. Ia kecewa Anoman tidak menanggapi cintanya. Padahal Dewi Sayempraba sangat mencintainya. Namun Dewi Sayempraba percaya, kalau Anoman akan kembali ke Goa Windu pada suatu saat.

Setelah beberapa lama berjalan meninggalkn goa. Tiba-tiba  kedua mata Anoman seakan akan melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Kemudian pandangan  menjadi gelap, Anoman menjadi buta Anoman menjadi sedih, Ia merasa gagal melak sanakan tugas dari Prabu Rama. Para panakawan memapah Anoman dan mencarikan orang yang dapat mengobati sakitnya.

Anoman kelihatannya masih beruntung, agaknya tangisannya didengar oleh seekor burung garuda, yang bernama Sempati. Sempati mencoba mengobati Anoman. Sebelumnya Burung Sempati  memohon dewa agar dapat menyembuhkan mata Anoman. Sempati mengobati kedua mata Anoman dengan meneteskan air liur dari paruhnya. Permohonan burung Sempati kepada dewa, agaknya dikabulkan Dewa, Anoman sembuh. Anoman sudah tidak buta lagi. Burung Sempati menceriterakan saudaranya, Burung Jatayu, yang tewas ketika melawan Prabu Dasamuka. Burung Jatayu sebenarnya mau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka. Namun Jatayu gagal membawa Dewi Sinta ke Ayodya,  karena Prabu Dasamuka, membabat kedua sayapnya dan lehernya dari belakang, sehinga burung Jatayu  jatuh ke bumi.Sedangkan Dewi Sinta dapat direbut kembali oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke negerinya, Alengka. Beberapa saat kemudian, Jatayu pun tewas. Anoman mendengar cerita Burung Sempati menjadi semakin yakin, bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah Prabu Dasamuka. Anoman dan para Punakawan mengucapkan terima kasih pada burung Sempati karena telah menyembuhkan Anoman dari kebutaannya. Anoman dan para Punakawan berpamitan kepada burung Sempati, untuk meneruskan perjalanannya ke negeri Alengka  Oleh Anoman para Punakawan dimasukkan kembali dalam kancing gelungnya. Kemudian Anoman  melesat jauh keangkasa menuju Istana Alengka. Perjalanan Anoman ke istana Alengka dirasa tidak terlalu lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian sampailah Anoman ke Istana Alengka.
Indrajid anak Prabu Dasamuka yang sedang berjaga di luar Istana melihat sekelebatan makhluk asing yang berlalu dihadapannya. Indrajid penasaran, ia segera mencari keseluruh penjuru Istana.  Anoman sekarang sudah berada di taman Asoka. Ia bersembunyi diatas pohon Nagasari yang rimbun daunnya.

Sementara itu di Kaputren  taman Asoka, Prabu Dasamuka merasa kecewa, karena dewi Sinta belum mau diboyong ke dalam Istana. Prabu Dasamuka berniat memaksa dewi Sinta untuk melayani dirinya. Namun niat Prabu Dasamuka dapat diurungkan oleh Dewi Trijatha anak Wibisana, adik Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka meninggalkan taman Asoka dengan kecewa.

Untuk menghilangkan gundah hati Dewi Sinta, Dewi Trijatha mengajak Dewi Sinta ke taman bunga yang letaknya dekat pohon Nagasari, dimana tempat  Anoman bersembunyi. Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing didepannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya.  Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ketempat Prabu Rama.

Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima pemberian cincin dari Prabu Rama, dan dipakai dijari manisnya. Namun sayang cincin itu menjadi  kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama. Dewi Sinta tidak bersedia dibawa Anoman pulang ke tempat Prabu Rama. Dewi Sinta menginginkan Prabu Rama sendiri yang menjemput pulang.

Belum selesai mereka saling bicara, Indrajid dan pasukannya telah mengepung taman Asoka. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajid segera membawa Anoman ke tempat Prabu Dasamuka yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Dasamuka, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Dasamuka serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka. 

Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajid menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka  Prabu Dasamuka menjadi merah padam.Prabu Dasamuka marah bukan kepalang.

Oleh Prabu Dasamuka, Indrajid disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup.Indrajid berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan di ikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajid dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman .

Sewaktu Indrajid dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali.Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali.
Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning diatap rumahnya.

Tiada lama kemudian Indrajid bersama ayahandanya, Prabu Dasamuka beserta para adik dan putera-putera yang lainnya  mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Dasamuka meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Dasamuka melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke Negara asalnya.

Prabu Dasamuka tidak memperdulikan permintaan adiknya.  Prabu Dasamuka segera menyuruh Indrajid segera membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu disekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin  membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana.

Setelah ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala ditubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu keseluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar.  Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar.

Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Dasamuka dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi kerumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.

 Anoman  sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas.

Anoman  kemudian menceriterakan  semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya. Prabu Rama bersedih hati mendengar laporan Anoman, ia terharu mengetahui Dewi Sinta istrinya selalu setya padanya. Prabu Rama  berjanji akan segera menyusul Dewi Sinta ke Alengka, untuk memboyongnya pulang kenegeri Ayodya.

Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Prabu Dasamuka.Prabu Dasamuka nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Prabu Dasamuka mengembalikan  Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang.

Untuk  membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merenca nakan  membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati   pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.***
MOHON KOREKSINYA
 


batara surya

batara surya

rama

rama

anoman

anoman

anggada

anggada

mereka bisa terbang, tetapi tidak lazim ada punakawan bisa terbang

mereka bisa terbang, tetapi tidak lazim ada punakawan bisa terbang

sayempraba

sayempraba

sinta dan trijata di taman asoka

sinta dan trijata di taman asoka

dasamuka

dasamuka

indrajid

indrajid

togog

togog