Rabu, 04 Juni 2014

KI NARTO SABDHO MENANGIS





KI NARTO SABDHO MENANGIS




Ki Narto Sabdho almarhum semula adalah seorang ‘pengrawit’ (pemain musik instrumen gamelan), khususnya sebagai pemain kendhang. Lama kemudian, beliau baru ‘madeg dadi dhalang’, dan boleh dikatakan sejak itu beliau lebih dikenal sebagai dhalang dibanding dengan sebagai pemain kendhang. Tetapi jika dicermati, karya-karya beliau sebenarnya bahkan lebih banyak sebagai pengrawit, dibandingkan dengan sebagai dhalang. Misalnya, beliau sangat banyak membuat lagu dolanan, garap gendhing, dan membuat gendhing versi baru.




Mencermati apa yang pernah dilakukan Ki Narto Sabdho almarhum selama hidupnya, akan merupakan bahan renungan dan diskusi panjang-lebar yang tak habis-habisnya. Tokoh dhalang yang satu ini, faktanya memang memegang peran yang sangat dominan sebagai pemicu perubahan gaya permainan pagelararan wayang kulit versi Jawa, yang dampaknya mulai sangat terasa pengaruhnya menjelang awal tahun 1970-an. Pada masa itu, banyak pihak yang tidak saja menentang Ki Narto Sabdho, bahkan memusuhi dan berusaha menyingkirkan; karena dia dipandang ‘nerak lan ngrusak pakem’. Dalam beberapa pagelaran yang dilakukan di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, bahkan beliau berulang kali mengalami pelecehan harkat, dihujat habis-habisan, atau dilempari saat melakukan pagelaran.




Tapi yang terjadi kemudian, adalah sebaliknya. Para gegeduk ‘pakar-pakar pakeliran wayang dan karawitan’ yang mengucilkan dan memusuhinya, ternyata malah berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat luas sangat mendukung dan menyukai gaya pagelaran Ki Narto Sabdho. Bahkan, pada sekitar tahun 1971, sebagai hasil dari suatu pelaksanaan survei (dilakukan terhadap masyarakat) tentang dhalang mana yang paling disukai, beliau dinyatakan sebagai dhalang paling populer di Indonesia. Situasi inilah yang dengan segera membalikkan sejarah! Sejak itu, gaya permainan Ki Narto Sabdho melanda dan mempengaruhi gaya permainan hampir seluruh pagelaran wayang kulit yang dimainkan oleh banyak dhalang lainnya tanpa bisa dibendung lagi. Kesukaan akan permainan Ki Karto Sabdho, bahkan masih menjalar sampai sekarang, meski pun beliau sudah lama meninggal. Dengar saja secara langsung atau lewat internet (pakai ‘streaming’), bagaimana kaset-kaset pagelaran wayang dengan dhalang Ki Narto Sabdho sampai sekarang masih sering amat terdengar mengudara dan sangat dinikmati oleh banyak pendengar siaran radio.




Pada masa sekarang, para pendengar siaran radio itu berasal dari dalam dan luar negeri. Hampir setiap malam, dari berbagai stasiun pemancar radio (secara langsung atau lewat internet) kita bisa mendengar kembali bagaimana kata, kalimat, tembang, sulukan, antawacana, janturan, serta drama kehidupan yang menyentuh emosi dan perasaan; yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho kepada para pendengarnya (bukan lagi kepada penontonnya). Bahkan tanpa gambar video apa pun, karena di masa itu pita kaset video sangat mahal harganya, rekaman pagelaran wayang Ki Narto Sabdho pada masa itu lebih banyak dikenal lewat pita kaset (merupakan rekaman suara tanpa gambar); mendengarkan rekaman suara pagelarannya saja sudah bisa membuat pendengarnya tercekam dan terhanyut emosi serta perasaannya……




Panggilan akrab penuh kasih sayang bagi Ki Narto Sabdho di kalangan para seniman karawitan jauh sebelum masa sekitar tahun 1970-an adalah ‘Mbah Narto’. Namun, di masa itu, ada panggilan (nick name) lain bagi Ki Narto Sabdho almarhum, yang entah dari mana asalnya, yang pasti saya meyakini bukan berasal dari kalangan seniman karawitan, yaitu panggilan ‘Narto Jaran’ (jaran = kuda). Mungkin panggilan itu mungkin bermula dari kegesitan Pak Narto saat memainkan wayang; atau, gesit dan liar saat mempermainkan emosi dan perasaan penontonnya. Suatu sebutan yang agak aneh, tetapi ya itulah kenyatanya…..




Sampai sekarang menurut saya belum ada yang bisa menggantikan atau menandingi Mbah Narto dalam bidang sanggit, drama, serta permainan emosi penonton. Mbah Narto masih yang terbaik. Dulu, pada sekitar tahun 1976 (saya agak lupa tahunnya), saya pernah nonton Mbah Narto grup Condong Raos-nya memainkan lakon ‘Samba Juwing’ (juga sering disebut lakon ‘Boma Gugur’ atau ‘Gojali Suta’) di Taman Mini, yang nonton pagelarannya banyak sekali, ada barangkali sekitar 20.000 orang. Saat itu, di sejumlah adegannya, banyak sekali penonton yang terharu, tercekam, dan menangis tersedu-sedu, seakan-akan apa yang diceritakan Mbah Narto itu adalah dirinya. Hal itulah yang banyak dinyatakan oleh penonton. “Kula kok karasa yen riwayate Boma niku kados riwayat urip kula,” begitu pernyataan beberapa penonton yang saya tanya sesaat setelah pagelaran berakhir di pagi hari, masih dengan bekas-bekas sembab dan bekas linangan air-mata di sisi-sisi matanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mbah Narto di rumahnya (pada sekitar tahun 1976), di Jl. Anggrek, Semarang; beliau bercerita bahwa lakon ‘Samba Juwing’ merupakan salah satu lakon yang paling disukainya. Karenanya, beliau seringkali membawakan cerita itu. Jauh lebih sering dari pada lakon-lakon lainnya.




Mengatur, mengendalikan, lalu  mempermainkan emosi dan perasaan penonton! Hal inilah yang sampai sekarang belum pernah saya lihat berhasil dilakukan oleh banyak dhalang masa kini (yang mana pun). Dhalang masa kini, kebanyakan hanya hura-hura, ramai, lucu (itu juga karena membawa pelawak, dhalangnya sendiri mungkin tidak terlalu lucu), banyak perangnya, banyak goyang campur-sarian-nya, banyak sindhen-nya, garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (yang amat membosankan dan sangat melelahkan telinga), penuh dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Kalau pun skenarionya bagus, kebanyakan tidak bisa membawa hanyut emosi dan perasaan penontonnya. Sedangkan pagelarannya sendiri seringkali tidak membuat penontonnya terbawa emosinya dan tidak membawa penontonnya memikir atau belajar sesuatu yang bersifat spiritual, sesuatu yang bersifat filosofis, atau sesuatu yang bersifat ajaran bagaimana hidup baik. Artinya, pagelaran wayang kulit purwa pada jaman sekarang, ditinjau dari segi itu, menjadi suatu pagelaran yang kering serta miskin ajaran dan tuntunan rohani.




Menurut saya, semacam ada doktrin atau anjuran, jika mau main wayang semalam suntuk, sebaiknya menerapkan hura-hura sepanjang malam, pokoknya ramai, tidak perlu lucu (kalau mau lucu ya bawa pelawak saja), sebanyak mungkin perangnya biar ramai, perbanyak goyang campur-sarian-nya biar penonton puas, banyak sindhen-nya dan hadapkan wajah mereka ke arah penonton biar wajah mereka bisa menarik perhatian penonton, buat garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (meski pun kenyataannya amat membosankan dan sangat melelahkan telinga, karena grafik garapnya selalu tinggi sepanjang malam), penuhi pagelaran dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan biarkan saja mengorbankan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Pola seperti inilah yang pada masa sekarang berkembang. Kenyataannya, pagelaran jaman sekarang lebih mengeksploitasi ‘naluri rendah manusia’, termasuk sangat mengeksploitasi hawa nafsu (maaf, ‘nafsu kebinatangan’), termasuk humor dan guyonan berbau sex, yang pada masa sekarang sangat banyak dieksploitasi untuk sekedar mengejar kesenangan ragawi penontonnya.




Pada sejumlah pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, kenyataannya penontonlah yang mengendalikan pagelaran, dan bukannya pagelaran yang mengendalikan penonton. Di Kota Bandung suatu ketika terjadi pagelaran wayang dengan dhalang yang sebenarnya bagus permainannya. Tetapi apa yang terjadi? Pas adegan Limbukan, penonton terang-terangan meminta dhalang supaya pagelaran dihentikan saja dan digantikan dengan adegan campur-sarian. Permintaan ini, dinyatakan dalam bentuk teriakan-teriakan, yang semakin lama semakin sering, semakin keras, dan semakin gegap gempita. Peri-laku biadab seperti ini, akhirnya membuat pak dhalang menyerah. Apa yang terjadi? Pagelaran pun dihentikan, lalu diganti dengan campur-sari, yang didukung sejumlah penari yang berlenggak-lenggok dengan seronok dengan gerak tubuh sensual, sehingga semua mata lelaki penonton dengan sangat bernafsu tertuju ke bentuk tubuh sexy yang dibalut pakaian super ketat sekelompok penari campur-sari itu. Sudah barang tentu, tidak pula terlupa disajikan lagu ‘Iwak Peyek’ yang memang sedang naik daun. Rasanya, para nayaga maupun penonton, sudah tidak ada lagi yang mempersoalkan apakah lagu-lagu yang mereka mainkan itu sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak. Cocok atau tidak, rupanya sudah tidak termasuk ke dalam bahan pertimbangan lagi. Bagi mereka kesenangan penonton menjadi target. Perasaan gamang atau mempertimbangkan estetika nada, rupanya sudah lenyap dari otak seluruh nayaga dan penonton. Mereka tidak lagi perduli, apakah nada lagunya sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak.




Waktu sudah menunjukkan jam 02.00 pagi, tetapi adegan Limbukan yang sudah ‘dikudeta’ dengan adegan campur-sarian belum juga selesai. Pak dhalang sempat nyeletuk: “La kalau campur-sarian terus, lalu kapan perangnya?”  Tapi penonton rupanya tidak perduli! Lagu demi lagu diminta penonton untuk terus dimainkan, lengkap dengan lemparan ‘saweran’ berupa lemparan-lemparan lembaran uang. Jam setengah tiga pagi, dengan terpaksa pak dhalang memaksa campur-sarian dihentikan. Pagelaran wayang pun diteruskan, dengan alur cerita yang sudah terlanjur rusak, karena sebenarnya waktu sudah menunjukkan saatnya memainkan ‘pathet manyura’, padahal saat itu pathet masih belum berubah. Jam setengah tiga pagi masih main ‘pathet nem’! Brengsek dan keterlaluan!




Begitu campur-sari berhenti pada jam setengah tiga pagi, penonton lalu bergegas berbondong-bondong meninggalkan ruang pagelaran. Lebih dari tiga per empat jumlah penonton, seketika bubar dan pulang, sementara pagelaran wayang tiba-tiba saja memperpendek waktunya sehingga dalam ukuran hanya beberapa puluh menit, dua pathet dilalui tanpa makna. Dan tidak lebih dari setengah jam kemudian, seluruh pagelaran wayang kulit purwa sudah benar-benar selesai. Pagelaran wayang sudah tidak bisa dinikmati lagi. Alur ceritanya sudah benar-benar rusak berat. Pak dhalang-nya pun hanya ‘ngelus dhadha’ saja. Begitu pula saya…..




Apakah pagelaran wayang kulit purwa seperti ini yang dikehendaki? Saya suka sekali nonton wayang kulit purwa. Saya juga amat sangat suka nonton jaipongan, dangdut, kliningan Sunda, atau kendhang pencak. Begitu juga sangat suka nonton campur-sari, sendra-tari, konser musik, jazz, atau blues. Tapi kalau nonton pertunjukan wayang kulit purwa yang dikudeta dan dicampur-adukkan dengan campur-sarian setengah malam suntuk, rasanya seperti mencampurkan roti yang terkenal sangat enak, mahal, dan nomor satu; dengan baso yang gurihnya luar biasa dan juga nomor satu; dicampur dengan tembakau rokok kretek merk terkenal yang kualitas ekspor, ditambahi potongan sepatu buatan Italia yang termasuk terbaik dan kelas dunia, yang juga nomor satu; serta celana dalam wanita model mutakhir yang sangat sexy, sensual, dan nomor satu cantiknya. Seluruh benda yang semuanya dikategorikan ‘nomor satu’ ini dicampur jadi satu, dimasak, lalu dihidangkan kepada kita. Jangan lupa, semuanya berkualitas tinggi, sedang naik daun, kelas dunia, kelas atas, dan nomor satu. Bagaimana rasanya? Sumpah demi setan dan iblis! Jangankan memakannya, melihatnya saja sudah membuat muak dan muntah……..!




Lalu pak dhalang yang sebenarnya malam itu jadi komandan atau panglima tertinggi pagelaran…. Apa kehormatan, martabat, dan harga diri seorang dhalang bisa dengan mudah dibeli dan dikorbankan begitu saja demi segepok rupiah bayaran? Bukankah dhalang adalah gurunya masyarakat? Jika seorang dhalang tidak sanggup mengendalikan penonton (caranya sih terserah), atau tidak sanggup menjadi gurunya masyarakat, ya lebih baik jangan berani-berani ‘madeg dadi dhalang’. Untuk apa jadi dhalang seperti itu, kalau perannya hanya menjadi pelengkap penderita, serta menjadi fasilitator penggerak nafsu dan naluri rendah manusia….?




Cobalah renungkan dengan bening. Pagelaran wayang dan pagelaran campur-sari sebenarnya sama bagusnya. Tetapi berubah menjadi pagelaran setan dan iblis, jika dicampur menjadi satu. Kalau memang penonton hanya mau campur-sarian, ya lebih baik melakukan pagelaran campur-sari semalam suntuk. Kalau perlu dengan sederetan penari telanjang sekalian. Tapi jangan memakai pagelaran wayang kulit purwa sebagai media dan melakukan manipulasi atau kebohongan publik, seakan-akan pagelaran malam itu adalah pagelaran wayang kulit purwa yang adi luhung, padahal nyatanya hanya merupakan pagelaran campur-sari yang mengekslopitasi nafsu dan naluri rendah manusia. Sementara pagelaran wayang kulitnya hanya sebagai pembuka dan penutup semata. Menyedihkan sekali dan menunjukkan kenyataan bahwa masyarakat kita memang bukan masyarakat yang berbudaya tinggi, tetapi sebaliknya merupakan masyarakat berbudaya rendah, yang dibalut dengan kebohongan, basa-basi, seakan-akan merupakan masyarakat berbudaya tinggi dan adi luhung. Ini merupakan ciri-ciri masyarakat munafik yang umumnya hanya dikenal sebagai penghuni negara-negara ‘terbelakang’, negara-negara tak berbudaya, bahkan sebagai masyarakat negara ‘under development’ pun tidak! Menyedihkan sekali…….




Jika saja Mbah Narto masih berada di antara kita, atau jika di alam sana beliau bisa mengamati apa yang terjadi saat ini, saya yakin sekarang beliau sedang menangis, melihat gaya pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa masa kini dan melihat ulah penonton pagelaran wayang kulit yang sama sekali tidak terkendali, dan malah berbalik mengkudeta serta mengendalikan dhalang pagelaran wayang kulit purwa, lalu mengubah pagelaran wayang kulit purwa yang edi peni dan adi luhung; menjadi sebuah pertunjukan penuh hura-hura, bergelimang nafsu, dan sama sekali tidak bermakna…..








Keluarga Ki Narto Sabdho beserta seluruh anggauta timnya, tinggal di Jl. Anggrek, dekat Simpang Lima, Kota Semarang. Pada masa jayanya, tim kesenian bentukan Ki Narto Sabdho terdiri dari dua tim kerja yang berbeda, yaitu tim yang mendukung pagelaran wayang kulit, bernama ‘Condong Raos’, dan tim yang mendukung pagelaran wayang orang ‘Ngesti Pandhawa’.








Ki Narto Sabdho almarhum, sampai akhir hayatnya, selalu membuat penontonnya terbawa emosi dan perasaannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar