Selasa, 01 Juli 2014

Gatutkaca Krama

Gatutkaca Krama

Dikisahkan di negeri Astina, Prabu Duryudana sedang mengadakan pertemuan agung. Nampak hadir  paling depan  menghadap sang Prabu, paman kepatihan  Patih Haryo Sengkuni  dari negeri Plasajenar.  Resi Durna  dari negeri Sokalima, juga dihadiri  seluruh keluarga Kurawa, antara lain  Dursasana,kesatria Banjarjungut, Kertamarma,kesatria Banyutinalang,Jayadrata kesatria Banakeling, Citraksa, Citraksi, Citrayuda,juga , putra Prabu Duryudana, bernama Raden Lesmana Mandrakumara. Sang Prabu membicarakan permintaan Raden Lesmana Mandrakumara,yang ingin melamar  Dewi Pregiwa, anak Raden Arjuna, padahal Dewi Pregiwa  sudah dijodohkan dengan Raden Gatutkaca, Raja Muda Kerajaan Pringgadani anak dari  Raden  Wrekudara, Mendengar permintaan Raden Lesmana Mandrakumara dan Prabu Duryudana, Resi Durna  siap mengusahakan agar Raden Lesmana Mandrakumara bisa kawin dengan Dewi Pregiwa,dan diupayakan  perjodohan dengan Raden Gatutkaca bisa dibatalkan. Resi Durna membawa sepasukan prajurit  mengawal keberangkatan pengantin laki-laki ke  Madukara.                                     

Sementara itu di  Madukara, Raden Arjuna sedang mengadakan pertemuan keluarga, membahas persiapan perkawinan Dewi Pregiwa dan Gatutkaca.,hadir dipertemuan itu, Dewi Wara Sembadra, Dewi Wara Srikandi, Niken Larashati, Dewi Sulastri serta Dewi Pregiwa dan Dewi Pregiwati.Sang Arjuna menunggu berita dari puteranya yang bernama Abimanyu, kesatria Plangkawati yang ditugaskan menemui kakeknya yang bernama Resi Abiyasa di Ukirahtawu, sampai sekarang belum ada kabar beritanya. Raden Abimanyu ditugaskan menyampaikan kabar bahwa  ayahnya, Raden Arjuna akan mengawinkan  putrinya yang bernama Dewi Pregiwa dengan saudara sepupunya, bernama  Raden Gatutkaca. Belum lama mereka membicarakan masalah itu, datanglah  Resi Durna diiringi saudara dan keluarga Astina juga Raden Lesmana Mandrakumara yang sudah berpakaian pengantin.. Panik dalam istana Madukara. Dewi Pregiwa diiringi adiknya, Dewi Pregiwati cepat keluar dari dalam istana, dan masuk ke dalam  taman  Maduganda . Tiada lama kemudian, Resi Durna memberikan ramuan yang sudah diisi dengan mantera,kepada  Raden Arjuna. Ramuan yang diberikan Pandita Durnapun segera diminum oleh Sang Arjuna , Raden Arjuna merasa lemah lunglai tidak berdaya. Arjuna menjadi lupa apa yang terjadi pada dirinya. Resi Durna memberikan penjelasan, maksud dan tujuannya datang ke Madukara, bersama keluarga Kurawa tidak lain mau melamar Dewi Pregiwa untuk dijodohkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara. Kalau bisa dilaksanakan akan membuat persaudaraan antara Pandawa dan Kurawa akan menjadi lebih baik. Bisa jadi membatalkan perang Barata Yuda. Karena daya mantera yang ada dalam ramuan, yang telah diminum Arjuna.  Raden Arjuna menyetujui permintaan Resi Durna, yaitu  Dewi Pregiwa akan dikawinkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara.  Para istri Arjuna terkejut mendengar keputusan Arjuna, yang menyetujui permintaan para Kurawa. Dewi Wara Sembadra mengingatkan kepada Raden Arjuna,  kalau  Dewi Pregiwa sudah dijodohkan dengan Gatutkaca..Raden Arjuna menjadi marah, para istriya disuruh meninggalkan balai pertemuan.Para istri Arjuna cepat cepat meninggalkan balai  pertemuan dan mereka memasuki  Keputren. Para Kurawa diminta untuk tinggal di Madukara untuk beberaa hari menunggu sampai pelaksanaan perkawinan Dewi Pergiwa dengan Raden Lesmana Mandrakumara,

Raden Abimanyu diiringi para punakawan telah sampai di Kesatriyan Madukara. Raden Abimanyu segera menghadap ayahandanya, menyampaikan pesan kakek Abiyasa, bahwa  Madukara akan diliputi mendung yang sangat tebal, namun keadaan tersebut berlangsung tidak lama dan setelah itu langit menjadi cerah kembali. Raden Arjuna kemudian menyuruh  Raden Abimanyu menyampaikan surat kepada uaknya, Wrekudara di Kesatrian Jodipati,

Kini di Kesatrian Jodipati, Raden  Wrekudara dengan istri nya Ratu Dewi Arimbi juga puteranya Raden Gatutkaca sedang membicarakan rencana perkawinan  Gatutkaca dengan Dewi Pregiwa. Belum lama mereka membicarakan hal itu, datanglah Raden Abimanyu dan  para punakawan, menjadikan mereka terkejut.  Raden Abimanyu memberikan surat dari ayahnya, Arjuna kepada uaknya Raden Wrekudara. Sesudah Raden Wrekudara membaca isi surat, menjadi marah besar, kemudian dihajarnya Raden Gatutkaca. Raden Gatutkaca juga dicaci maki, dikatakan Raden Gatutkaca kurang prihatin, tidak pernah melakukan tapa brata, bisanya hanya makan tidur saja.Itulah sebabnya perkawinan dibatalkan. Kemudian Raden Gatutkaca dihajar dan ditendang, serta diusir dari Jodipati. Ratu Dewi Arimbi tidak tega melihat suaminya  menghajar puteranya sendiri.dan sudah tak kurang ia mengingatkan suaminya agar menghentikan tindakkannya.  Namun Raden Gatutkaca sudah terlanjur pergi meninggalkan Jodipati. Dan  terbang keangkasa raya. Raden Abimanyu melihat keadaan itu cepat berpamitan pada uaknya, untuk kembali ke Madukara..
Para panakawan kelihatan gemetaran tidak karuan hampir hampir tidak dapat melangkah keluar dari istana Jodipati.                                                                                         

Sementara itu, di angkasa raya, Raden Gatutkaca, merasa sudah di sia  siakan. Sekarang merasa sudah tidak ada gunanya hidup di alam ini. Inginnya hanya mati saja, kalau tidak mendapat Dewi Pregiwa, Raden Gatutkaca berniat bunuh diri.,lalu dengan kekuatan luar biasa,Raden Gatutkaca menjatuhkan diri diatas batu gilang di tepi lautan. Tetapi yang pecah bukan kepalanya,  malahan batu gilang menjadi hancur lebur tertimpa tubuh  Raden Gatutkaca. Raden Gatutkaca terbang bolak balik dan  menjatuhi batu gilang yang lain.  Kepalanya dibentur benturkan batu gilang.Melihat keadaan itu, Prabu Sri Bathara Kresna yang sejak tadi  mengikuti Gatutkaca cepat menangkap tubuh Gatutkaca, dan membawa turun ke daratan. Raden Gatutkaca mengatakan apa adanya, Prabu Kresna menasehati daripada mati bunuh diri, lebih baik terlaksana kawin dengan Dewi Pregiwa, Seperti dulu waktu Alap-alap Setyaboma Prabu Kresna bisa membawa lari Dewi Setyaboma dari Lesanpura..Oleh karena itu curilah Dewi Pregiwa dari taman Maduganda. Mendengar nasehat Uaknya, Prabu Sri Bathara Kresna, Raden Gatutkaca bangkit dan bersemangat kemudian berpamitan dan terbang meluncur ke Madukara.  

Setelah Raden Gatutkaca meninggalkan Prabu Sri Bathara Kresna, Prabu Sri Bathara Kresna gundah hati. Ia tidak menegakan Gatutkaca berjuang sendiri. Ia segera pergi ke Kesatrian Jodipati. Prabu Sri Bathara Kresna merasa usaha Gatutkaca akan gagal. Tidak lama kemudian sampai di Istana Jodipati.   Raden Wrekudara dan Ratu Arimbi kelihatannya  sedang bermuram durja. Perkawinan Gatutkacaa telah dibatalkan oleh Raden Arjuna. Prabu Sri Bathara Kresna sudah banyak memberi nasehat pada Wrekudara, tetapi Raden Wrekudara masih saja menyalahkan putranya. Kemudian Prabu Sri Kresna memberi tahu kalau Raden Gatutkaca masuk Taman Maduganda mencuri Dewi Pregiwa, tetapi dapat ditangkap oleh  Raden Arjuna,sekarang mau dihukum mati. Raden Wrekudara tidak peduli, kalau mencuri ya dihukum. Prabu Sri Kresna, tidak kirang akal, memberi tahu kalau  Raden Arjuna juga    marah-marah, dan mengatakan, la anaknya saja jadi maling, apalagi bapaknya pasti gentonya maling, bapakmu suruh sini, tak bunuh sekalian,  Mendengar cerita Prabu Sri Bathara Kresna tadi, Raden Wrekudoro menjadi marah marah. Raden Wrekudara segera pergi ke Kesatriyan Madukara, dengan membawa gada Rujakpolo. Demikianlah siasat Prabu Sri Bathara Kresna, untuk menyelamatkan Gatutkaca.

Dengan mudah, Raden Gatutkaca masuk Taman Maduganda. Raden Gatutkaca dan Dewi Pregiwa segera  keluar dari Taman Maduganda. Tetapi Raden Gatutkaca dan Dewi Pregiwa dicegat Para Kurawa  waktu keluar dari taman. Rupanya ada seorang dayang yang lapor kepada Arjuna tentang Gatutkaca yang sedang mencuri Dewi Pregiwa.  Raden Gatutkaca dikroyok  Kurawa, tapi Raden Gatutkaca lebih unggul,sehingga para Kurawa lari menyelamatkan diri..

Raden Arjuna melihat keadaan itu, marah bukan main, dengan cepat menangkap Raden Gatutkaca. Arjuna menghunus keris Kala Nadah, dan  mau dihunjamkan ke dada  Raden Gatutkaca.. Tiba-tiba bapaknya datang menolong, Raden Arjuna, lari melihat Raden Wrekudara membawa gada Rujakpolo. Raden Arjuna lari ketakutan dikejar kejar  Raden Wrekudara ,yang  mengacung acungkan  Gada Rujakpolo. Raden Arjuna ketemu  Prabu Sri Bathara Kresna , lalu minta perlindungan. Raden Arjuna sembunyi dibelakang batu besar. Yang terletak di belakang Prabu Sri Bathara Kresna.Tidak lama kemudian  Raden Wrekudara datang, mencari Jlamprung. Prabu Sri Bathara Kresna menjawab, kalau Jlamprung tidak tahu, kalau Raden Arjuna ini dibelakangku.

 Mendengar kata kata Prabu Sri Bathara Kresna seperti itu, Raden Arjuna berlari sekencang-kencangnya ketika
.Raden Wrekudara mengejarnya.. Raden Arjuna berlari sampai di Istana Indraprasta. Raden Arjuna masuk  datulaya bertemu  Prabu Puntadewa serta Raden Nakula dan Sadewa. Prabu Puntadewa minta Raden Arjuna berdiri dibelakang Prabu Puntadewa. Tidak lama kemudian , Raden Wrekudara juga memasuki  datulaya, Raden Wrekudara berusaha menarik keluar Raden Arjuna, tetapi Prabu Puntadewa mengatakan, bahwa Raden Wrekudara bila mau menghajar Arjuna apalagi mau membunuh Arjuna, lebih baik Prabu Puntadewa yang dibunuh,

Raden Wrekudara menjadi sadar, ketika teringat Arjuna masih adiknya sendiri.  Prabu Sri Bathara  Kresna cepat datang di Istana Indraprasta. .Prabu Sri Bathara Kresna menanyakan kepastian  Raden Arjuna, apakah masih berniat melangsungkan perkawinan Dewi Pregiwa dengan Gatutkaca. Raden Arjuna masih berniat  meneruskan perkawinan Raden Gatutkaca dengan Dewi Pregiwa. Raden Wrekudara  setuju, namun dengan syarat. keris Kala Nadah harus diberikan kepada Raden Gatutkaca. Mengingat keris Kala Nadah warisan dari  Prabu Kala Trembaka, kakek Raden Gatutkaca.

Dengan diiringi gamelan Kebo Giro, pengantin putri dipertemukan dengan  pengantin laki-laki.. Mereka berdua kelihatan sangat bahagia.

Pesta perkawinanpun digelar di Istana Indraprasta, dengan cukup meriah.    

Belum lama pesta perkawinan berlangsung, terjadi geger di luar Istana Indraprasta, para Kurawa mengamuk dan merusak bangunan luar Istana.Praja Indraprasta,  mereka minta agar perkawinan Raden Lesmana Mandrakumara dengan Dewi Pregiwa.segera dilaksanakan. . Raden Wrekudara melayani serangan para Kurawa.  Bala Kurawa lari ketakutan menyelamatkan diri..Resi Durna serta para  Kurawa kembali ke Astina

Prabu Sri Bathara  Kresna,  beserta para keluarga Pandawa berkumpul bersama mengayubagya kedua pengantin.                                                           

Begawan Mintaraga

begawan mintaraga
Begawan Mintaraga

Begawan Mintaraga, demikian nama Arjuna ketika  melakukan tapa brata di Gunung Indrakila. Arjuna bertapa dengan sepenuh jiwa. Arjuna sudah tidak memperhatikan  raga lagi, seolah olah antara jiwa dan raga telah terpisah dialam yang berbeda. Arjuna juga dikenal dengan nama Begawan Ciptoning, karena Arjuna selalu mengheningkan cipta, rasa  serta karsa secara terus menerus  kepada dewata. 



Melihat keteguhan Arjuna bertapa, Batara Indra mencoba menggodanya. Dikirimnya tujuh bidadari untuk menggoda Arjuna. Adapun bidadari yang diutus menggoda Arjuna yang sedang bertapa adalah Dewi Warsiki, Dewi Irimrin (DewiSurendra) Dewi Tunjungbiru, Dewi Wilutama, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang dan Dewi Lengleng Mulat (Dewi  Lengleng Daanu), Namun Arjuna tidak tergoda.



Kemudian datang lagi bidadari yang menyamar menjadi istri istri Arjuna, seperti Dewi Wara Sembadra, Dewi Wara Srikandi. Niken Larasati, Niken Sulastri, dan tak lupa Abimanyu yang masih kecil. Memang keteguhan  hati Arjuna di dalam bertapa tidak ada satupun yang dapat menyamainya. Batara Indrapun kini percaya kalau keteguhan hati Arjuna tidak tergoyahkan,  Batara Indrapun tidak mengirimkan bidadarinya lagi.




Tidak lama kemudian, datang seekor babi hutan mendengus dan menyerang Arjuna. Berkali kali Arjuna diserudug hewan itu. Arjuna merasa terganggu dengan serangan hewan tersebut. Arjuna segera mengejar hewan itu dan memanahnya. Dua buah anak panah dari arah berlainan mengenai hewan itu secara bersamaan. Ketika Arjuna mendekati buruannya. Tiba tiba datang juga seorang kesatria yang bernama Kiratarupa.Kiratarupa mengakui kalau hewan itu buruannya, terbukti anak panahnya menancap di badan hewan itu. Arjuna pun beralasan demikian. Maka terjadilah perkelahian diantara mereka. Tiba tiba Kiratarupa beralih rupa menjadi Batara Guru, sedangkan hewan buruannya menjadi Batara Narada.




Batara Guru menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi Arjuna, adalah mau  meminta Arjuna  menjadi jago dewa di kahyangan. Karena kahyangan sedang diserang Prabu Newatakawaca dari negara Imanimantaka. Prabu Newatakawaca menyerang ke kahyangan karena keinginannya untuk melamar seorang bidadari yang bernama  Dewi Supraba, tetapi para Dewa menolaknya. Andaikata Arjuna dapat mengalahkan Prabu Newatakawaca, maka akan mendapatkan Dewi Supraba sebagai jatukrama Arjuna, dan juga mendapat kesempatan menjadi Raja Bidadari. Arjuna tidak menyianyiakan kesempatan baik ini. Arjuna menyanggupinya. Batara Guru memberikan pusaka Pasopati kepada Arjuna, untuk menjadi kekuatan dalam melawan Prabu Newatakawaca.




Setelah sampai di kahyangan Arjuna berhadap hadapan dengan Prabu Newatakawaca, perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, Prabu Newataakawaca sangat sakti, tidak satupun senjata dapat melukai tubuhnya.Prabu Newatakawaca tidak bisa dikalah kan. Arjuna segera menyingkir terlebih dahulu. Arjuna mendekati Dewi Supraba. Arjuna meminta Dewi Supraba  mencari rahasia kelemahan Prabu Newatakawaca. Dewi Supraba pun mendekati Prabu Newatakawaca. Dewi Supraba pura pura mencintai Prabu Newatakawaca, dan ia bersedia menjadi istri Prabu Newatakawaca. Namun sebelumnya, Dewi Supraba ingin  banyak belajar dari Prabu Newata kawaca. Prabu Newatakawaca senang dengan kesanggupan Dewi Supraba yang ingin menjadi istrinya. Dewi Supraba menanyakan, apakah ada hidangan makanan yang menjadi kesukaan Prabu Newatakawaca dan hidangan makanan apa yang menjadi pantangan Prabu Newatakawaca.  




Tanpa curiga sedikitpun Prabu Newatakawaca,.memberi tahu, bahwa kesaktiannya berada di lak lakan di belakang lidahnya. Oleh karena itu kalau menyajikan hidangan ma kanan, jangan ada bahan yang bisa membuat luka didae rah itu, misalnya tulang ikan ataupun tulang yang lain..




Arjuna mendengar letak kesaktiannya berada di rongga mulutnya. Arjuna berpikir keras. Apa yang harus dilakukan olehnya, agar Prabu Newatakawaca dapat membuka mulutnya lebar lebar. Akhirnya dimintaya Dewi Supraba membantunya. Dewi Supraba mendekati Prabu Newataka waca, dan mengajaknya bercengkerama. Ketika sedang bercengkerama, datanglah Arjuna. Dimintanya Dewi Supraba menjadi istri Arjuna. Mendengar itu, Prabu Newatakawaca terbahak bahak, karena hal yang lucu, kalau Dewi Supraba ikut Arjuna, karena Arjuna tidak memiliki kemampuan apa apa. Kesempatan baik bagi Arjuna, ketika Prabu Newatakawaca tertawa terbahak bahak. Arjuna segera melepaskan panah pasopati pemberian dewa, kearah rongga mulut Prabu Newatakawaca. Pusaka Pasopati tepat mengenai sasaran.  Prabu Newatakawacapun tewas. Sementara melihat rajanya tewas, Patih Mamangmuka dan pasukannya menyerang Arjuna. Dalam peperangan, Patih Mamangmuka tewas. Sekarang Arjuna dikerubut pasukan Imanimantaka, Arjuna  menjadi kewalahan, Arjuna mengeluarkan aji tundung musuh, sehingga pasukan Imanimantaka  terbuncang angin kembali ke Imanimantaka.







Para dewa berterimakasih kepada Arjuna. Sesuai dengan janjinya, maka Batara Guru meminta Arjuna untuk sementara waktu  tinggal di kahyangan, dan. di wiwaha menjadi Raja Kaindran di Kahyangan, dengan bergelar Prabu Karitin. Prabu Karitin merasa bahagia dapat bersanding dengan para bidadari di Kahyangan.




Sesuai dengan beberapa namanya, maka judul lakon ini ada yang menamakan, Begawan Mintaraga atau  Begawan Ciptaning. Sedangkan judul aslinya adalah Arjuna Wiwaha, dikarang / disusun  oleh Empu Kanwa sekitar jaman Raja Jayabaya.***

MOHON KOREKSINYA DI KOMENTAR 

Ilustrasi tokoh :


Trigangga

trigangga
Trigangga

Sepeninggal Anggisrana, Prabu Dasamuka bermaksud menculik Prabu Rama dan Laksmana. Apabila usaha penculikan ini berhasil, maka ada dua  keuntungan yang didapat oleh Prabu Dasamuka. Pertama, memudahkan Prabu Dasamuka memperistri Dewi Sinta dan yang kedua bisa dipastikan Pasukan Prabu Rama akan menyerah tanpa syarat kepada Alengka.


Tugas ini diberikan kepada Trigangga, anak Ratu Goa Windu, Dewi Sayempraba. Trigangga adalah manusia kera yang selintas kilas seperti Anoman, karena berbulu putih bersih. Ini memang siasat Prabu Dasamuka. Agar dapat mengacaukan pertahanan Swelagiri. Sehingga menjadikan pertahanan Swelagiri terpecah belah, karena persangkaan orang, penculiknya adalah Anoman.


Seperti halnya Anoman, Trigangga pun bisa terbang ke angkasa biru. Dalam waktu sekejap sudah tiba di Swelagiri. Trigangga membaca aji panglimunan, sehingga tidak ada seorangpun mengetahui keberadaannya, kecuali Wibisana.

Trigangga menyelinap kedalam sebuah tenda yang kelihatan paling  berbeda dengan tenda yag lain. Trigangga memastikan tempat itu tempat Prabu Rama dan Laksmana bersemayam. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti,  Trigangga sudah memasuki tempat peristirahatan Prabu Rama dan  Laksmana.


Dengan guci pusaka yang dibawanya dari Alengka, Prabu Rama dan Laksmana, berubah bagaikan asap memasuk didalamnya. Trigangga cepat cepat menutup mulut guci pusaka. Setelah berhasil menculik Prabu Rama dan Laksmana, Trigangga cepat cepat meninggalkan perkemahan Swelagiri. Banyak para prajurit kera melihat sepertinya  Anoman keluar dari tenda Prabu Rama dengan membawa sesuatu benda, dengan tergesa gesa. Anila dan Anggada segera memasuki tempat peristirahatan Prabu Rama dan Laksmana, ternyata mereka sudah tidak ada ditempat. Anila dan Anggada segera menangkap Anoman. Anoman menjadi bingung karenanya. Anoman merasa tidak bersalah, namun  Anila dan Anggada tidak percaya. Anoman diiikat sebagai tawanan, dan diserahkan kepada


Narpati Sugriwa. Sugriwa bingung, apa yang hendak dilakukannya. Sugriwa minta pertimbangan dari Wibisana. Wibisana kemudian membaca ajian pameling,. Dengan ajian ini Wibisana dapat melihat  orang asing mana yang telah memasuki tempat peristirahatan Prabu Rama. Wibisana melihat ada seseorang yang menyerupai Anoman telah menculik Prabu Rama dan Laksmana.


Akhirnya Wibisana kemudian  mengatakan, bahwa Anoman tidak bersalah, karena ada seseorang yang menyerupai Anoman telah memasuki tenda Prabu Rama dan menculiknya. Anoman segera dilepas. Oleh Sugriwa meminta Anoman segera mencari pnculiknya, dan membawa kmbali Prabu Rama dan Laksmana dengan selamat. Anoman segera mencari penculikya.


Anoman mebaca aji panglimunan, mengejar penculikya yang telah memasuki Istana Alengka. Prabu Dasamuka dengan senang hati menunggu kedatangan Trigangga di dampar kencana. Prabu Dasamuka senang melihat kedatangan Trigangga. Guci pusaka diserahkan kepada Prabu Dasamuka. Cepat cepat Anoman masuk kedalam Guci pusaka, dan setelah didalam guci, Anoman segera menyimpan Prabu Rama dan Laksmana dalam kancing gelungnya, dan segera keluar dari Guci Pusaka.


Prabu Dasamuka menyerahkan kembali guci pusaka itu pada Trigangga,dan minta agar Rama dan Laksmana dimasukkan dalam penjara. Besok pagi Prabu Rama dan Laksmana akan di hukum pancung di depan Dewi Sinta. Trigangga segera keluar dari istana dengan membawa guci pusaka, menuju  penjara. Anoman segera menampakkan diri Anoman menantang Trigangga dan memberitahu kalau Prabu Rama dan Laksmana   sudah dibawanya.


Anoman kemudian kabur dari istana Alengka. Triganggapun mengejarnya.Kejar mengejar antara kedua kera putih, sampai di bukit Maliyawan. Anoman dan Trigangga sama sama perkasa, dan ketika sedang seru serunya berkelahi, tiba tiba dewi Sayempraba, menghampiri keduanya.


Dewi Sayempraba, mengatakan kepada Anoman, bahwa yang diajak berkelahi itu anak Anoman. Sedangkan Trigangga diberitahu kalau kera putih yang serupa dengan Trigangga adalah ayahnya. Mereka senang saling bertemu. Anoman juga senang, tetapi tidak pernah punya pikiran puny anak sebesar Trigangga. Dewi Sayempraba, meriwayatkan perjalanan Anoman ke Alengka, mengalami musibah, sehingga Anoman dirawat di Goa Windu. Anoman di Goa Windu dalam keadaan tidak sadar. Disitulah Anoman tanpa disadari telah melakukan kesalahan sehingga menyebabkan kehamilan Dewi Sayempraba.  Akhirnya Trigangga mendapat tawaran dari Ibu Dewi Sayempraba,  untuk memilih, mau ikut ibu, atau ayahnya. Trigangga lebih suka memilih ikut ayahnya, karena mereka berdua sama sama bangsa kera.


Anoman kemudian mengajak Trigangga kembali ke perkemahan Swelagiri. Sesampai di tenda pristirahatan Swelagiri, Prabu Rama dan Laksmana dikeluarkan dari guci pusaka, Prabu Rama dan Laksmana  masih dalam keadaan tidur. Prabu Rama dan Laksmana masih tidur lelap di kamarnya sendiri. Keesokan harinya


Prabu Rama dan Laksmana sudah bangun dari tidurnya. Narpati Sugriwa, Wibisana dan Anoman melaporkan peristiwa semalam pada Prabu Rama dan Laksmana. Kedatangan Trigangga anak Anoman mendapat sambutan baik dari Prabu Rama. Karena kedatangan Trigangga menambah kekuatan Kerajaan Pancawati, dalam mempertahankan Swelagiri dari serangan musuh.*** 

MOHON KOREKSINYA DI KOMENTAR

trigangga

trigangga
trigangga

sayempraba

sayempraba
sayempraba

anoman

anoman
anoman

Kumbakarna Gugur

kumbakarna
Kumbakarna Gugur

Setelah Sarpakenaka tewas, menyusul  anak-anak Prabu Dasamuka, dan Patih Prahasta gugur dimedan laga. Membuat dendam Prabu Dasamuka semakin menjadi jadi.  Prabu Dasamuka memerintahkan berapa pasukan untuk pergi ke Gunung Gohkarna, untuk membangunkan Kumbakarna dari tidurnya. Namun Kumbakarna dengan jalan apapun tidak bisa dibangunkan. Pasukan Prabu Dasamuka, kembali ke Alengka, melaporkan kepada Prabu Dasamuka,bahwa Kumbakarna tidak bisa dibangunkan. Prabu Dasamuka kemudian memerintahkan kurir untuk menemui Prabu Sumali, agar anak anak Kumbakarna, Kumba-Kumba dan Aswani Kumba  maju ke medan laga. Kedua anak Kumbakarna tidak pernah berurusan dengan Alengka. Mereka tinggal di Pangleburgangsa, tinggal bersama dengan  ibunya Dewi Kiswani  dan Eyangnya Prabu Sumali. Prabu Dasamuka mengirim utusan ke Pangleburgangsa meminta kedua anak Kumbakarna berangkat ke medan laga. Usia Kumba Kumba dan Aswani Kumba masih belasan tahun, belum dewasa. Prabu Sumali melarang kedua anak Kumbakarna pergi ke medan laga. Dewi Kiswani pun  merasa berat hati untuk melepas kedua anaknya, lagi pula belum ada restu dari ayahnya, Kumbakarna. Akhirnya Prabu Sumali menolak pesan dari Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka marah marah, mengetahui perintahnya ditolak oleh kakeknya. Prabu Dasamuka akhirnya memerintahkan beberapa pasukan untuk menjemput kedua anak Kumbakarna. Prabu Sumali dan Dewi Kiswani dengan berat hati melepas Kumba Kumba dan Aswani Kumba menuju medan laga. Kedua anak Kumbakarnapun berangkat ke medan laga disertai dengan pasukan Perajurit Alengkadiraja. Bendera Alengka telah kelihatan memasuki daerah  pertahanan Swelagiri. Perajurit Pancawati telah bersiap siap untuk menerima kedatangan mereka. 
Dari penjaga perbatasan memberikan laporan kepada Anggada, bahwa prajurit Alengka dengan kekuatan penuh dibawah pimpinan sepasang anak kembar Kumbakarna, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah memasuki perbatasan pertahanan Suwelagiri.Anggada  dan Anila telah menunggu kedatangan para Senapati Alengka.Pasukan Alengka barisan terdepan telah siap meluncurkan panah api. Sementara itu Wibisana mengarahkaan anak panah hujan kelangit. Anak panah meluncur ke mega mendung, hujan pun turun dengan lebat. Panah Api perajurit Alengka bisa dilumpuhkan. Perangpun terjadi Pasukan raksasa melawan pasukan kera yang jumlahnya puluhan ribu, ditambah dengan pasukan dari Goa Kiskenda terus merangsek mundur pasukan Alengka. Sementara itu perajurit Alengka dan Pancawati minggir. Kini Panglima perang Alengka sepasang Raksasa muda anak Kumbakarna terpaksa melawan pasukan Pancawati. Anggada dan Anila menerima tantangan raksasa muda. Anggada melawan Kumba Kumba dan Anila melawan Aswani Kumba. Setiap kali Kumba Kumba tewas, kemudian Aswani Kumba melompatinya, Maka Kumba Kumba hidup kembali, demikian pula sebaliknya. Tenaga Anggada dan Anila terkuras habis, dan jatuh tidak berdaya. Beruntung Sugriwa dan Anoman segera menolongnya. Sugriwa teringat kepada kakaknya Resi Subali yang menceriterakan perang di Goa Kiskenda. Ketika melawan Prabu Maesasura dan Patih Lembusura yang juga memiliki kesaktian ganda bagai Kumba Kumba dan Aswani Kumba. Namun Sugriwa sudah terlalu tua untuk melawan mereka. Anoman bersedia menjadi lawan keduanya. Perkelahian antara kedua anak Kumbakarna dan Anoman begitu seru. Kedua anak Kumbakarna merasa percaya diri dapat mengalahkan para satria Pancawati. Ketika Anoman di tengah tengah diantara  Kumba Kumba dan Aswani Kumba dalam posisi berhadap hadapan, Tiba tiba Kumba Kumba dan Aswani Kumba bersemangat dengan kekuatan penuh menyerang bersama, Anoman menghindar dengan meloncat keatas, sehingga kepala mereka berbenturan dengan kerasnya, sehingga kepala mereka pecah, dan tewaslah anak anak Kumbakarna. 
Wibisana didalam hati menangisi kedua kemenakanya, yang tewas mengenaskan. Mengapa anak yang baru belasan tahun usianya, maju ke medan perang. Keduanya menjadi pahlawan Alengka yang dibanggakan.
Perabu Dasamuka semakin berduka dengan kematian Kumba Kumba dan Aswani Kumba. Kini saatnya tokoh Alengka yang tersimpan di Gunung Gohkarna, sudah saatnya harus dibangunkan dan berangkat ke medan perang mempertahankan Alengkadiraja, Pasukan Alengkadiraja dibawah komando langsung  Prabu Dasamuka telah berangkat menuju Gunung Gohkarna. Ikut dalam rombongan Tejamantri Togog dan Sarawita. Pasukan juga membawa makanan untuk Kumbakarna. Sesampai di tempat Kumbakarna bertapa, Prabu Dasamuka mmerintahkan para perajurit membangunkan Kumbakarna. Pasukan terompet, pasukan tambur dan pasukan meriam sampai dengan petasan bergantian membangunkannya. Namun Kumbakarna tidak merasa terusik sama sekali. Prabu Dasamuka menjadi kehabisan akal. Akhirnya Tejamantri Togog menghadap Prabu Dasamuka, bahwasanya ia bersedia membangunkan Kumbakarna kalau mendapat perintah dari Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka mengijinkan Tejamantri Togog untuk membangunknnya. Tekamantri Togog mendekati kaki Kumbakarna, dan dipeganginya jempol kaki kirinya, kemudian dicabut bulu (wulu cumbu) nya. Begitu tercabut, Kumbakarna langsung bangun, kedua tangan dan kedua kakinya menghentak keras sekali, sehingga tanah menjadi bergetar. Beberapa orang pasukan yang ada didekatnya, sempat terinjak dan terpukul oleh kedua tangan dan kedua kakinya. Kumbakarna merasa senang Prabu Dasamuka mau mendatanginya dan Prabu Dasamuka telah memberikan maaf kepada Kumbakarna. Makanan dan minuman diberikan kepada Kumbakarna. Makanan dan minuman Kumbakarna beberapa grobag pun habis. Setelah selesai makan dan minum, Prabu Dasamuka baru menjelaskan maksud kedatangannya. Kumbakarna terkejut ketika Prabu Dasamuka, memberi tahu kalau perang Alengka sudah terjadi. Saudara saudaranya. Sarpakenaka, anak anak Prabu Dasamuka serta patih Prahasta semuanya telah gugur. Juga anak anaknya sendiri, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah gugur pula di medan laga. 
Kumbakarna mendengar itu menjadi  marah luar biasa. Kumbakarna berteriak membahana, memecah kesunyian. Guntur, petir bersahut sahutan, burung burung dilangit saling bertubrukan,dan binatang binatang liar di hutan saling berlarian tidak tentu arah, binatang besar, gajah, banteng, singa dan macan, lari tunggang langgang dan jatuh terguling guling ke dalam jurang. Karena teriakan Kumbakarna menimbulkan gempa. Prabu Dasamuka pun menjadi terkejut pula. Akhirnya Kumbakarna memuntahkan makanan dan minuman  yang terlanjur masuk ke dalam  perutnya. Kumbakarna berpakaian putih putih dan berangkat ke medan laga membela tanah air dan membalas dendam kematian anak anaknya. Dan bukan karena membela Prabu Dasamuka yang angkara murka. Pasukan Alengka mengiringkan kepergian Kumbakarna ke medan perang. Prabu Dasamuka pulang ke Istana Alengkapura. Sedangkan Tejamantri Togog dan Sarawita pulang  ke Patogogan. Bendera hitam Alengka kelihatan berderet di perbatasan pertahanan Suwelagiri. Wibisana melihat kedatangan kakaknya Kumbakarna sebagai Senapati dengan berpakaian seorang brahmana, putih-putih. Wibisana segera menghampiri kakaknya. Wibisana menyayangkan kehadiran kakaknya, yang mau berkorban membela keserakahan Prabu Dasamuka. Kumbakarna memberitahukan, bahwa kedatangannya disini ingin bukan membela kakaknya Prabu Dasamuka, namun Kumbakarna ingin mempertahankan kemerdekaan negeri Alengkadiraja. Kumbakarna tidak menginginkan perang tetapi juga tidak menginginkan  negerinya di injak injak oleh musuh, Ia tidak ingin negerinya dijajah oleh negara lain. ia tidak akan membunuh siapapun. Ia kecewa sudah banyak korban dari Alengka yang tewas. Juga kedua anaknya, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah tewas.Ia hanya menginginkan Prabu Rama dan pasukannya kembali ke Pancawati. Wibisana dimintanya menyingkir, karena Kumbakarna akan segera menemui Prabu Rama,agar mereka segera kembali ke Pancawati. Kumbakarna memasuki wilayah pertahanan Prabu Rama. Pasukan kera langsung menyerbu Kumbakarna. Lengannya sudah ratusan kera menungganginya, menggigitnya dan mencakarnya, tapi Kumbakarna diam saja. Lengan yang satu juga ditunggangi ratusan kera, juga kepala, juga muka, juga leher, juga punggung, juga perut, juga paha, juga kaki. Mereka menggigit, mencakar dan merobek robek kulit Kumbakarna.Dalam waktu sekejap Kumbakarna menjadi gunung kera.  Tidak ada satu bagian tubuh Kumbakarna yang terlewatkan, semua sudah penuh kera kera.  
Walaupun sedemikian hati hatinya Kumbakarna, agar tidak melukai siapapun, tetapi tanpa sengaja Kumbakarna juga menginjak ratusan kera yang menghadang nya.Kumbakarna hanya ingin meminta kepada Prabu Rama, agar Prabu Rama kembali ke Pancawati. Prabu Rama ganti meminta agar Kumbakarna lah yang kembali ke istana Alengkadiraja. Sementara itu para Senapati Kera, Sugriwa, Anoman, Anggada dan Anila sudah mencegah Kumbakarna jangan mendekati Prabu Rama. Mereka memegangi kedua kaki Kumbakarna agar tidak melangkah lagi, tetapi keempat satria kera itu tidak berdaya, mereka berjatuhan, dan hampir hampir saja terinjak oleh kaki Kumbakarna.Tubuh Kumbakarna memang lebih besar dari raksasa yang lain, Kumbakarna memiliki ukuran tubuh beberapa kali ukuran raksasa biasa. Untuk membebaskan kesengsaraan Kumbakarna dari serangan para rewanda, Prabu Rama melepaskan panah Guwawijaya kepada Kumbakarna. Panah pertama memutuskan bahu sebelah kiri. Lengan tangan kiri Kumbakarna yang dikerubuti ratusan kerapun jatuh. Banyak kera  yang tewas tergencet lengan kiri Kumbakarna. Kumbakarna masih melangkah maju, Prabu Rama mengingatkan jangan maju lagi, namun Kumbakarna tetap melangkah. Prabu Rama pun melepaskan anak panah yang kedua. Putuslah bahu kanan Kumbakarna. Lengan kanan Kumbakarna yang dikerubut ratusan kerapun jatuh. Banyak kera yang tewas tergencet lengan kanan Kumbakarna. Kumbakarna terus melangkah. 
Prabu Rama melepas anak panah yang ketiga dan keempat kearah kedua kaki Kumbakarna. Kedua kaki Kumbakarna yang dikerubuti ratusan kerapunpun lepas dan jatuh menggencet pula para kera yang mengerubutnya dibawah kakinya.Tubuh Kumbakarna pun ambruk dan menjatuhi ribuan kera kera yang ada dibawahnya. Kini Kumbakarna tinggal tubuh dan kepalanya saja, yang wajahnya  sudah tidak berujud lagi. Kedua daun Telinga, hidung, mulut, kedua mata, Kumbakarna sudah tanggal semua. Kumbakarna menahan sakit, Kumbakarna yang tinggal kepala dan tubuhnya berguling guling kesakitan, dan tanpa sengaja banyak kera yang  tewas terlindas  oleh tubuh Kumbakarna. 
Prabu Rama merasa ngeri dengan keadaan Kumbakarna. Wibisana segera meminta pada Prabu Rama untuk menyempurnakan kematiannya. Prabu Rama yang kelima kalinya melepaskan anak panahnya keleher Kumbakarna. Kepala dan gembung Kumbakarna terpisah.Kumbakarna pun gugur. Kumbakarna gugur membela tanah airnya, bukan membela keangkara murkaan Prabu Dasamuka. Kumbakarna disambut  harum bunga melati yang turun dari langit. Tubuh  Kumbakarna yang semula terpotong potong,dan tercecer dimana mana, tiba tiba menyatu menjadi Kumbakarna yang utuh kembali. Kumbakarna bangkit kembali dan hilang dari pandangan mata. Rupanya Kumbakarna, moksha. Jiwa dan raga Kumbakarna diterima oleh dewa, dan ditempatkan di Swarga Pangrantunan.
Prabu Rama dan segenap punggawa terkesima dengan peristiwa itu. Terlebih lebih Wibisana, menangisi kepegian Kakaknya yang paling dicintainya.***
MOHON KOREKSINYA DALAM KOMENTAR

kumbakarna

kumbakarna

kumba kumba

kumba kumba

aswani kumba

aswani kumba